Lebaran Itu Tidak Ada

Senin 25 Mei 2020 09:30 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 25 330 2219175 lebaran-itu-tidak-ada-J1usZSGS4o.jpg

SUATU ketika, Nabi Muhammad SAW menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga satu persatu. Lama ia beranjak dari satu anak tangga ke anak tangga berikutnya. Sahabat yang duduk paling depan mendengar beliau mengucapkan “Amin” di setiap anak tangga yang dipijaknya. Tiga kali.

Di anak tangga pertama, Beliau mengucap, “Amin.” Di anak tangga kedua, “Amin” lagi yang diucapkannya. Di anak tangga ketiga, beliau menutupnya pula dengan “Amin.” Lepas khutbah, sahabat di barisan depan itu bertanya, “Engkau mengucapkan ‘Amin’ tiga kali. Ada apakah gerangan?”

Nabi Muhammad SAW kemudian bercerita tentang Jibril yang datang kala itu. “Jibril berdoa,” katanya, “Celakalah orang yang menjumpai Ramadhan lalu dosa-dosanya tidak diampuni”. Maka, aku menjawab: “Amîn”. Ketika aku menaiki tangga mimbar kedua maka ia berkata: “Celakalah orang yang disebutkan namamu di hadapannya lalu tidak mengucapkan shalawat kepadamu”. Maka aku menjawab: “Amîn”.

Ketika aku menaiki anak tangga mimbar ketiga, ia berkata: “Celakalah orang yang kedua orang tuanya mencapai usia tua berada di sisinya, lalu keduanya tidak memasukkannya ke dalam surga”. Maka aku jawab: “Amîn”.

(Baca Juga : Tanda-Tanda Orang Diterima Puasanya oleh Allah SWT)

Cerita Rasulullah dan doa-dia yang diaminkannya itu membawa kita balik ke relung terdalam hati masing-masing. Menangkah kita, sukseskah kita? Terhapuskah dosa-dosa kita? Atau justru celakakah kita?

Lebaran kini menyimpan harapan kemenangan dan kesuksesan yang entah sungguhan atau fatamorgana. Kita menyiapkan pernak-perniknya dengan gegap gempita seperti kita telah tahu misteri masa depan selalu berupa kegembiraan dan kebahagiaan. Padahal, boleh jadi Lebaran tak pernah ada. Hari raya itu tak pernah datang. Kegembiraan itu fatamorgana belaka.

Jauh dari perayaan fisik dan materinya, Lebaran itu dijanjikan Allah SWT, lewat lisan Nabi Muhammad SAW, sebagai kegembiraannya orang-orang yang berpuasa. Farhataani, dua kegembiraan bagi para penempuh puasa.

Farhatun ‘inda fitrihi, kegembiraan ketika ia mencapai ujung pembukanya. Bukan karena telah selesai, bukan pula karena kewajiban yang sudah tunai. Kegembiraan itu datang karena ampunan yang Allah SWT obral sepanjang Ramadhan telah habis kita beli, kita borong dan kita bawa pulang ke rumah batin kita.

(Baca Juga : Begini Cara Sholat Subuh Jika Bangun Kesiangan)

Jika kegembiraan kita adalah kesenangan berbuka, lepasnya kewajiban, dan hilangnya dahaga sepanjang siang belaka, Lebaran itu benar-benar tidak ada. Ia sekadar fatamorgana. Indah dari kejauhan, dari tampilan dunianya, tetapi tak menjawab apapun dari kerisauan batin ketika berhadapan dengan Allah SWT nanti. Karena kegembiraan kedua yang kita nantikan dari puasa itu, farhatun ‘inda liqaa-a rabihi, kegembiraan ketika bersua dengan Allah SWT.

Puasa yang dibawa serta di pundaknya untuk disodorkan kepada Allah SWT: ini persembahanku untuk-Mu, ini buah cintaku kepada-Mu, ini yang Engkau sebut ibadah kemesraan antara diriku dan diri-Mu saja, dan ini yang tidak akan aku ambil sedikitpun darinya karena Engkau sudah mengklaim bahwa puasaku ini hanyalah untuk-Mu –bukan untukku, bukan untuk keluargaku, bukan untuk kelompokku, bukan untuk pengikutku, bukan untuk followers-ku, bukan untuk stasiun televisiku.

Kecelakaan besar itu adalah ketidakmampuan kita berintrospeksi di sepanjang jalan kembali menuju Allah SWT. Jika Ramadhan demi Ramadhan adalah perhentian kita, stasiun-stasiun pengembaraan, puasa menjadi guyuran air yang membersihkan noda dan kotoran sepanjang jalan.

Ramadhan itu lokus istirahat, tempat mengisi ulang baterai iman, dan persinggahan untuk menyusun peta jalan hidup lagi. Celaka bila kita keluar beranjak darinya, jiwa dan batin kita masih kotor, baterai iman kita masih soak, dan peta jalan hidup kita masih semrawut.

Kita hanya mampu ikut mengamini doa-doa Jibril, seperti Nabi Muhammad SAW mengamininya berbelas-belas abad yang lalu. Rugi dan celakalah kita bila Ramadhan kita tinggalkan tanpa ada dosa yang dikurangi, tanpa ada keburukan yang direduksi, tanpa ada sikap negatif yang dikikis, dan tanpa ada kezaliman yang dieliminir.

(Baca Juga : Idul Fitri, Ini Pesan Raja Salman untuk Umat Islam)

Rugi dan celakalah kita bila Ramadhan kita tinggalkan masih dengan lisan dan jari yang gemar mencela, hati yang masih kerap mendengki, pikiran yang penuh prasangka, perut yang disuapi makanan haram, dan jiwa yang masih berkawan karib dengan syahwat. Jika itu yang terjadi, kita tak punya hak untuk mencapai Lebaran yang hakiki.

Semoga saja, Lebaran kita bukan fatamorgana. Di depan sana, kita masih terus berupaya sadar bahwa dosa-dosa kita menumpuk, kesalahan-kesalahan kita menghampar; dan kita tak pernah boleh merasa lelah untuk menempuh jalan istighfar.

Oleh: dr. Ahmad Fuady, M.Sc.-HEPL

Peneliti di Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. Penulis buku “Negeri Sukun: Kelakar Sang Kiai untuk Negeri”

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini