Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kelaparan, Tradisi Berbagi dan Kembali ke Masjid

Kelaparan, Tradisi Berbagi dan Kembali ke Masjid
Gerakan Kembali ke Masjid Harus Jadi Garda Depan Melawan Kemiskinan (Foto: Shutterstock)
A
A
A

Tradisi lain yang bisa dilakukan, untuk menghindari adanya kelaparan di lingkungan kita adalah dengan menghidupkan masjid sebagai pusat peradapan masyarakat. Masjid tidak hanya sebagai pusat ibadah mahdloh, seperi sholat dan mengaji Alquran, tetapi juga harus menjadi pusat dalam ibadah yang terkait dengan hubungan sosial masyarakat.

Bagaimana caranya? Setidaknya ada dua. Pertama, saat ini, biasanya kotak amal di masjid hanya terkait dengan kotak amal untuk perawatan dan pembangunan masjid, atau kotak amal yang terkait dengan biaya rutin keperluan masjid. Ke depannya harus dipertimbangkan, ada satu kotak amal khusus untuk keperluan menyediakan makanan setiap hari di masjid.

Kotak itu, bisa ditempatkan di depan masjid yang mudah dijangkau oleh jama’ah atau oleh siapapun yang ingin bersodaqoh. Berapapun hasil dari kotak amal khusus tersebut, oleh pihak pengurusmasjid, dibelanjakan makanan untuk diberikan secara gratis kepada orang-orang yang membutuhkan.

Dalam konsep sederhana, di depan masjid disediakan meja atau tempat khusus untuk menaruh makanan, dan siapa pun yang sedang membutuhkan bisa mengambilnya. Tradisi ini apabila dilakukan secara terus menerus, dalam jangka panjang akan mengubah persepsi masyarakat. Apabila ada orang yang sedang kelaparan di lingkungan tersebut, atau kalau ada orang dalam perjalananan yang kelaparan dan tidak memiliki uang, maka ingatan pertama mereka adalah mencari masjid terdekat.

Kedua, dengan memberi imbauan kepada para jamaah atau masyarakat di dekat masjid, untuk melakukan zakat maal ke masjid-masjid terdekat. Hal tersebut saat ini sudah dilakukan, di mana setiap bulan puasa, para pengurus masjid menerima zakat maal dan zakat fitrah untuk selanjutnya disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Untuk zakat fitrah, sudah berjalan efektif. Namun untuk zakat maal, rasanya masih perlu terus didorong agar masyarakat mau membayarkan zakat maal-nya melalui pengurus masjid terdekat.

Mengapa ke Masjid? Karena harus diakui bahwa pengurus masjid lebih mengetahui kondisi masyarakat sekitarnya. Para pengurus masjid, di banyak tempat, biasanya juga adalah tokoh masyarakat yang juga aktif di kepengurusan Rukun Tetangga (RT) atau Rukun Warga (RW) yang day to day mengetahui secara persis siapa-siapa warga di sekitarnya yang membutuhkan dan sedang “kelaparan”.

Oleh karenanya, gerakan kembali ke masjid sebagai garda terdepan dalam mengentaskan kemiskinan dan kelaparan harus terus di dorong, apalagi dalam bulan puasa yang penuh berkah ini. Wallahu A'lam Bishawab.

Oleh : Abdul Ghoffar Husnan

Sekretaris Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP-ISNU) 2018-2023. Alumni Pondok Pesantren Ihyaul Ulum, Dukun, Gresik.

(Muhammad Saifullah )

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement