Kisah Pedagang Ikhlas Sedekah, Langsung Kaya Raya Berkat Mutiara di Perut Ikan

Saskia Rahma Nindita Putri, Jurnalis · Jum'at 24 Juli 2020 15:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 24 614 2251503 kisah-pedagang-ikhlas-sedekah-langsung-kaya-raya-berkat-mutiara-di-perut-ikan-BqJt9xP72K.jpeg Ilustrasi sedekah. (Foto: Shutterstock)

DALAM ajaran Islam, kaum Muslimin sangat dianjurkan menyisihkan sebagian hartanya, salah satunya dengan bersedekah. Selain mendapat ganjaran pahala, bersedekah bertujuan menyucikan harta, dan mengajarkan tentang indahnya berbagi kepada sesama.

Keutamaan bersedekah bahkan disebutkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dalam Surah Al Hadid Ayat 18:

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang membenarkan (Allah dan Rasul-Nya) baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak."

Baca juga: Sholat Istisqa agar Allah Turunkan Hujan, Yuk Simak Tata Caranya 

Terkait hal ini, dijelaskan oleh Habib Achmad bin Muhammad Al Habsyi dalam salah satu dakwahnya tentang kisah seorang pemuda Bani Israil yang selalu bersedekah.

Habib Achmad menceritakan bahwa pemuda teladan itu hanyalah seorang penjual kapuk dengan penghasilan yang tidak seberapa, namun tetap menyisihkan sebagian pendapatnya untuk bersedekah.

"Setiap hari penghasilannya cuma 1 dirham, tidak banyak. Di rumah ia ambil bijinya, keluarkan kapuknya, lalu dijual di pasar dan hanya laku seharga 1 dirham. Dari 1 dirham, setengahnya ia sedekahkan, lalu sisanya ia belikan makan dan membeli biji-biji kapuk untuk modalnya berjualan esok hari," kata Habib Achmad bin Muhammad Al Habsyi, dikutip dari akun Youtube Alfath Chanel, Jumat (24/7/2020).

Habib Achmad menerangkan, suatu hari ia berjualan di pasar dan seperti biasanya mendapatkan penghasilan sebesar 1 dirham. Namun di hadapannya terdapat dua orang yang sedang berselisih. Diselisik kemudian, ternyata keduanya adalah seorang penjual dan pembeli yang berdebat lantaran si pembeli tidak mau membayar barang yang diperoleh dari si penjual. Kekacauan yang terjadi itu hingga pada titik keduanya tersulut emosi dan ingin saling membunuh.

Melihat kejadian ini, pemuda Bani Israil tadi melerai keduanya dan menanyakan permasalahannya. Setelah mengetahuinya, pemuda tersebut menanyakan harga barang yang menjadi permasalahan antara keduanya ini.

Baca juga: Turki Tunjuk 3 Imam dan 5 Muadzin Bertugas di Hagia Sophia 

Sang penjual menyebutnya bahwa harganya adalah 1 dirham, dan dengan ikhlas sang pemuda Bani Israil membayarkannya hingga selesailah perselisihan antara si penjual dan pembeli.

"Padahal ini bukan sanak, kerabat, bahkan kenal saja pun tidak. (Uang) 1 dirham tadi harusnya untuk biaya ia membeli makan dan modal kapuk esok hari. Namun karena ada dua pemuda tadi yang berselisih hingga ingin bunuh-bunuhan maka ia berikan uangnya. Akhirnya apa? Uangnya tadi 1 dirham telah menyelamatkan nyawa orang lain. Sedekahnya menyelamatkan nyawa orang lain," jelas Habib Achmad.

Sepulang ke rumah, istri pemuda Bani Israil tersebut heran lantaran mendapati suaminya tidak membawa apa pun. Lalu diceritakanlah peristiwa yang terjadi di pasar siang itu.

Mengetahui yang dilakukan sang suami, istrinya bersyukur dan merasa bahagia karena telah memberi keputusan terbaik yakni menyelamatkan hidup dua orang yang terlibat konflik besar.

Baca juga: Amalan Dunia yang Bernilai Pahala di Akhirat 

Setelah itu, sang pemuda bingung lantaran tidak memiliki apa pun untuk menghasilkan uang esok hari. Ia kemudian berinisiatif mengumpulkan sisa-sisa serabut kapuk yang tersebar di lantai rumahnya dan menjadikannya satu, kemudian berniat menjualnya meski dengan jumlah yang sedikit.

Benar saja, selama menjajakan dagangannya itu, tak ada seorang pun yang membeli kapuk sisa tersebut. Menawarkan dari siang hingga waktu yang begitu lama, tidak ada juga yang tertarik untuk membelinya karena kapuk yang dijualnya dalam kondisi kotor dan bukan kualitas terbaik.

Pemuda tersebut sempat putus asa dan bergegas pulang ke rumah. Namun di pertengahan jalan, ia bertemu dengan seorang penjual ikan. Tidak disangka, si penjual ikan menceritakan kondisinya yang serupa dengan sang pemuda, di mana mendapat ikan hasil tangkapannya dengan kondisi tidak begitu baik.

Ilustrasi tanah Arab. (Foto: Shutterstock)

"Penjual ikan ini sama, hari ini ia dapat ikan tetapi ikannya jelek. Ikannya hampir busuk, yang jika diibaratkan orang pasti tidak mau memakannya," ujar Habib Achmad, "Lalu sang pemuda penjual kapuk menawarkan, bagaimana kalau saya beli ikan kamu dengan kapuk ini? Mungkin kapuk ini bisa kamu jual, dan ikan itu bisa saya makan."

Keduanya sepakat, dan pemuda Bani Israil itu membawa pulang ikan hasil barternya tersebut. Sesampai di rumah, ia menceritakan kejadian itu pada istrinya. Sang istri dengan ikhlas menerima dan mengatakan bahwa ikan ini harus disyukuri karena merupakan rezeki mereka hari itu.

Baca juga: Saling Memaafkan Ternyata Bisa Cegah Penyakit Lho 

Dibawalah ikan tersebut ke dapur untuk diolah menjadi santapan. Saat mengirisnya, sang istri terkejut karena menemukan sebutir mutiara di dalam perut ikan.

Dipanggilah sang suami karena temuan mutiara di perut ikan berkualitas buruk tersebut. Pemuda itu pun merespons bahwa ia terpikir untuk menjualnya agar bisa mendapatkan uang dan uangnya dapat dibelikan makanan untuk keluarganya.

Pergilah pemuda tadi ke toko perhiasan, berniat menjual mutiara yang ditemukannya. Semakin terkejut, lantaran sang pemilik toko mengatakan bahwa mutiara yang dibawa pemuda itu bukanlah mutiara sembarangan.

Sang pemilik toko terheran dari mana sang pemuda mendapatkan mutiara itu, karena dari penampilannya terlihat bukanlah dari golongan orang kaya raya. Lantas sang pemuda menjawab bahwasanya mutiara itu adalah rezeki dari Allah Subhanahu wa ta'ala.

Baca juga: Doa agar Pasangan Dijauhkan dari Perselingkuhan 

"Yang namanya pedagang, kalau tak jujur, ia pasti akan mengatakan bahwa mutiara itu harganya murah, atau palsu, apalagi melihat yang punya mutiara ini berpakaian lusuh, orang miskin yang notabene tidak akan mengerti. Mudah sekali ditipu," kata Habib Achmad.

"Namun karena ketulusannya (sang pemuda), maka Allah berikan jalan, sampai pedagang mutiara itu bilang: 'Ini kalau saya hanya mampu 40 ribu dirham, tapi sayang sekali jika mutiara ini hanya dihargai 40 ribu dirham, silakan kau pergi ke toko seberang itu, di sana ada penjual yang lebih kaya dari saya."

Pemuda tadi menuruti perkataan sang pemilik toko itu, dan sampailah pada toko mutiara lainnya. Hal serupa terjadi, di mana sang pemilik toko itu mengatakan bahwa dirinya hanya mampu menghargai 80 ribu dirham, dan harga sebenarnya dari mutiara itu diyakini dapat lebih mahal daripada jumlah uang yang ia mampu tawarkan.

Maka kembalilah sang pemuda ditunjukkan sebuah toko yang jauh lebih besar dan pemiliknya yang lebih kaya raya. Di sanalah akhirnya sang pemuda berhasil menjual mutiara itu seharga 120 ribu dirham.

Baca juga: Kisah Pemuda Jadi Mualaf Setelah Mimpi Bertemu Rasulullah dan Nabi Isa 

Membawa pulang uang tersebut, pemuda tadi menceritakan kisahnya kepada istrinya. Di tengah waktu, tiba-tiba mereka dihampiri oleh dua orang fakir miskin. Dikarenakan iba, sang istri berinisiatif memberikan sebagian uang penjualan mutiara itu kepada dua fakir tersebut, mengatakan bahwa total 120 ribu dirham seluruhnya dinilai terlalu banyak untuk ia dan keluarga.

"Kata istrinya: 'Hari ini kita diberikan oleh Allah rezeki yang luar biasa banyaknya. Ini terlalu banyak untuk kita. Lebih baik sebagian kita berikan kepada orang fakir miskin."

Diberikanlah setengahnya kepada fakir miskin tanpa berpikir panjang, bentuk syukurnya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Mereka memberikan 60 ribu dirham.

Mengejutkan karena baru beberapa langkah setelah diberikan uang itu, kedua fakir miskin tadi kembali pada mereka dan mengembalikan uangnya, seraya mengatakan bahwa itu adalah uang sang pemuda dan istrinya dan merupakan rezeki dari Allah Subhanahu wa ta'ala.

Baca juga: Jelang Haji, Pasien Sembuh dari Covid-19 di Arab Saudi Terus Bertambah 

Lalu kedua orang fakir miskin tadi pun mengakui bahwasanya mereka bukanlah manusia, melainkan malaikat yang diutus Allah Subhanahu wa ta'ala untuk menguji keduanya.

Dari kisah ini maka dapat diteladani bahwa bersedekah dengan menyisihkan sebagian harta penuh keikhlasan dan ketulusan akan dijanjikan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala mendapat rezeki yang berlipat ganda.

Bahkan dalam salah satu firman-Nya, Allah Subhanahu wa ta'ala menjanjikan bahwa tak akan jatuh miskin bagi mereka yang bersedekah, justru akan diyakini diperluas rezekinya.

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya: "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS Al Baqarah: 261)

Wallahu a'lam.

Baca juga: Alhamdulillah Raja Salman Sukses Jalani Operasi 

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini