Nabi Muhammad yang Pertama Ajarkan Antirasis, Lihat Kasus Bilal

Hantoro, Jurnalis · Rabu 10 Juni 2020 09:55 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 10 330 2227370 nabi-muhammad-yang-pertama-ajarkan-antirasis-lihat-kasus-bilal-68MdhF21vO.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

HUBUNGAN antarkelompok etnis dan agama di Timur Tengah, Amerika Serikat, dan Uni Emirat Arab dilaporkan memburuk. Di ketiga negara itu ada pergolakan antar-umat beragama serta warga berkulit hitam dan coklat dengan mereka yang berkulit putih.

Apa yang dibutuhkan sekarang lebih dari sebelumnya, yakni panutan yang ajarannya melawan kefanatikan dan tindakannya menjadi model koeksistensi. "Saya percaya bahwa panutan tidak lain adalah Nabi Muhammad," ungkap sosiolog Dr Craig Considine, dikutip dari About Islam, Rabu (10/6/2020).

Ia menerangkan, sekira 1.400 tahun sebelum gerakan hak sipil di Amerika Serikat dan kampanye anti-apartheid di Afrika Selatan, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam sudah lebih dulu menangani masalah xenophobia dan prasangka di Arab Saudi.

"Dalam tulisan singkat ini saya menyoroti bagaimana Nabi berperang melawan gagasan untuk menghakimi individu dan kelompok hanya berdasarkan warna kulit dan keturunan mereka," jelasnya.

Dia menyatakan pandangan antirasis yang dicontohkan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam terlihat dalam persahabatannya dengan Bilal bin Rabah, seorang budak kulit hitam yang naik ke posisi terdepan dalam komunitas Muslim Arab pada abad ke-7.

Dr Craig melanjutkan, satu kisah menceritakan bagaimana Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam membela Bilal setelah Abu Dharr Al Ghifari, salah satu sahabat, menyebut Bilal "putra seorang perempuan kulit hitam".

Terganggu dengan penekanan mengidentifikasi orang-orang dengan warna kulit, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam mengkritik Abu Dharr dengan mengatakan, "Kamu adalah pria yang masih memiliki sifat ketidaktahuan dalam dirinya."

Referensi Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam tentang ketidaktahuan Abu Dharr mengacu pada masa "pra-Islam" dari jahiliah, sebuah istilah Arab yang berarti "keadaan ketidaktahuan bimbingan Allah Subhanahu wa ta'ala".

Periode sejarah tanah Arab sebelum kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam ini ditandai oleh tindakan "pelanggaran hukum", seperti dijelaskan dalam kitab suci Alquran. Mentalitas antirasis Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam membantu orang-orang Arab keluar dari kegelapan ini dan masuk ke cahaya melalui membimbing ke jalan keadilan dan kesetaraan.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Bilal, yang oleh kaum Muslim lain disebut sebagai "tuan" karena pengetahuan dan rahmatnya, menjadi muazin Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Ia bertanggung jawab memanggil umat Islam menunaikan sholat lima waktu melalui seruan azan.

Dalam memilih Bilal untuk peran terhormat ini, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam menunjukkan bahwa pengucilan sosial dan subordinasi berdasarkan warna kulit tidak diperbolehkan dalam masyarakat Islam.

Sebelum Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengungkapkan pesannya, orang Arab terlalu bangga dengan identitas suku dan etnis mereka, sedemikian rupa sehingga suku dan kelompok etnis menjadi standar sosial masyarakat.

Ajaran Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam mengubah semua itu. Dia menekankan pentingnya kesalihan sebagai ciri penghormatan.

Dalam menantang Abu Dharr, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menunjukkan bahwa ia bersedia menegur, bahkan teman terdekatnya, jika orang itu merendahkan seseorang karena etnisnya.

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam percaya bahwa bentuk "kesukuan", atau al asabiyyah dalam bahasa Arab, bersifat mendorong orang ke loyalitas etnis bahkan bisa berarti mendukung ketidakadilan.

Khotbah terakhir Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam di Gunung Arafat pada 632 Masehi mungkin menjadi manifestasi antirasisme yang paling penting.

Dalam ceramahnya, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengatakan:

"Orang Arab tidak memiliki keunggulan di atas orang non-Arab, atau orang non-Arab memiliki keunggulan di atas orang Arab. Orang kulit putih tidak memiliki keunggulan di atas orang kulit hitam, juga orang kulit hitam tidak memiliki keunggulan apa pun lebih dari putih kecuali oleh kesalihan dan tindakan yang baik."

Khotbah terakhir ini adalah titik puncak dari kehidupan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Beliau menantang populasi yang terpecah belah yang secara konstan terlibat dalam peperangan dengan mengajak orang bersatu di bawah panji-panji kemanusiaan.

Dengan menjauhkan diri dari kecenderungan untuk mengategorikan orang lain berdasarkan etnis, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam mendahului kata-kata Martin Luther King Jr, yang dalam pidatonya "I Have a Dream" menyerukan agar orang Afrika-Amerika dinilai bukan berdasarkan warna kulit mereka, tetapi dari karakternya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya