Kisah Pria Meksiko Jadi Mualaf Usai Jatuh Cinta pada Islam di Dubai

Novie Fauziah, Jurnalis · Rabu 17 Juni 2020 15:17 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 17 614 2231628 kisah-pria-meksiko-jadi-mualaf-usai-jatuh-cinta-pada-islam-di-dubai-qEZl4clZXk.jpg Taman Alquran di Dubai (Foto Khaleej Times)

HIDAYAH bisa datang dimana saja dan kapan saja. Hal ini dialami oleh seorang profesional pemasaran asal Mexico City, Ricardo Abraham Gonzalez Rubio. Tiga bulan di Dubai, Uni Emirate Arab (UEA), ia memutuskan memeluk Islam alias jadi mualaf.

Berawal ketika kedatangannya ke Dubai untuk bekerja, sejak itu hari-harinya diwarnai oleh budaya masyarakat UEA termasuk berbaur dengan umat Islam di sana. Untuk menyesuaikan itu semua, ia belajar secara perlahan tentang Ialam dan budaya di negara tempat ia tinggal.

"Saya belajar banyak tentang budaya, tentang Islam. Saya ingin tahu apa itu semua, jadi saya mulai menyelidiki. Bagaimanapun, ini adalah kota Muslim, di negara Muslim," katanya seperti dikutip dari laman Khaleej Times, Rabu (17/6/2020).

 Baca juga: Kembali Dibuka, Ini 5 Destinasi Wisata Religi di Banda Aceh

Ketika Ricardo semakin memahami tentang Islam, akhirnya ia memutuskan untuk menjadi mualaf dan Islam adalah keyakinannya saat ini. "Saya segera menemukan itu sangat menarik. Jadi saya memutuskan untuk fokus pada itu (Islam)," ucapnya.

"Setiap kali saya punya waktu, saya pergi dengan teman Emirat saya untuk makan malam dengannya dan orang Emirat lainnya. Saya menanyakan semua pertanyaan saya, tentang wanita dan peran mereka, mengapa orang makan dengan tangan mereka, mengapa ini, mengapa itu," ujarnya.

"Semakin banyak mereka menjelaskan, semakin aku penasaran." tambahnya.

Keputusannya itu pun dibantu oleh teman-teman muslimnya di Dubai. Ricardo semakin yakin dan percaya diri, jika pilihannya menjadi mualaf adalah bagian terpenting di dalam hidupnya saat ini.

Sebagai seorang mualaf, tentunya ia harus mengenal rumah ibadah barunya yaitu masjid. Ia pun mengunjungi Masjid Agung Sheikh Zayed di Abu Dhabi, yakni untuk mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai salah satu syarat menjadi maualaf.

Ricardo mengatakan teman-teman muslimnya dengan senang hati menyambut keputusannya itu untuk menjadi mualaf.

"Mereka menyambut saya, dan berterima kasih karena telah memberikan yang terbaik dari diri saya kepada Tuhan, bukan kepada siapa pun," terangnya.

 

Sebagai seorang Muslim, Ricardo mengatakan ia sekarang akan melakukan yang terbaik untuk menjelaskan keputusannya kepada teman-teman di rumah (negara asalnya). Banyak di antaranya mungkin memiliki sedikit pemahaman tentang Islam, atau mungkin memiliki kesalahan-pahaman tentang agama.

Selain itu, keluarga Ricardo pun ternyata mendukung keputusannya tersebut. Bahkan ia juga memiliki saudara lelaki yang juga masuk Islam di Kanada lima tahun yang lalu.

"Aku ingin mengetahui bagaimana menjelaskan hal-hal yang telah kulihat. Aku ingin berbagi. Ini semua tentang membantu orang menjadi lebih baik," pungkasnya.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini