Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Lailatul Qadar, Mungkinkah Semua Orang Mendapatkannya?

Lailatul Qadar, Mungkinkah Semua Orang Mendapatkannya?
A
A
A

Mencermati pendapat kebanyakan ulama, yang didukung oleh banyak hadits, bisa disimpulkan bahwa lailatul qadar itu terjadi dalam rentang waktu yang relatif singkat. Tentu hanya Allah yang tahu berapa lamanya. Oleh karena itulah maka amal yang paling utama di malam tersebut adalah berdoa. Sayyidah Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah –صلى الله عليه وآله وسلم- jika ia bertemu dengan lailatul qadr, apa yang sebaiknya ia baca. Rasulullah –صلى الله عليه وآله وسلم- menjawab:

قولي : اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

“Ucapkanlah, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”

Alasan lainnya, kalau lailatul qadr terjadi sepanjang malam tentu Nabi –صلى الله عليه وآله وسلم- tidak akan memerintahkan kita untuk bersungguh-sungguh dan selalu waspada dalam mencarinya. Nabi –صلى الله عليه وآله وسلم- menyampaikan ini dengan kalimat:

فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ

“Siapa yang benar-benar ingin mencarinya maka sungguh-sungguhlah mencarinya pada tujuh malam terakhir.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tentu beda antara kata تحرى dengan kata بحث .

Namun pendapat lain menyatakan bahwa lailatul qadr berlangsung sepanjang malam. Sesuai dengan namanya yaitu ‘malam’, bukan ‘sepotong malam’. Berarti ia malam secara utuh dan penuh. Apalagi dua ayat terakhir dalam surat al-Qadr juga memberikan isyarat kepada hal ini:

تنزل الملائكة والروح فيها بإذن ربهم من كل أمر (4) سلام هي حتى مطلع الفجر (5)

“Para malaikat bersama Ruh (Jibril) turun pada malam itu dengan izin Tuhan mereka dari (untuk mengatur) semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.”

Imam Thahir bin Asyur –رحمه الله- dalam tafsirnya Tahrir wa Tanwir mengatakan :

ويستفاد من غاية تنزل الملائكة فيها، أن تلك غاية الليلة وغاية لما فيها من الأعمال الصالحة التابعة لكونها خيرا من ألف شهر، وغاية السلام فيها.

Dari keterangan tentang ‘batas akhir’ turunnya para malaikat pada malam itu dapat disimpulkan bahwa batas yang dimaksud adalah batas malam lailatul qadr, sekaligus batas amal-amal shaleh yang nilai pahalanya lebih baik dari seribu bulan, dan juga batas kedamaian yang akan dirasakan pada malam itu.

Jadi, rentang lailatul qadr itu dari sejak awal malam sampai terbit fajar. Bahkan shalat Subuh pun masih masuk dalam batas ini.

Dengan berharap kepada kemurahan, kasih sayang, dan cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya, semoga pendapat ini yang lebih benar; bahwa lailatul qadar membentang sejak azan Maghrib berkumandang hingga shalat Subuh selesai dilaksanakan.

وما ذلك على الله بعزيز ، وهو على ما يشاء قدير

Maka, pesan untuk penulis dan pembaca tulisan ini –بارك الله فينا وفيكم- adalah :

1. Pada malam-malam yang tersisa ini, jangan sampai terlewatkan shalat Isya dan Subuh berjamaah, meskipun bersama keluarga di rumah.

2. Pada malam-malam yang tersisa ini, jangan sampai terlewatkan qiyam Ramadhan, baik tarawih, witir maupun tahajjud.

3. Pada malam-malam yang tersisa ini kita perbanyak membaca doa seperti yang telah diajarkan Baginda Rasulullah –صلى الله عليه وآله وسلم- kepada isterinya Sayyidah Aisyah –رضي الله عنها- .

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عنا

Ustadz Yendri Dompet Dhuafa

Oleh : Yendri Junaidi, Lc., MA

(Dai Ambassador Dompet Dhuafa)

(Muhammad Saifullah )

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement