Belajar Toleransi dari Nabi Muhammad

Sabtu 27 Juni 2020 12:28 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 27 614 2237332 belajar-toleransi-dari-nabi-muhammad-7C3cAaCiXx.jpg ilustrasi (stutterstock)

ISLAM adalah agama yang sangat menjunjung tinggi toleransi dan saling menghargai antarsesama. Bukan hanya muslim dengan muslim, tapi juga dengan non muslim. Ini merupakan sikap yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai teladan bagi umat manusia.

Tapi, toleransi dalam keberagaman tentu saja ada batasannya. Dalam Islam, toleransi yang dilarang adalah toleransi dalam masalah aqidah. Artinya dilarang mempertukarkan aqidah atau turut serta dalam peribadatan agama lain atau mengikuti ajaran agama lain.

Baca juga: Makna Toleransi dan Batasannya dalam Islam

Dalam masalah muamalah maliyah umat Islam dapat berhubungan dengan non muslim selama objek yang ditransaksikan dan akadnya dibolehkan dalam Islam.

Melansir dari kolom tanya jawab di laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI), Sabtu (27/6/2020), Rasulullah SAW telah menunjukkan diri sebagai orang yang sangat toleran dalam kehidupannya.

Sebagai contoh dalam Piagam Madinah, Rasulullah SAW siap bekerjasama dengan orang-orang non muslim, untuk saling melindungi kalau di serang musuh.

Toleransi (dalam bahasa Arabnya “tasamuh”) telah banyak diajarkan dan dipraktikkan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya. Rasulullah SAW paham betul bahwa masyarakat Arab yang menjadi obyek dakwahnya terdiri dari berbagai suku.

Apalagi di lingkungan bangsa Arab sendiri, sikap kesukuan sangat tinggi, yang terdiri dari banyak kabilah. Salah satu contohnya adalah bagaimana Nabi Muhammad SAW mampu bergaul dan berhubungan secara sosial dengan tetangganya yang beragama Yahudi di Madinah.

Bahkan suatu kali ada seorang Yahudi meninggal dunia yang dibawa oleh para kerabatnya untuk dimakamkan. Pada saat yang sama, Nabi SAW dan para sahabat sedang duduk-duduk.

Mengetahui ada jenazah orang Yahudi sedang lewat, Nabi Saw kemudian berdiri sebagai tanda penghormatan. Spontanitas para sahabat bertanya, “wahai Nabi, kenapa engkau berdiri, padahal jenazah tersebut adalah seorang Yahudi?”

Baca juga: Wanita Berusia 70 Tahun Jadi Mualaf Setelah Lihat Putrinya Sujud

Jawaban Rasuullah singkat “setidaknya ia adalah seorang manusia”.

Sikap ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah tipe yang menjunjung tinggi toleransi.

Sejarah membuktikan betapa Islam menjunjung tinggi berbagai perbedaan. Sikap toleran berarti tidak ada pemaksaan kehendak pribadi atas orang lain. Toleransi ini dianjurkan dalam segala bidang kehidupan, terutama sekali dalam bidang kehidupan keagamaan. Firman Allah SWT. dalam al-Qur’an :

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Artinya: Untukmu agamamu, dan untukku agamaku. (Q.S. al-Kâfirûn: 6) Ayat Al-Quran tersebut memberi pelajaran kepada kita betapa toleransi yang diajarkan Al-Quran telah sampai pada pokok-pokok kehidupan, yaitu soal keyakinan. Di mana kita harus menghormati keyakinan orang lain. Namun, alam sikap saling menghormati itu kita tetap ada batasannya, yaitu agamamu agamamu dan agamaku agamaku.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya