Lailatul Qadar, Mungkinkah Semua Orang Mendapatkannya?

Senin 18 Mei 2020 00:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 17 330 2215459 lailatul-qadar-mungkinkah-semua-orang-mendapatkannya-sCw8ebtAAB.jpg

Siapa yang tidak mau ibadah yang dilakukannya semalam sama nilainya dengan ibadah selama 83 tahun 4 bulan? Tentu ini jauh lebih ‘menggiurkan’ daripada kerja semalam digaji layaknya kerja 83 tahun 4 bulan. Bahkan tak bisa dibandingkan sama sekali, karena yang pertama ukhrawi sementara yang kedua duniawi. Belum lagi doa di malam lailatul qadar sangat potensial –kalau bukan sesuatu yang pasti- untuk dikabulkan.

Tapi kebanyakan orang ingin sesuatu yang instan. Kalau bisa dipermudah mengapa mesti dipersulit. Begitu kira-kira slogan mereka. Walau ada juga yang punya slogan sebaliknya, kalau bisa dipersulit mengapa harus dipermudah.

Banyak orang suka jalan pintas. Daripada susah-susah ‘begadang’ sebulan penuh di malam-malam Ramadhan, akan lebih baik kalau kita cari tahu pada malam keberapa persisnya, atau setidaknya dugaan terkuatnya, lailatul qadar itu terjadi.

Bukalah kitab-kitab hadits. Yang paling mudah dijangkau adalah kitab Fathul Bari karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani –رحمه الله- yang dijuluki sebagai ‘kamus sunnah’. Ternyata, menurut Ibnu Hajar, ada lebih dari empat puluh (40) pendapat tentang kapan terjadinya lailatul qadr. Jumlah yang tidak sedikit untuk melakukan tarjih.

Ada pendapat yang menyatakan bahwa lailatul qadar hanya terjadi saat Alquran turun pertama kali. Sekali itu saja. Setelah itu tidak ada lagi. Ada yang mengatakan bahwa lailatul qadar terjadi sepanjang tahun, tidak hanya Ramadhan saja.

Pendapat lainnya menyebut tanggal-tanggal tertentu, seperti tanggal 17 Ramadhan (dan ini yang menjadi dasar kenapa peringatan Nuzul Quran diperingati setiap 17 Ramadhan), 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadhan. Bahkan ada pendapat yang menyebut tanggal-tanggal genap seperti 18, 20, 24 Ramadhan dan seterusnya.

Subhanallah… Ternyata ketika Allah –سبحانه وتعالى- ingin merahasiakan sesuatu, maka usaha apapun untuk ‘memastikannya’ hanya akan membuat sesuatu itu semakin kabur dan tidak terlacak.

Mirip dengan ini, ketika Rasulullah –صلى الله عليه وآله وسلم- menyebutkan bahwa pada hari Jumat ada satu ‘saat’ dimana doa yang dipanjatkan pada saat itu pasti dikabulkan Allah -سبحانه وتعالى-. Beberapa ulama mencoba ‘mencari tahu’ kapan saat yang mustajab itu. Alih-alih menemukan titik terang, yang terjadi justeru perbedaan pendapat yang mencapai angka 42 qaul sebagaimana diuraikan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari. Akhirnya ‘saat mustajab’ itupun tetap tidak terungkap. Malah menjadi semakin ‘kabur’.

Dari sini kita bisa menyimpulkan, ketika Allah –عز وجل- ingin merahasiakan ‘timing’ suatu peristiwa, maka jangan menyusahkan diri untuk mencari tahu kapan peristiwa itu akan terjadi. Yang ada bukannya menemukan titik terang, melainkan kita menjadi semakin bingung, dan membingungkan orang lain.

Walaupun demikian, mayoritas ulama lebih men-tarjih pendapat yang menyatakan bahwa lailatul qadar akan tetap terjadi pada Ramadhan setiap tahun (bukan hanya sekali saat Alquran turun pertama kali saja), dan ia akan terjadi pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan, terutama di malam-malam ganjil.

Ada pendapat yang sangat populer di kalangan ulama bahwa lailatul qadar terjadi pada malam 27 Ramadhan. Karena itu, biasanya di malam ini, di berbagai negara Arab, masyarakat berbondong-bondong meramaikan masjid untuk melaksanakan sholat tarawih berjamah dengan harapan bisa mendapatkan lailatul qadar.

Yang unik, ada sebuah riwayat yang dinisbahkan kepada Ibnu Abbas –رضي الله عنهما- . Ia memilih pendapat yang mengatakan lailatul qadar terjadi pada malam 27 Ramadhan dengan alasan yang unik. Ia menyatakan bahwa Allah –سبحانه وتعالى- menjadikan jumlah kata dalam surat al-Qadr sama dengan jumlah malam bulan Ramadhan, yaitu 30. Kata yang ke 27 dalam surat al-Qadr persis tiba pada kata: هي yang berarti: “dia-nya”. Ini menjadi isyarat bahwa lailatul qadr terjadi pada malam ke 27.

Di samping itu, kata ليلة القدر berjumlah 9 huruf. Ia diulang sebanyak tiga kali dalam surat ini. Maka, 9x3 = 27. Ini semakin menguatkan pendapat bahwa lailatul qadr terjadi pada malam 27 Ramadhan. Saya kira, kalau pendapat ini muncul dari ustadz-ustadz zaman sekarang, mungkin akan dibilang ‘cocoklogi’.

Syukurnya, Sayyid Abdullah bin Shiddiq al-Ghumari, seorang ulama terkenal dari Maroko, meragukan penisbahan pendapat ini kepada Ibnu Abbas –رضي الله عنهما-.

Terlepas dari kualitas riwayat-riwayat tersebut, sesungguhnya penentuan tanggal kapan lailatul qadr bertentangan dengan hikmah dirahasiakannya hal ini oleh Rasulullah –صلى الله عليه وآله وسلم-. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabarani dari Abdullah bin Unais –رضي الله عنه- , ia berkata, “Ya Rasulullah, beritahu padaku pada malam keberapa engkau mencari lailatul qadr?” Rasullah –صلى الله عليه وآله وسلم- menjawab:

لَوْلاَ أَنْ يَتْرُكَ النَّاسُ الصَّلاَةَ إِلاَّ تِلْكَ اللَّيْلَةَ لَأَخْبَرْتُكَ

“Kalaulah tidak karena khawatir manusia akan meninggalkan shalat, kecuali pada malam itu saja, pasti akan kuberitahukan padamu.”

Kalau demikian, bagaimana kita memahami berbagai riwayat yang menyebutkan tanggal terjadinya lailatul qadr secara spesifik? Imam Thahir bin ‘Asyur –رحمه الله- punya jawaban cerdas :

إن ما ورد في ذلك من الأخبار محتمل لأن يكون أراد به تعيينها في خصوص السنة التي أخبر عنها

“Boleh jadi yang dimaksud oleh hadits atau atsar tentang ini adalah tanggal terjadinya lailatul qadr pada tahun ketika hadits atau atsar tersebut disampaikan.”

Artinya, mungkin saja lailatul qadr pada tahun itu terjadi pada malam ke-27, 25, 23 dan sebagainya, karena memang menurut mayoritas ulama, lailatul qadr selalu berganti pada setiap tahun. Jadi kalau pada Ramadhan tahun 1440 H, lailatul qadr terjadi pada malam ke-27, misalnya, maka boleh jadi pada tahun berikutnya (tahun ini) terjadi pada malam ke-25, dan seterusnya.

Apakah ada tanda-tanda yang bisa dilihat secara kasat mata?

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Beberapa pendapat memang menyebutkan ada tanda-tanda tertentu yang bisa dilihat oleh orang yang diberikan kesempatan bertemu dengan malam mulia itu, di antaranya ia akan melihat pepohonan sujud, melihat cahaya yang sangat terang dan menyinari tempat-tempat yang gelap, mendengar salam dari malaikat, air asin terasa tawar dan lain sebagainya.

Tapi pendapat ini dibantah oleh Imam Thabari –Syaikhul Mufassirin-. Ia mengatakan:

إخفاء ليلة القدر دليل على كذب من زعم أنه يظهر في تلك الليلة للعيون ما لا يظهر في سائر السنة، إذ لو كان ذلك حقّا لم يخف على كل من قام ليالي السنة فضلا عن ليالي رمضان

Dirahasiakannya lailatul qadr menjadi bukti kebohongan orang-orang yang mengklaim bahwa pada malam itu akan tampak sesuatu yang tidak biasa. Karena, kalau hal itu benar, pasti tanda-tanda itu akan dilihat oleh setiap orang yang melakukan qiyam di setiap malam sepanjang tahun, terutama mereka yang melakukan qiyam di seluruh malam-malam Ramadhan.

Bantahan Imam Thabari ini dibantah lagi oleh Imam Ibnu al-Munayyir, salah seorang pensyarah Shahih Bukhari. Ia tidak setuju jika orang yang berpendapat bahwa ada tanda-tanda yang bisa dilihat oleh orang yang bertemu lailatul qadar disebut sebagai pembohong. Karena boleh jadi, mendapatkan malam mulia ini memang sebuah karamah yang diberikan Allah kepada orang-orang tertentu saja.

Tapi ia menegaskan, ini tidak berarti bahwa orang yang tidak melihat tanda-tanda tersebut berarti tidak mendapatkan lailatul qadr. Karena boleh jadi ada orang yang melakukan qiyam pada malam lailatul qadar tapi ia tidak melihat tanda sama sekali, karena ia fokus pada ibadah. Sementara ada orang yang mungkin saja melihat tanda-tanda tersebut tapi ia tidak beribadah sama sekali. Tentu orang pertama lebih baik dari orang kedua. Karena yang menjadi ukurannya adalah ibadah bukan melihat tanda-tanda.

Karena itulah al-Hafizh Ibnu Hajar lebih cenderung mengatakan bahwa tanda-tanda lailatul qadar itu tidak terlihat kecuali setelah malam itu berlalu (di pagi hari), sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Ubay bin Ka’ab bahwa pada pagi lailatul qadr matahari akan bersinar dengan lembut, tidak panas terik.

Kalau demikian, apakah seseorang harus tahu kalau malam itu adalah lailatul qadr untuk mendapatkan keutamaannya? Ada dua pendapat dalam hal ini.

Pendapat pertama mengatakan tidak mesti. Seseorang tetap dikatakan mendapatkan lailatul qadar meskipun ia tidak tahu kalau malam itu adalah lailatul qadar. Di antara ulama yang berpendapat begini adalah Imam Thabari, al-Muhallab, Ibnu al-‘Arabiy dan beberapa ulama lainnya –رحمهم الله-.

Pendapat kedua mengatakan mesti. Menurut Ibnu Hajar, inilah pendapat kebanyakan ulama. Diantara dalil yang menguatkan pendapat mereka adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah –رضي الله عنه-, Rasulullah –صلى الله عليه وآله وسلم- bersabda:

مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَيُوَافِقُهَا إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ

“Siapa yang qiyam pada malam lailatul qadr, dan itu memang pas dengan malam itu, dengan didasarkan kepada keimanan dan keikhlasan, maka dosanya akan diampuni.”

Imam Nawawi mengatakan bahwa makna ‘يُوَافِقُهَا ‘ dalam hadits tersebut adalah ia tahu kalau malam itu adalah lailatul qadar. Namun, Ibnu Hajar mengatakan bahwa kata ini sesungguhnya sebagai tambahan penjelasan saja, karena seseorang tidak dikatakan mendapatkan lailatul qadr kalau bukan pada malam itu adalah lailatul qadr yang sesungguhnya. Jadi, baik ia tahu maupun tidak, kalau benar malam itu adalah malam lailatul qadr dan ia melaksanakan qiyam di malam itu, maka ia tetap mendapatkan keutamaan dan pahalanya yang banyak.-----

Implikasi dari perbedaan pendapat ini adalah apakah setiap orang yang melakukan qiyam di setiap malam Ramadhan, terutama pada sepuluh terakhir, pasti mendapatkan lailatul qadr?

Berdasarkan pendapat Imam Thabari, al-Muhallab, Ibnu al-‘Arabiy dan beberapa ulama lainnya, maka setiap orang yang melakukan qiyam pada seluruh malam Ramadhan, apalagi sepuluh malam terakhir, pasti akan mendapatkan lailatul qadr, meskipun ia tidak tahu kalau malam itu adalah lailatul qadar.

Hal ini diperkuat oleh hadits (maqthu’) yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwaththa` dari Sa’id bin Musayyab –رحمه الله-, ia berkata:

من شهد العشاء ليلة القدر فقد أخذ بحظه منها

“Siapa yang menghadiri shalat Isya (secara berjamaah) pada malam lailatul qadr berarti ia telah mengambil bagiannya dari malam itu.”

Juga hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah –رضي الله عنه- :

من صلى العشاء الآخرة جماعة فى رمضان فقد أدرك ليلة القدر

“Siapa yang shalat Isya secara berjamaah di bulan Ramadhan maka sungguh ia telah mendapatkan lailatul qadr.”Hadits ini diriwayatkan oleh Abu asy-Syekh al-Ashbahani. Sayang, sanadnya lemah.

Sementara menurut pendapat kebanyakan ulama, termasuk diantaranya Imam Nawawi, tidak semua orang yang beruntung mendapatkan lailatul qadr meskipun ia melakukan qiyam setiap malam di bulan Ramadhan.

Hanya orang-orang pilihan saja yang akan beroleh malam penuh berkah itu. Bukti mereka memperolehnya adalah ketika mereka melihat tanda-tandanya. Oleh karena itu, boleh jadi ada dua orang yang sama-sama melakukan qiyam pada malam terjadinya lailatul qadr, tapi yang satu mendapatkannya sementara yang satu lagi tidak. Jadi ini lebih bersifat karamah yang diperuntukkan Allah –عز وجل- bagi hamba-hamba-Nya pilihan.

Dari sini maka Imam as-Subki mengatakan, siapa yang diberi karunia mendapatkan lailatul qadr, dengan melihat tanda-tandanya, sebaiknya ia merahasiakan hal itu dan tidak membeberkannya pada siapapun. Karena ini adalah karamah, dan sebuah karamah tidak semestinya disampaikan pada siapapun untuk menjaga diri dari ‘ujub, riya, sibuk melihat karamahnya sehingga melupakan Sang Pemberi karamah, atau kemungkinan akan ada orang yang dengki (hasad), dan seterusnya.

Berapa lama rentang waktu lailatul qadar?

Mencermati pendapat kebanyakan ulama, yang didukung oleh banyak hadits, bisa disimpulkan bahwa lailatul qadar itu terjadi dalam rentang waktu yang relatif singkat. Tentu hanya Allah yang tahu berapa lamanya. Oleh karena itulah maka amal yang paling utama di malam tersebut adalah berdoa. Sayyidah Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah –صلى الله عليه وآله وسلم- jika ia bertemu dengan lailatul qadr, apa yang sebaiknya ia baca. Rasulullah –صلى الله عليه وآله وسلم- menjawab:

قولي : اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

“Ucapkanlah, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”

Alasan lainnya, kalau lailatul qadr terjadi sepanjang malam tentu Nabi –صلى الله عليه وآله وسلم- tidak akan memerintahkan kita untuk bersungguh-sungguh dan selalu waspada dalam mencarinya. Nabi –صلى الله عليه وآله وسلم- menyampaikan ini dengan kalimat:

فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ

“Siapa yang benar-benar ingin mencarinya maka sungguh-sungguhlah mencarinya pada tujuh malam terakhir.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tentu beda antara kata تحرى dengan kata بحث .

Namun pendapat lain menyatakan bahwa lailatul qadr berlangsung sepanjang malam. Sesuai dengan namanya yaitu ‘malam’, bukan ‘sepotong malam’. Berarti ia malam secara utuh dan penuh. Apalagi dua ayat terakhir dalam surat al-Qadr juga memberikan isyarat kepada hal ini:

تنزل الملائكة والروح فيها بإذن ربهم من كل أمر (4) سلام هي حتى مطلع الفجر (5)

“Para malaikat bersama Ruh (Jibril) turun pada malam itu dengan izin Tuhan mereka dari (untuk mengatur) semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.”

Imam Thahir bin Asyur –رحمه الله- dalam tafsirnya Tahrir wa Tanwir mengatakan :

ويستفاد من غاية تنزل الملائكة فيها، أن تلك غاية الليلة وغاية لما فيها من الأعمال الصالحة التابعة لكونها خيرا من ألف شهر، وغاية السلام فيها.

Dari keterangan tentang ‘batas akhir’ turunnya para malaikat pada malam itu dapat disimpulkan bahwa batas yang dimaksud adalah batas malam lailatul qadr, sekaligus batas amal-amal shaleh yang nilai pahalanya lebih baik dari seribu bulan, dan juga batas kedamaian yang akan dirasakan pada malam itu.

Jadi, rentang lailatul qadr itu dari sejak awal malam sampai terbit fajar. Bahkan shalat Subuh pun masih masuk dalam batas ini.

Dengan berharap kepada kemurahan, kasih sayang, dan cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya, semoga pendapat ini yang lebih benar; bahwa lailatul qadar membentang sejak azan Maghrib berkumandang hingga shalat Subuh selesai dilaksanakan.

وما ذلك على الله بعزيز ، وهو على ما يشاء قدير

Maka, pesan untuk penulis dan pembaca tulisan ini –بارك الله فينا وفيكم- adalah :

1. Pada malam-malam yang tersisa ini, jangan sampai terlewatkan shalat Isya dan Subuh berjamaah, meskipun bersama keluarga di rumah.

2. Pada malam-malam yang tersisa ini, jangan sampai terlewatkan qiyam Ramadhan, baik tarawih, witir maupun tahajjud.

3. Pada malam-malam yang tersisa ini kita perbanyak membaca doa seperti yang telah diajarkan Baginda Rasulullah –صلى الله عليه وآله وسلم- kepada isterinya Sayyidah Aisyah –رضي الله عنها- .

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عنا

Ustadz Yendri Dompet Dhuafa

Oleh : Yendri Junaidi, Lc., MA

(Dai Ambassador Dompet Dhuafa)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya