Abdullah Dzul Bijadain, Sahabat yang Diridhoi hingga Digalikan Kuburnya oleh Rasulullah

Rizka Diputra, Jurnalis · Selasa 09 Juni 2020 14:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 09 614 2226895 abdullah-dzul-bijadain-sahabat-yang-diridhoi-hingga-digalikan-kuburnya-oleh-rasulullah-JjaTBcmapn.JPG Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

SUATU hari usai melaksanakan Sholat Subuh berjamaah di Masjid Nabawi, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam seperti biasa menyalami para sahabatnya. Tak lama berselang, mata Rasulullah tertuju kepada seorang pria yang wajahnya sangat asing.

“Engkau siapa?” tanya Rasulullah kepada pria sederhana berpakaian kasar dengan bahan dan warna kain yang sama.

Mendengar pertanyaan manusia paling mulia itu, lelaki tersebut lalu menceritakan asal usulnya. Dia mengaku bernama Abdul Uzza. Uzza hidup bersama pamannya di wilayah Muzaniyah.

"Cukup lama aku merahasiakan keislamanku. Hingga kemarin ketika pamanku mengetahui, ia mengusirku. Ia meminta kembali seluruh pemberiannya, bahkan baju yang aku kenakan. Aku serahkan bajuku saat itu juga. Lalu aku pulang ke ibuku dan ia memotong kain kasar ini menjadi dua. Satu untuk sarungku, satu untuk baju," ucap Abdul Uzza.

Baca juga: Bagaimana Hukumnya Bayar Fidyah Puasa dengan Uang Tunai?

“Kalau begitu namamu adalah Abdullah Dzul Bijadain, hamba Allah yang mengenakan dua kain kasar,” kata Nabi menimpali.

Dzul Bijadain bernama lengkap Abdullah bin Abdu Nahm bin ‘Afif bin Sahim bin ‘Adwy bin Tsa’labah bin Sa’ad al-Muzany. Abdul ‘Uzza adalah nama yang disandangnya sebelum masuk Islam. Rasulullah pun mengganti namanya dengan nama Abdullah. Adapun gelar Dzul Bijadain yang disematkan punya cerita tersendiri.

Ilustrasi

Dari ibn Ishaq dari Muhammad bin Ibrahim at-Taimy berkata: ”Abdullah (Dzul Bijadain) berasal dari Muzaniyah. Tinggal di rumah pamannya. Selama tinggal di sana dia sangat patuh dan baik dengannya. Suatu hari pamannya mendengar bahwa ia memeluk Islam.

Maka pamannya marah sehingga semua barang yang diberikan supaya dikembalikan. Bahkan pakaian yang menutupi badannya disuruh melepaskannya. Ia pun pulang menemui ibunya. Melihat anaknya tidak memakai pakian, ibunya terus mengoyak kain penutup tebal miliknya menjadi dua,".

Sejak itulah ia dipanggil Dzul Bijadain (artinya: yang memilki dua helai pakaian). Ia dibesarkan di kabilahnya, Muzainah. Kabilah ini berada di dekat gunung Warqon, dekat Madinah. Orangtua Dzul Bijadain sangatlah miskin. Hingga menginjak dewasa, ia belum mendengar tentang ajaran Islam. Maka setelah hijrahnya Rasulullah ke Madinah, Dzul Bijadain mulai mengenal Islam.

Baca juga: Berita Menteri Agama Tarik Ucapan soal Pembatalan Haji 2020 Hoaks

Abdullah Dzul Bijadain adalah salah satu sahabat Nabi yang sangat setia. Dia bahkan tinggal di Masjid Nabawi karena memang tidak memiliki rumah. Kondisi itu jelas membuatnya lebih dekat dengan Rasulullah hingga hari-hari bersama Nabi digunakannya untuk menyerap ilmu-ilmu agama Islam.

Dia juga dikenal memiliki semangat jihad luar biasa. Seperti saat menjelang perang Tabuk pada tahun ke-9 hijrah, ia meminta doa kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah, doakan aku terbunuh pada perang ini hingga memperoleh mati syahid,”

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

“Tidak. Engkau tidak akan terbunuh. Tetapi jika engkau sakit demam lantas wafat, engkau mati syahid,” jawab Rasulullah kala itu.

Benar saja, Perang Tabuk dimenangkan tanpa pertempuran. Akan tetapi, saat hendak kembali ke Madinah, Abdullah Dzul Bijadain mengalami demam. Hingga akhirnya pada suatu malam, salah seorang sahabat yakni Abdullah ibnu Mas’ud mendengar suara seperti orang menggali tanah. Saat itu terlihat cahaya menyilaukan dari tempat yang agak jauh dari kemahnya.

Abdullah ibnu Mas’ud kemudian menghampiri lokasi tersebut untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Saat itu, Rasulullah bersama Abu Bakar dan para sahabat lain terlihat sedang menggali liang lahat. Kemudian, Rasulullah mengusung jenazah seorang pria dan memasukkannya sendiri ke liang lahat seraya berdoa: “Ya Allah, hari ini aku ridho kepadanya, maka ridhoilah ia,”

Doa itu merupakan doa istimewa yang keluar dari lisan Rasulullah manakala memakamkan jasad pria yang ternyata adalah Abdullah Dzul Bijadain.

Abdullah ibnu Mas’ud yang mendengar doa istimewa baginda Nabi lantas merasa iri, seraya berujar: “Seandainya jenazah itu adalah jenazahku,” gumam salah satu ahli tafsir terkemuka di zaman Rasulullah itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya