Lebaran, Kedermawanan dan Spirit Bangkit Pelaku UMKM

Kamis 28 Mei 2020 18:33 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 28 330 2221106 lebaran-kedermawanan-dan-spirit-bangkit-pelaku-umkm-tFUzK8rzfE.jpg

Hari ini tidak terasa sudah memasuki hari kelima bulan Syawal. Seluruh umat Islam merayakan Idul Fitri dengan cara yang tidak biasa.

Tradisi baru yang bahkan tidak pernah dilakukan selama umat manusia hidup di muka bumi, seperti halal bi halal online, sungkeman pun daring dan bahkan tradisi anjangsana ke sanak keluarga dan sejawat banyak yang meniadakan.

Sebelumnya, dalam waktu 30 hari terakhir umat Islam sudah dihadapkan pada situasi yang biasa disebut the new normal (kenormalan baru). Shalat Tarawih berjamaah ditiadakan, buka bersama yang biasanya menjadi kebiasaan jelang maghrib pun tak ada.

Bahkan pengajian secara massif digelar dengan berbagai aplikasi daring, rapat-rapat, seminar juga menggunakan teknologi internet dengan memanfaatkan aplikasi seperti Cloud X, Zoom, Goggle meet, skype dan saluran media sosial lainnya.

Selain jadi musibah, pandemik Covid-19 sepertinya benar-benar menjadi penanda bahwa umat manusia harus bekerja lebih keras untuk mengurai rahasia apa dibalik pageblug ini. Misalnya saja, puasa ramadhan, umat Islam didorong untuk mencapai takwa (QS Albaqarah:183) di masa yang serba terbatas. Tentu harus kita imani bahwa Ketaqwaan tidak akan pernah terwujud jika tidak kembali kepada kitab Allah dan Alqur’an yang selama ini sudah diajarkan oleh para salafus solih.

Salah satu hikmah yang bisa dipetik di momentum bulan kemenangan ini adalah pesan nabi bahwa “sebaik manusia itu mereka yang paling banyak manfatnya kepada sesama manusia lainnya”. Dari pesan Nabi Agung Muhammad SAW itu tidak disebutkan sebaik manusia itu adalah yang paling rajin sholatnya, paling getol ibadahnya. tapi sebaik manusia adalah mereka yang mau menolong sesama.

Pada momentum pandemik global yang sudah menghilangan 350 ribu nyawa ini mendapatkan relevansinya. Apalagi di Indonesia angka kasus positif terjangkit terus meningkat (23.851 kasus) dan 1.473 manusia Indonesia meninggal akibat tidak bisa melawan virus asal kota Wuhan, Provinsi Hubei, China ini.

Kembali pada prinsip tentang seberapa manfaat kita terhadap manusia lain. Pandemik Covid-19 yang ada di Indonesia sejak 2 Maret itu, telah memberikan hikmah yang sangat luar biasa. Kita benar-benar patut bersyukur seluruh masyarakat Indonesia saling bahu-membahu dan tolong-menolong kepada sesama.

Aktivitas yang merepresentasikan jiwa kemanusiaan sangat massif dilakukan, mulai organisasi kemasyarakatan, artis, miliarder, para pemimpin partai, influencer, dan juga komunitas bergerak bersama berbagi rejeki kepada kelompok miskin dan rentan. Wabah Covid-19 telah menyatukan umat manusia untuk saling mengasihi dan menyemagati agar lepas dari pageblug ini. 

Bahkan seluruh elemen saling memberikan seruan moralnya untuk sama-sama menjadi bagian dalam memerangi wabah mematikan asal Kota Wuhan itu. Bentuknya berbagai macam, sekadar mengkampanyekan penggunaan masker, berbagi masker di jalanan, membumikan kebiasaan cuci tangan dan kegiatan inspiratif lainnya.

Meskipun seluruh umat yang beriman harus meyakini bahwa kedermawanan tidak harus hadir disaat bencana saja. Islam mengajarkan sikap dermawan harus didasari denngan prinsip-prinsip dasar dalam setiap jiwa hamba yang bersih hatinya, dan senantiasa mengharapkan ridha Allah Subanahu wata'ala.

Fakta sikap kedermawanan itu tentu tidak sepenuhnya dilakukan oleh seluruh masyarakat. Pandemik Covid-19 ternyata juga masih membuat sebagian kelompok mementingkan diri sendiri dan komunitas kecilnya. Bahkan masih kita ketahui sikap serakah juga masih dapat kita tonton dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis coba mengulas tentang program bagus pemerintah terkait dengan isu perlindungan kelompok usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Sebagaimana kita tahu Presiden telah menyatakan bahwa pemerintah telah menggelontorkan dana Rp125 Triliun untuk pemulihan ekonomi, khususnya UMKM terdampak Covid-19. Namun demikin, kondisi riil di bawah narasi yang sedemikian bagus dan komprehensif ternyata sangat jauh dari harapan masyarakat, khususnya para pelaku UMKM terdampak Covid-19.

Sebagai orang yang mengayomi banyak kelompok UMKM, penulis menyaksikan dengan kepala mata sendiri bahwa telah terjadi ketimpangan distribusi program releksasi dana pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang belum tepat sasaran.

Atas fakta yang terjadi itu, penulis jadi bertanya-tanya, bagaimana para pelaku UMKM bisa adaptasi dengan keadaan dan akan bisa hidup normal disaat pandemik seperti saat ini.

Penulis pun meyakini, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang punya keimanan dan punya daya juang yang sangat hebat. Terlebih para pelaku UMKM yang selama ini hanya dijadikan objek derita oleh para oknum yang sombong dan hanya mementingkan dirinya sendiri.

Allah berfirman: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui (QS Albaqarah: 261).

Firman Allah itu sangat melekat dan menjadi keyakinan yang sangat dalam bagi masyarakat pelaku usaha UMKM. Meski dalam keadaan yang amat terbatas, dan jauh dari pemberitaan media, di saat Covid-10 ini, jiwa kedermawanan setiap pelaku UMKM terus tumbuh saling menguatkan.

Ibaratnya setiap tanaman benih akan tumbuh menjadi 7 ranting dan setiap ranting itu berbuah 100 biji dan yang paling mereka harus yakini Allah akan melipatgandakan hasil atau buah itu hingga tidak terhingga.

Di momentum pandemik Covid-19 ini, para pelaku UMKM harus bangkit dengan segala keterbatasaanya. Selain keyakinan tentang kemauan sedekah, kedermawanan antar pelaku UMKM akan menjadi washilah (perantara) untuk lepas dari krisis dan kesulitan menjalankan usahanya. Tak perlu menunggu kita jauh dari kesusahan untuk saling berbagai dan membantu. Allah sendiri menjanjikan jalan menuju kaya adalah kedermawanan itu sendiri.

Para Pelaku UMKM sebagai kelompok yang paling terdampak wabah Covid-19, harus terus optimis dan menjaga spirit untuk bangkit bersama-sama. Dengan kenormalan baru (the new normal), memeras otak dan mencari taktik yang sarat kreativitas untuk menjadi pemenang menghadapi wabah global ini.

Insya Allah dari proses perjalanan 30 hari berpuasa di saat yang istimewa (Covid-19) ini, kita mendapat hadiah takwa-Nya dengan membangkitkan optimisme. Membangun setiap UMKM yang digeluti agar tetap eksis, menebar manfaat dan membantu negara agar lepas dari krisis.

Semoga Allah senantiasa meridhoi segala ikhitiyar kita semua. Di tengah krisis kita menggali nilai-nilai ajaran Islam dengan mengamalkan kedermawanan, optimisme dan melangsungkan kenormalan baru (the new normal) UMKM di Indonesia. Wallahua'lam bisshowab.

Oleh : Nur Rohman

Penulis adalah Presiden Santri Milenial Centre (Simac) dan CEO Kopi Abah

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini