UAS Cerita Ditolak Masuk Eropa, Ini Reaksi Imam Islamic Center of New York

Rizka Diputra, Jurnalis · Selasa 07 Juli 2020 13:53 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 07 614 2242465 uas-cerita-ditolak-masuk-eropa-ini-reaksi-imam-islamic-center-of-new-york-CKd8164Gdz.JPG Ustadz Abdul Somad (YouTube)

IMAM Islamic Center of New York, Muhammad Syamsi Ali berkesempatan berbincang santai secara virtual bersama dai kondang Ustadz Abdul Somad (UAS). Salah satu hal ditanyakan Ustadz Syamsi ialah maraknya penolakan terhadap UAS di beberapa negara.

Dai kelahiran Bulukumba, Sulawesi Selatan itu mengaku heran dengan reaksi penolakan tersebut. Menurutnya, tidak ada hal yang perlu ditakuti dari UAS.

“Ustadz Abdul Somad itu menakutkannya di mana gitu? Enggak sangar-sangar banget orangnya gitu. Tidak seperti saya. Saya pernah belajar silat ustadz. Bisa ditakutin orang lah kira-kira begitu. Tapi UAS yang ditakuti apa gitu? Kalau ceramah lucu dan kena gitu pas. Kenapa justru ada yang menolak?," ujarnya dalam video yang diunggah channel YouTube, UmmatTV, pada 5 Juli 2020 lalu.

Mendengar pertanyaan Ustadz Syamsi Ali, UAS lantas bercerita sekelumit pengalaman penolakan kunjungannya di sejumlah negara. Salah satunya saat itu hendak berkunjung ke Belanda melalui Swiss.

Begitu tiba di Imigrasi Swiss, UAS terkejut lantaran dia mendapat kabar bahwa dirinya tidak diperkenankan masuk ke negara itu.

"Begitu sampai imigrasi saya tidak dibenarkan (diizinkan) masuk. Mereka lalu mengeluarkan secarik kertas (diberitahu) bahwa saya pernah menyampaikan ceramah di Belanda. Dan paspor saya tidak boleh masuk ke Eropa. Sedangkan saya bilang saya ini baru masuk pertama kali (ke Eropa)," cerita UAS.

Baca juga: Ini Bukti Keajaiban yang Didapat dari Sholat Hajat

Akhirnya setelah tertahan lima jam, UAS pun dideportasi dan pulang melalui Thailand, kemudian singgah di Malaysia. "Itu yang untuk visa Swiss dan Belanda,” sambung pendakwah asal Riau ini.

UAS juga mengaku pernah mendapat penolakan saat hendak memenuhi undangan ke Inggris. Saat itu ia tidak diizinkan berangkat menggunakan pesawat Royal Brunei.

“Satu jam setelah check-in, ternyata mereka langsung ter-connect jaringan internasional, pesawat Royal Brunei tidak mengizinkan berangkat karena visa saya dicancel. Padahal visa itu sudah ada,” kenang UAS.

Pengalaman serupa juga terjadi saat dirinya hendak berkunjung ke Timur Lete. Di negara bekas wilayah Indonesia itu UAS menurut jadwal akan bertemu dengan seorang uskup dan mantan Perdana Menteri Timor Leste, Xanana Gusmao.

Namun, begitu tiba di bandara Timor Leste, ia dihentikan petugas. UAS lantas bertanya sejak kapan petugas itu menerima perintah untuk melarangnya masuk.

“Kata mereka dua jam sebelumnya. Dua sebelumnya kami diberitahu tidak boleh mengizinkan bapak masuk. Kata saya, tuduhannya apa? Kata mereka bapak terindikasi ISIS. Dia sambil senyum-senyum. Karena dia mungkin membayangkan ISIS itu sangar sekali. Ini ISIS-nya kok lucu-lucu,” kata UAS.

Alhasil, UAS memutuskan untuk kembali ke pesawat. Namun, tak berselang lama, seorang pramugari memintanya turun dari pesawat. Ia diberitahu bahwa di pesawat itu juga ada presiden yang hendak menuju Jakarta.

“Pramugari minta saya turun, karena ada presiden di pesawat itu mau ke Jakarta, dia tidak mau satu pesawat dengan teroris. Akhirnya saya turun nunggu pesawat 2 jam berikutnya,” tuturnya.

Tak ingin panjang lebar berdebat, UAS memilih turun dari pesawat dan rela menunggu pesawat berikutnya selama dua jam. Hari itu juga, UAS pulang namun sebagian anggota timnya melanjutkan perjalanan ke Timor Leste.

“Saya sampai sekarang tidak tahu apa yang menakutkan (dari dirinya), tapi saya kira sampai masanya nanti Allah akan bukakan bisa jadi mereka taubat atau mereka di akhir usianya sudah pensiun (lalu) cerita pernah menahan Ustadz Somad sambil ketawa-ketawa mungkin. Wallahu a'lam," kata UAS mengakhiri cerita.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini