Memahami Ulang Makna Kesalehan Sosial

Minggu 17 Mei 2020 04:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 17 330 2215256 memahami-ulang-makna-kesalehan-sosial-8nir3oIVal.JPG Memahami Ulang Makna Kesalehan Sosial (Foto: Mydonate)

Selama ini sering dikatakan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan kesalehan ritual, tetapi juga kesalehan sosial. Dalam Alquran sendiri, yang kedua bahkan lebih mendapat perhatian daripada yang pertama.

Konon kalau ada satu ayat Alquran yang berbicara mengenai ritual, maka akan ada 100 ayat yang berbicara masalah sosial. Demikian pula dalam hadits. Dalam Sahih Muslim, salah satu kitab hadits yang utama, jumlah hadits yang membahas soal kemasyarakatan 3 kali lipat lebih banyak daripada yang mengatur perkara ibadah ritual.

Pertanyaannya kemudian adalah apa sesungguhnya makna sosial dalam kesalehan sosial itu? Apakah ia mengacu pada relasi-relasi antar individu dalam masyarakat atau lebih daripada itu? Lalu terutama di bulan Ramadhan yang kali ini terasa istimewa karena adanya wabah virus corona, bagaimana sebaiknya kita menerapkan kesalehan sosial agar lebih relevan?

(Baca Juga : Pesan Damai Malam Lailatul Qadar)

Dari sejumlah penafsiran yang berkembang, makna sosial dalam kesalehan sosial memang masih terbatas pada relasi-relasi antar individu dalam masyarakat. Yang diutamakan adalah tolong menolong antar sesama sebagaimana diperintahkan dalam Q. S. Al-Maidah ayat 2, ta’awanu ‘alal birri wa at-taqwa. Secara lebih kongkret, tolong menolong itu diwujudkan dalam bentuk bantuan atau santunan dari mereka yang lebih mampu kepada mereka yang kekurangan.

Penafsiran tersebut memang tidak salah, tetapi terasa kurang khususnya di era pandemi sekarang. Apa yang dilakukan dalam bentuk bantuan atau santunan pada dasarnya masih berpusat pada individu. Yang tampil ke permukaan lebih merupakan keteladanan orang per orang yang budiman, bukan solidaritas masyarakat secara keseluruhan.

Kalau mau menerjemahkan kesalehan sosial sebagai solidaritas sosial, maka kiranya kita perlu menaikkan makna sosial ke ranah yang lebih struktural. Yang harus didorong bukan hanya kedermawanan, melainkan perjuangan untuk mengubah tatanan agar lebih berkeadilan. Hasil akhir yang diharapkan adalah terciptanya kesetaraan sosial dalam masyarakat.

(Baca Juga : Mbah Moen: Kebangkitan Islam akan Datang dari Negara Penghasil Biji-bijian)

Untuk mengerti kompleksitas kata sosial dalam istilah kesalehan sosial, barangkali kita perlu menengok literatur filsafat politik. Dalam The Human Condition (1958), misalnya, Hannah Arendt mewanti-wanti adanya kemerosotan makna “yang sosial” (the social) dalam masyarakat modern.

Di tengah agresi rezim administratif dan nalar instrumental negara-negara industrial, kata Arendt, arti yang sosial mengalami perpisahan dari politik. Ia kemudian lebih merujuk pada relasi-relasi antar individu, tidak jarang bersifat transaksional, yang tidak bersinggungan dengan kehidupan publik.

Rasanya peringatan Arendt lebih dari setengah abad lalu itu cukup berguna bagi kita sekarang untuk memahami ulang makna kesalehan sosial. Dengan demikian, alih-alih mengharapkan individu sebagai satu-satunya pelaku yang harus menjalankan kesalehan, mengapa kita tidak pernah menunjuk lembaga, dalam hal ini terutama adalah negara, sebagai pihak yang juga semestinya terlibat dalam hal itu.

(Baca Juga : Mualaf Jual Mobil & Rumah untuk Sedekah, Gus Miftah: Izinkan Kami Meneladanimu)

Jadi, yang harus saleh secara sosial itu bukan hanya individu orang per orang, tetapi juga kolektivitas politik yang bernama negara. Dengan ini pula perpisahan antara “yang sosial” dan “yang politik” seperti dikhawatirkan oleh Arendt bisa dicegah.

Sejatinya kesalehan sosial negara bukan omong kosong jika kita melihat eksperimen negara kesejahteraan (welfare state). Lebih daripada sekadar penjaga malam, negara aktif dalam memastikan semua warganya mendapatkan kebutuhan (needs) dan haknya (rights).

Termasuk dalam hal ini adalah jaminan layanan kesehatan dan pendidikan yang layak. Terlebih lagi di saat wabah pandemi sekarang ketika banyak orang mengalami kesakitan dan kehilangan pekerjaan, negara mestinya semakin saleh. Kalau yang terjadi malahan sebaliknya, maka dosa yang ditanggungnya pun bisa berlipat ganda. Semoga negara kita terhindar dari hal ini.

Oleh : Amin Mudzakir

Pengurus PP ISNU dan Peneliti LIPI

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya