Madrasah Ikuti Kebijakan Pemda Terkait Pembelajaran di Tahun Ajaran Baru

Tim Okezone, Jurnalis · Minggu 12 Juli 2020 16:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 12 614 2245174 madrasah-ikuti-kebijakan-pemda-terkait-pembelajaran-di-tahun-ajaran-baru-OlucDNCshr.jpg Ilustrasi madrasah. (Foto: Kemenag)

MULAI Senin 13 Juli 2020 tahun ajaran baru pendidikan dimulai. Siswa sekolah di Indonesia akan kembali menjalankan aktivitas belajar-mengajar. Namun, pemberlakuannya akan berbeda dari biasanya. Hal ini dampak masih mewabahnya virus corona (covid-19).

Kondisi tersebut akan turut dialami satuan pendidikan madrasah. Pembelajaran di madrasah akan dilakukan sesuai kondisi zona daerahnya. Bila berada di zona hijau, sudah memenuhi persyaratan sesuai Surat Keputusan Bersama Empat Menteri, serta disetujui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 setempat, maka kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama provinsi atau kabupaten/kota dapat menyetujui madrasah tersebut melakukan pembelajaran tatap muka.

Baca juga: Madrasah Gunakan Kurikulum Baru Pendidikan Islam dan Bahasa Arab Mulai 13 Juli 

"Namun, harus tetap menerapkan protokol Kesehatan. Kanwil Kemenag provinsi memberikan persetujuan untuk madrasah aliah (MA). Kakankemenag kabupaten/kota untuk MTs dan MI," terang Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama Ahmad Umar dalam keterangan resminya, Minggu (12/7/2020).

"Bila madrasahnya di zona selain hijau, maka proses pembelajaran tetap dilakukan dari rumah dengan memanfaatkan teknologi," sambung dia.

Ia mengatakan, pemerintah telah menerbitkan SKB Empat Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran 2020/2021 dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). SKB tertanggal 15 Juni 2020 itu ditandatangani Mendikbud, Menag, Menkes, dan Mendagri.

Umar melanjutkan, SKB ini antara lain mengatur bahwa pemerintah melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 telah menetapkan zona hijau, kuning, oranye, dan merah pada seluruh wilayah kabupaten/kota di Indonesia. Pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan pada tahun ajaran 2020/2021 tidak dilakukan secara serentak di seluruh wilayah Indonesia.

Ketentuannya, satuan pendidikan yang berada di daerah zona hijau dapat melakukan pembelajaran tatap muka setelah mendapat izin dari pemerintah daerah melalui dinas pendidikan provinsi atau kabupaten/kota, Kantor Wilayah Kemenag provinsi, dan Kantor Kemenag kabupaten/kota sesuai kewenangannya berdasarkan persetujuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid- 19 setempat.

Baca juga: Kemenag Terbitkan Modul Moderasi Beragama untuk Siswa Madrasah 

"Pada bulan pertama, pembelajaran tatap muka hanya dapat diberlakukan untuk MTs dan MA. Untuk MI dapat diberlakukan sebulan berikutnya jika statusnya masih zona hijau," jelas Umar.

"Satuan pendidikan yang berada di daerah zona kuning, oranye, dan merah dilarang melakukan proses pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan dan tetap melanjutkan kegiatan belajar dari rumah (BDR)," tambah Umar yang mengutip salah satu diktum dalam SKB.

Dia melanjutkan, guna meringankan tugas guru, tenaga kependidikan, dan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran daring, Direktorat KSKK Madrasah Kemenag telah menjalin kerja sama dengan sejumlah operator telepon seluler. Mereka akan memberikan bantuan kuota internet dengan harga terjangkau bagi para pelajar serta pendidik dan tenaga kependidikan madrasah selama pandemi covid-19. Pembelian kuota ini juga bisa bersumber dari bantuan operasional sekolah (BOS) madrasah.

"Ada diskon harga hingga 60 persen. Paket kuota internet menjadi lebih terjangkau dan itu bisa dibiayai dari BOS sehingga siswa dan guru tidak perlu keluar biaya lagi," jelasnya.

Baca juga: Di Hadapan Santri, Menag: Presiden dan Wapres Sangat Peduli Pesantren 

Ada lima pilihan, yaitu 10GB (Rp40.000), 15GB (Rp50.000), 20GB (Rp60.000), 30GB (Rp85.000), dan 50GB (Rp100.000). Semua pilihan tersebut untuk masa aktif selama 30 hari. "Satu nomor hanya boleh dapat satu kali paket data dalam sebulan," ungkapnya.

Umar melanjutkan, Kemenag yang bekerja sama dengan perusahaan teknologi juga akan menyiapkan cloud server untuk penggunaan e-learning madrasah. Keberadaan server ini diharapkan dapat memudahkan guru dan siswa mengakses e-learning madrasah. Upaya tersebut dilakukan karena berdasarkan hasil kajian tiga bulan pertama proses uji coba, sejumlah madrasah merasa kesulitan karena tidak memiliki server.

Ilustrasi madrasah. (Foto: Okezone)

Oleh karena itu, Kemenag mengambil langkah menyiapkan cloud server untuk keperluan madrasah di seluruh Indonesia.

"Kita menyediakan aplikasi e-learning madrasah plus berserta server-nya, akan bekerja sama dengan Telkomsigma yang menyediakannya secara gratis. Jadi madrasah cukup mendaftar di https://elearning.kemenag.go.id/ kemudian akan ada pilihan memakai server sendiri atau memakai server dari pusat," paparnya.

Baca juga: Wapres Kiai Ma'ruf: Pesantren Jangan Jadi Tempat Penularan Covid-19 

Umar menambahkan, Kemenag juga telah menerbitkan SK Dirjen Pendidikan Islam Nomor 2791 Tahun 2020 tentang Panduan Kurikulum Darurat pada Madrasah. Panduan ini antara lain menjelaskan sejumlah prinsip pembelajaran pada masa darurat, yaitu:

1. Pembelajaran dapat dilakukan dengan tatap muka, tatap muka terbatas, dan/atau pembelajaran jarak jauh, baik secara daring (dalam jaringan) dan luring (luar jaringan).

2. Pembelajaran dapat berlangsung di madrasah, rumah, dan di lingkungan sekitar sesuai kondisi masing-masing madrasah.

3. Proses pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah, berbasis kompetensi, keterampilan aplikatif, dan terpadu.

4. Pembelajaran perlu berkembang secara kreatif dan inovatif dalam mengoptimalkan tumbuhnya kemampuan kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif siswa.

5. Pembelajaran menekankan nilai guna aktivitas belajarnya untuk kehidupan riil siswa, orang lain atau masyarakat sekitar, serta alam lingkungan tempat siswa hidup.

6. Pembelajaran yang berlangsung agar mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan siswa sebagai pembelajar sepanjang hayat.

7. Pembelajaran yang berlangsung agar menerapkan nilai-nilai, yaitu memberi keteladanan yang perilaku belajar positif, beretika, dan berakhlakul karima (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan dan motivasi dalam belajar dan bekerja (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tutwuri handayani).

8. Pembelajaran menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas.

9. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran.

10. Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya siswa menjadi acuan penting dalam pelaksanaan pembelajaran.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini