Peristiwa Besar ketika Terjadi Gerhana Matahari di Zaman Nabi

Senin 22 Juni 2020 16:40 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 22 614 2234351 peristiwa-besar-ketika-terjadi-gerhana-matahari-di-zaman-nabi-xwx3ntnNrc.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

GERHANA matahari cincin pada 29 Syawal 10 Hijriah atau bertepatan 27 Januari 632 Masehi adalah hari berduka bagi kaum Muslimin. Ketika itu putra Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa salam bernama Ibrahim meninggal dunia. Putra Rasulullah dengan Sayyidah Mariyah itu wafat saat masih bayi.

Kala itu di kota suci Madinah tampak sebagai gerhana sebagian di pagi hari dengan 76 persen cakram matahari tertutupi saat puncak gerhana.

Gerhana matahari. (Foto: Istimewa)

Lantaran terjadinya gerhana matahari bertepatan dengan meninggalnya putra Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, banyak kalangan umat Islam yang menghubung-hubungan kedua peristiwa tersebut. Ada yang menganggap itu sebagai mukjizat Nabi Muhammad.

Muhammad Husain Haekal dalam "Sejarah Hidup Muhammad" melukiskan karena cintanya yang begitu besar kepada Ibrahim, dan rasa duka yang begitu dalam karena kematiannya, adakah ia lalu merasa terhibur mendengar kata-kata itu, atau setidak-tidaknya akan didiamkan saja, menutup mata melihat orang sudah begitu terpesona karena telah menganggap itu suatu mujizat?

"Tidak," tulis Haekal, sebagaimana dikutip dari Sindonews, Senin (22/6/2020).

"Dalam keadaan serupa itu, kalaupun ini layak dilakukan oleh mereka yang suka mengambil kesempatan karena kebodohan orang, atau layak dilakukan oleh mereka yang sudah tak sadar karena terlampau sedih, buat orang yang berpikir sehat tentu hal ini tidak layak, apalagi buat Nabi Besar!" lanjutnya.

Oleh karena itu, usai memakamkan putranya, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan gerhana tidaklah berhubungan dengan hidup matinya seseorang, karena bulan dan matahari adalah dua dari sekian banyak tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa ta'ala.

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam kemudian meminta kaum Muslimin segera berzikir dengan menunaikan salat gerhana tatkala menyaksikan peristiwa gerhana.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melihat mereka yang mengatakan bahwa matahari telah jadi gerhana karena kematian Ibrahim, dalam khotbahnya kepada mereka ia berkata:

"Matahari dan bulan ialah tanda kebesaran Tuhan yang tidak akan jadi gerhana karena kematian atau hidupnya seseorang. Kalau kamu melihat hal itu, berlindunglah dalam zikir kepada Tuhan dengan berdoa."

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

Haekal menyatakan sungguh suatu kebesaran yang tiada taranya. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak melupakan risalahnya itu dalam suatu situasi yang begitu gawat, situasi jiwa yang sedang dalam keharuan dan kesedihan yang amat dalam.

Kalangan orientalis dalam menanggapi peristiwa yang terjadi terhadap diri Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam ini bersikap hormat dan kagum sekali. Mereka tidak dapat menyembunyikan kekaguman dan hormatnya itu kepadanya.

"Mereka menyatakan pengakuan tentang kejujuran orang itu yang dalam situasi yang sangat gawat tetap mempertahankan hak dan kejujurannya yang sungguh-sungguh," ungkap Haekal.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Tiga Peristiwa Besar

Menurut Muhammad Ma’rufin Sudibyo, pengurus LF Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), berdasarkan data hisab Five Millenium Canon of Solar Eclipses yang disilangkan dengan data sejarah, pada zaman dahulu terdapat tiga peristiwa besar yang terjadi saat gerhana matahari.

Selain putra Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam meninggal, peristiwa besar kedua adalah gerhana matahari total pada 9 Mei 1533 SM, bertepatan dengan masa Nabi Ibrahim Alaihissallam di tanah Palestina. Menurut Ma’rufin, gerhana tersebut berlangsung kala matahari dalam proses terbenam.

Peristiwa ketiga, Ma’rufin menyebut pernah juga terjadi gerhana matahari cincin (GMC) yang bertepatan dengan pertempuran puncak penaklukan tanah Palestina oleh pasukan di bawah pimpinan Nabi Yusya, tepatnya pada 30 Oktober 1207 SM.

Selain itu, gerhana matahari juga terjadi pada 24 November 569 M, berdekatan dengan masa kelahiran Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Saat itu terjadi peristiwa gerhana matahari total (GMT), namun hanya terlihat sebagian di Kota Makkah.

"Di Kota Suci Makkah, gerhana itu nampak sebagai gerhana sebagian di pagi hari dengan 64 persen cakram matahari tertutupi," tutur Ma’rufin.

Konjungsi Bulan-Matahari

Lalu pada 29 Syawal 1441 Hijriah atau bertepatan dengan Minggu 21 Juni 2020, masyarakat Indonesia kembali menyaksikan gerhana matahari cincin (Annular).

Sebagian besar masyarakat Tanah Air berkesempatan menyaksikan gerhana matahari ini meski dalam wujud gerhana sebagian, karena hanya sebagian kecil paras matahari yang tertutupi oleh Bulan.

Gerhana matahari (al–kusuf asy–syams) terjadi saat bumi, bulan, dan matahari benar-benar sejajar dalam satu garis lurus ditinjau dari perspektif tiga dimensi, dengan bulan berada di antara bumi dan matahari.

KH Sirril Wafa, Ketua Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengatakan dalam khazanah ilmu falak, gerhana matahari terjadi bersamaan dengan konjungsi bulan-matahari (ijtima’) dengan bulan menempati salah satu di antara dua titik nodalnya.

Titik nodal, terang dia, merupakan titik potong khayali di langit di mana orbit bulan tepat memotong ekliptika (masir asy–syams) yakni bidang edar orbit bumi dalam mengelilingi matahari.

"Sebagai akibat kesejajaran tersebut maka pancaran sinar matahari yang menuju ke bumi akan terblokir sedikit oleh bulan. Maka peristiwa gerhana matahari selalu terjadi di siang hari," kata dosen Ilmu Falak UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Lebih lanjut Kiai Sirril Wafa menjelaskan bahwa pemblokiran tersebut terjadi secara tidak merata di sekujur paras bumi yang sedang terpapar sinar matahari pada saat itu. Melainkan hanya di sektor–sektor tertentu yang bergantung pada geometri orbit Bulan kala kesejajaran tersebut terjadi. Hal tersebut mengingat ukuran bulan jauh lebih kecil dibanding bumi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya