Wapres: Peradaban Islam Dibangun dari Masjid

Novie Fauziah, Jurnalis · Rabu 08 Juli 2020 16:36 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 08 614 2243211 wapres-peradaban-islam-dibangun-dari-masjid-ydLzzd6nT4.jpg Wapres KH Ma'ruf Amin (Biro Pers Setwapres)

JAKARTA - Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin mengatakan, peradaban Islam harus dibangun dari masjid sebagaimana yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Masjid harus difungsikan jangan sekadar tempat sholat saja, tapi juga pusat belajar dan bermusyawarah untuk kemaslahatan.

"Pembangunan peradaban Islam berbasis masjid, artinya menempatkan masjid sebagai central peradaban Islam, ini mempunyai pijakan kuat secara history. Rasulullah merupakan teladan terbaik menggunakan masjid membangun peradaban," ujar Kiai Ma’ruf dalam Webinar Nasional 'Membangun Peradaban Islam Indonesia Berbasis Masjid', Rabu (8/7/2020).

Baca juga: Bagaimana Hukum Cerai via WhatsApp?

Rasululla SAW sendiri membangun masjid sebagi tempat untuk berbagai kegiatan umat, seperti sholat, belajar hingga musyawarah.

Kiai Ma'ruf melanjutkan, secara teoritik masjid berpotensi sebagai pembangunan peradaban Islam. Masjid bisa menjadi pusat kegiatan umat baik dalam ibadah mahdhah ataupun ibadah ghairu mahdhah.

Masjid dapat menjadi tempat ibadah mahdhah, seperti sholat, zikir, belajar Alquran/taklimul quran, tilawatul quran, pengajian masjid taklim dan lainnya. Hal itu karena ibadah mahdhah yang dilakukan di masjid pahalanya lebih besar.

 

Sementara ibadah ghairul mahdah, misalnya penguatan, pemberdayaan Islam baik pendidikan ekonomi sosial kemasyarakat dan lain-lain. Selain itu pembangunan peradababan jangan sampai sepergulatan saling berebut hegemoni antara satu peradaban dengan peradaban yang lainnya.

"Ini merupakan sunnatullah yang selalu terjadi sepanjang zaman, dan masyarakat yang lebih kuat peradabannya akan menghegemoni yang lebih lemah. Sebagaimana firman Allah swt, "Di masa kejayaan dan kehancuran itu kami pergilirkan di antara manusia agar mereka mendapat pelajaran" (Ali Imran:140)" pungkasnya.

Lebih lanjut, dalam membangun peradaban cara berpikir yang digunakan, yaitu secara wasati atau berpikir yang lurus. Ciri-cirinya senantiasa menjaga mengamalkan ilmu yang relevan, senantiasa melakukan perbaikan-perbaikan, dan lainnya sehingga menciptakan kondisi yang lebih baik.

"Cara berpikir wasati harus dijalankan istiqamah, tanpa kecuali oleh semua umat Islam," terangnya.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini