Al Razi, Ilmuwan Muslim Penemu Campak dan Dokter Anestesi Pertama di Dunia

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 12 Mei 2020 12:15 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 12 614 2212806 al-razi-ilmuwan-muslim-penemu-campak-dan-dokter-anestesi-pertama-di-dunia-Wb7D4ody1i.jpg Al Razi. (Foto: Wikimedia Commons)

AL Razi bernama lengkap Abu Bakr Muhammad Ibn Zakariya Al Razi. Ia merupakan Muslim cerdas di abad ke-9. Lahir di Rayy, kini lebih dikenal dengan nama Tehran, Iran, pada tahun 865 H.

Sejak belia dia terkenal sebagai anak yang cerdas. Itu dibuktikan saat dirinya mengenyam pendidikan dalam banyak bidang keilmuan, kedokteran umum, filsafat, kimia, musik, dan matematika. Karena banyaknya ilmu yang ia kuasai, Al Razi dikenal sebagai Rhazes di Barat.

Ilmu tersebut ia pelajari dengan sungguh-sungguh dan menjadikan ia sebgaai salah seorang ilmuwan Muslim terkenal dunia. Menurut laman TRT World, Al Razi menulis 224 buku tentang berbagai subjek.

al razi

Tapi satu buku yang paling terkenal ialah Al Hawi fi al Tibb atau ensiklopedia medis yang dikenal sebagai Liber Continens Europe, yang menjadi rujukan utama bagi kemajuan ilmiah masyarakat Eropa.

Saat menulis buku tersebut, ia mensurvei pengobatan Yunani, Suriah, dan Arab, serta beberapa pengetahuan medis India. Sehingga, apa yang ia tuliskan menjadi sangat luas dan akhirnya jadi pedoman utama banyak institusi pendidikan di Eropa.

Hal yang mesti Anda ketahui ialah Al Razi adalah sosok dibalik terciptanya asam sulfat. Ini bisa ia temukan berkat ilmu kimia, matematika, dan kedokteran yang ia kuasai.

Pemahamannya pada dunia kedokteran juga mendorongnya untuk menulis monograf pertama tentang pediatri, yang dikenal dalam bahasa Latin sebagai Practica Puerorum. Monograf ini menjelaskan dengan detil apa itu cacar dan campak.

Tidak berhenti di situ, Al Razi juga merupakan seorang pelopor neuroanatomi dan neurologi terapan. Bahkan, menurut beberapa sumber terpercaya, Al Razi juga menguasai penyakit mental.

Pengetahuan mendalam Al Razi tentang berbagai keilmuan membuatnya mendapat reputasi, sebagai salah seorang dokter terhebat di masanya. Ia pun menyediakan beasiswa untuk masyarakat dari berbagai daerah dan latar belakang.

Dalam dunia kimia, Al Razi menjelaskan penyebab dan konsekuensi dari beberapa reaksi kimia. Ia juga mampu menggambarkan 20 elemen yang dapat diterapkan untuk menyelidiki bahan kimia.

Kemudian, dalam dunia biologi, ia mengembangkan sistem klarifikasi primitif dan membagi zat menjadi hewani, nabati, dan mineral yang membuka jalan bagi kimia organik dan anorganik.

Dalam bidang neurologi, Al Razi adalah sosok di balik pernyataan saraf memiliki fungsi motorik atau sensorik. Selain itu, ia juga menggambarkan tujuh saraf cranial dan 31 tulang belakang. Bahkan, Al Razi tahu tugas urutan numerik langsung dari optik ke saraf hypoglossal.

Lebih lanjut, dalam bukunya yang inovatif yang disebut Kitab al Hawi dan Al Mansuri Fi At-Tibb, Al Razi menunjukkan kemampuan luar biasa untuk melokalisasi lesi, menjelaskan pilihan terapi, dan melaporkan pengamatan klinis sambil menekankan korelasi antara lokasi anataomi lesi dan tanda-tanda klinis.

Dalam dunia bedah, Al Razi adalah dokter pertama di dunia yang menggunakan opium sebagai anestesi. Kemampuannya yang luar biasa tentang anatomi saraf kranial dan saraf tulang belakang, membuat dirinya mampu melokalisasi lesi pada sistem saraf.

Selain itu, ia pertama kali secara jelas memisahkan dan mengenali gegar otak, dari kondisi neurologis serupa lainnya.

Al Razi juga dikenal sebagai dokter dermawan. Ya, dia adalah dokter pertama yang malah memberi bekal sejumlah uang setelah pasien dinyatakan sembuh dan bisa pulang ke rumah. Uang tersebut dimaksudkan Al Razi sebagai bekal mendesak saat pasien kembali ke rumah.

Konsep yang diterapkan Al Razi ini, kemudian melahirkan apa yang sekarang biasa kita kenal dengan istilah permohonan untuk perawatan jiwa, setelah dirawat di rumah sakit.

Namun, dari banyaknya penghargaan luar biasa di bidang kedokteran, kimia, dan biologi, karya filosofinya banyak diabaikan selama berabad-abad. Sampai akhirnya pada abad ke-20, karya Al Razi akhirnya mendapat panggung dunia.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini