Kisah Miris Muslimah, Diduga Idap Covid-19 hingga Jasadnya Dikremasi

Rabu 24 Juni 2020 09:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 24 614 2235371 kisah-miris-muslimah-diduga-idap-covid-19-hingga-jasadnya-dikremasi-3ndDolzYa3.JPG Ruang kremasi tempat pembakaran mayat (Foto: The Independent)

SITUASI pandemi virus corona atau Covid-19 disinyalir dijadikan ajang untuk mendiskriminasi komunitas muslim Sri Lanka dengan mengkremasi jenazah korban Covid-19. Seperti diketahui bahwa kremasi atau pembakaran mayat merupakan praktik yang tidak diizinkan dalam ajaran agama Islam.

Seperti diwartakan BBC News Indonesia, seorang muslimah Sri Lanka, Fathima Rinoza pada 4 Mei 2020 lalu dirawat di rumah sakit dengan kasus terduga sebagai pasien positif Covid-19. Ia adalah wanita berusia 44 tahun dengan tiga orang anak.

Fathima, yang tinggal di ibu kota Sri Lanka, Kolombo, menderita masalah pernapasan dan pihak berwenang khawatir dia terserang virus corona. Pada hari ia dirawat di rumah sakit, suaminya, Mohamed Shafeek, mengatakan keluarganya "diatur" oleh pihak berwenang.

"Polisi dan militer bersama para pejabat tiba di rumah kami. Kami diusir dan mereka menyemprot (disinfektan) ke mana-mana. Kami semua takut tetapi mereka tidak memberi tahu kami. Bahkan bayi berusia tiga bulan dites Covid-19," ucapnya.

Baca juga: Gelar Haji saat Pandemi Corona, Menteri Arab Saudi: Ini Keputusan Sulit

Keluarga itu ditahan selama semalam tetapi dibebaskan pada hari berikutnya dan diminta melakukan karantina selama 14 hari. Saat itulah, mereka menerima kabar bahwa Fathima meninggal seorang diri di rumah sakit.

Dipaksa menandatangani surat-surat

Putra Fathima, yang telah berusia dewasa, diminta pergi ke rumah sakit untuk mengidentifikasi jenazah ibunya. Dia diberitahu bahwa Fathima tidak dapat dikembalikan ke keluarga karena kematiannya terkait dengan Covid-19.

Putra Fathima mengatakan, dia dipaksa menandatangani surat yang mengesahkan kremasi sang ibu. Meskipun di bawah hukum Islam, kremasi dianggap sebagai pelanggaran terhadap tubuh manusia.

"Dia diberitahu bahwa bagian-bagian tubuhnya perlu dikeluarkan untuk tes lebih lanjut. Mengapa mereka perlu bagian-bagian tubuh jika dia memiliki corona?" kata ayahnya, Shafeek, yang merasa keluarganya tidak sepenuhnya diberitahu tentang apa yang terjadi.

Keluarga Fathima telah bergabung dengan orang lainnya dalam komunitas Muslim Sri Lanka yang mengkritik pemerintah karena menggunakan pandemi untuk mendiskriminasi mereka.

Komunitas ini mengklaim pihak berwenang memaksa mereka untuk mengkremasi jenazah keluarganya, meski menurut pedoman WHO, korban sebenarnya dapat dikuburkan sesuai syariat Islam.

Kaum muslim Sri Lanka mengaku dipaksa menandatangani surat untuk mengkremasi jenazah keluarga mereka. Otoritas setempat menegaskan bahwa hal ini adalah praktik terbaru dalam pola pengawasan dan menakut-nakuti oleh mayoritas penduduk Sinhala.

Pada April 2019, kelompok Islam yang memiliki hubungan dengan kelompok-kelompok lokal yang kurang dikenal menargetkan hotel dan gereja kelas atas di Kolombo dan di timur negara itu, menewaskan lebih dari 250 orang, termasuk orang asing. Serangan bom yang menghancurkan ini, yang diklaim oleh kelompok Negara Islam, mengejutkan negara. Sejak bom bunuh diri itulah banyak kaum muslim mengalami stigmatisasi.

Mirisnya, Sri Lanka adalah satu-satunya negara di antara 182 anggota WHO di mana seorang muslim yang meninggal terjangkit Covid-19 harus dikremasi. Ali Zahir Moulana, seorang mantan menteri dan kandidat dalam pemilihan umum mendatang berujar bahwa komunitas muslim akan menerima keputusan pemerintah jika ada bukti atau dukungan ilmiah untuk membuktikan bahwa pemakaman sebenarnya berbahaya bagi kesehatan masyarakat.

Komentarnya ini kemudian didukung pemimpin senior Kongres Muslim Sri Lanka yang mengatakan jelas tidak ada dasar ilmiah atau kesehatan untuk kremasi, dan keputusan pemerintah didasarkan pada "agenda politik kelam" untuk lebih jauh membagi negara itu menurut garis etnis.

Sementara itu, hampir enam pekan setelah kematian istrinya, Shafeek sedang berjuang untuk berdamai dengan apa yang terjadi. Teknisi medis yang mengawasi pengujian untuk virus tersebut mengatakan bahwa Fathima tidak benar-benar dites positif seperti yang disarankan oleh rumah sakit. Hal ini jelas kian menambah rasa kebingungan di pihak keluarga.

"Kami umat Islam tidak mengkremasi jenazah kami. Jika mereka tahu istri saya tidak terjangkit corona lalu kenapa mereka mengkremasinya?" kata Shafeek.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini