MUHAMMAD bin Abdullah diangkat menjadi Nabi dan Rasul bukan sebuah hal yang tiba-tiba dan kebetulan. Kehadirannya meskipun sudah diprediksikan dalam kitab suci agama-agama terdahulu, tapi secara pribadi beliau telah mempersiapkannya. Karakter yang paling tampak dari individu beliau adalah kejujuran.
Umur 16 tahun beliau sudah dikenal sebagai Al-Amin, yakni orang yang dapat dipercaya. Kata tersebut juga semakna dengan kata amanah. Dasar dari amanah adalah kejujuran. Sifat ini bukan hanya melekat dalam diri beliau, tapi juga diakui secara kolektif oleh penduduk Arab.
Gelar tersebut disandang beliau sampai diangkat menjadi Rasul dan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Kurang lebih 24 tahun. Sebuah waktu yang cukup lama. Kalau beliau tidak mampu mempertahankan gelar tersebut, mungkin Islam tidak semudah itu diterima di Arab.
Pandemi dan Cobaan Kejujuran
Covid-19 dapat dikatakan sebagai cobaan kejujuran. Orang yang sakit atau menderita karena virus tersebut harus jujur. Kalau tidak jujur, dia akan menyebabkan orang lain menderita. Jadi kejujuran sebenarnya bukan hanya bermanfaat untuk diri sendiri. Melainkan juga menyelamatkan orang lain.
Data covid-19 juga harus dibuka. Jangan ditutup-tutupi agar masyarakat selalu waspada dan berhati-hati. Ditutupnya informasi terkait covid-19 dapat menyebabkan masyarakat menjadi lalai.
Termasuk para ilmuan yang mengetahui dampak buruk terkait covid-19 juga harus diungkap. Jangan ditutup-tutupi. Sebab dengan semakin paham terkait dampak penyakit ini secara medis, seseorang, warga, dan masyarakat lebih tenang, karena mudah mengantisipasi keadaan.
Itulah sebabnya kejujuran juga menenangkan. Bukan hanya oleh pribadi yang berkata, melainkan juga menenangkan orang lain. Itulah sebabnya beliau Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam disebut Al Amin. Bukan hanya amanah, tapi juga menenangkan dan menenteramkan.