Kisah Sahabat Mush'ab bin Umair, Duta Islam Pertama di Zaman Rasulullah

Saskia Rahma Nindita Putri, Jurnalis · Jum'at 14 Agustus 2020 09:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 14 614 2261992 kisah-sahabat-mush-ab-bin-umair-duta-islam-pertama-di-zaman-rasulullah-9Q441IDekf.JPG Ilustrasi (Foto: Pixels)

RASULULLAH Shallallahu 'alaihi wasallam beserta para sahabatnya begitu gencar dalam mempertahankan dan menyebarkan agama Islam. Salah satu sahabat yang begitu bersemangat ialah Mush’ab bin Umair.

Ia begitu semangat dan piawai dalam menjalankan tugas dakwahnya. Banyak aksi dan kisah luar biasa yang terjadi selama proses hijrah dari seorang Mush’ab.

Kilas balik ke-3 tahun sebelum hijrah, Nabi Muhammad sedang berkeliling kampung untuk berbicara dengan berbagai suku tentang Islam. Saat itu, Rasulullah meminta mereka untuk percaya padanya, menjamunya dan mendukungnya atas apa yang beliau sampaikan. Beliau bertemu dengan berbagai suku yang menghadiri haji, lalu menyampaikan tawarannya kepada para pemimpin haji.

Seusai diskusi panjangnya dengan Bani Shaiban, beliau bertemu dengan enam orang, yang berasal dari suku yang disebut Al-Khazraj, salah satu dari suku utama di Madinah, sebuah kota di utama Makkah yang kemudian dikenal sebagai Yastrib.

Nabi Muhammad saat itu menjelaskan kepada mereka tentang Islam, tak butuh waktu lama mereka pun memutuskan untuk masuk Islam. Beliau tidak meminta mereka untuk menjamunya secara berlebihan karena mereka hanyalah enam orang dari golongan orang biasa.

Selanjutnya, enam orang ini kembali ke Madinah dan kembali di tahun selanjutnya untuk mempertemukan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam dengan enam rekan lainnya yang turut tertarik dengan Islam. Mereka akhirnya bertemu di sebuah tempat bernama Al-Aqabah, dalam sebuah pertemuan bertajuk "Sumpah Pertama di Al-Aqabah".

Mereka menyebutkan janji dengan lantang kepada Rasulullah untuk menyembah Allah dan tidak akan menyekutukanNya dengan apapun. Mereka juga berjanji untuk tidak melakukan perbuatan keji, seperti mencuri, berzina, atau membunuh, dan akan mematuhi segala perintah atas mereka untuk berbuat baik.

Baca juga: Pengusaha Muslim India Ini Sulap Kantornya Jadi Faskes bagi Pasien Covid-19

Kota Yastrib adalah tempat terbuka yang segar untuk menyebarkan Islam dan berpotensi menjadi pusat dakwah. Nabi melihat kesempatan itu dan tidak bisa membiarkannya tanpa melakukan yang terbaik untuk memanfaatkannya demi dakwah. Dia memutuskan untuk mengirim seseorang ke kota untuk mengajari orang-orang Islam dan menyampaikan pesan kepada mereka.

Pilihannya sangat penting untuk keberhasilan misi ini. Nabi memilih sahabat Mushab bin Umair. Terkait dipilihnya Mush'ab, terdapat beberapa faktor yang rupanya menjadi pertimbangan Nabi untuk memilihnya memikul tanggung jawab yang besar ini.

Melasnir dari laman About Islam, Jumat (14/8/2020), alasan Nabi memilih Mush’ab adalah karena dirinya saat itu berusia kepala tiga, yang mana usia tersebut tidak terlalu tua atau terlalu muda untuk dibebani tanggung jawab besar di Madinah. Di usia tersebut juga sudah memiliki pemikiran matang yang dapat mengantisipasi tindakan tidak bijaksana atau sembrono.

Tak hanya itu, Mush’ab juga pernah berpengalaman melakukan perpindahan tempat sebanyak 2 kali, yang sebelumnya migrasi ke Abyssinia yang menyebabkan dirinya seringkali meninggalkan Makkah dan dalam waktu yang lama. Hal ini menyebabkan Mush’ab juga berpengalaman dalam berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda, baik dari segi budaya hingga bahasa.

Mush’ab juga berasal dari keluarga yang sangat terhormat, keluarga Bani Abd Ad-Dar, penjaga kunci Kakbah. Sebagai orang ternama, tentu orang-orang Madinah akan selalu mendengar ucapannya dan dengan mudah berinteraksi dengan mereka. Mush’ab juga memiliki kemampuan untuk meyakini seseorang dalam penyampaian pesannya, bahwa Islam bukanlah revolusi orang miskin untuk melawan orang kaya.

Hal ini akan membantu para borjuis Madinah untuk memeluk Islam. Ia juga akan secara tak langsung menjadi panutan bagi mereka yang terpaksa harus kehilangan kekayaannya untuk menjadi Muslim jika mereka ditentang oleh keluarga atau suku mereka.

Sebagai mualaf, Mush’ab sudah sering terlibat dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad dan banyak belajar tentang Islam dan Alquran dari beliau. Karenanya, ia memiliki pengetahuan yang cukup tentang apa yang harus ia benahi di Madinah, dan juga kebijaksanaan yang turut menyertainya.

Mush’ab bin Umair turut dikenal sebagai pribadi yang baik, dengan tutur kata yang lembut dan kefasihannya dalam menjelaskan sesuatu yang merupakan bekal lengkap yang dibutuhkan untuk mempresentasikan Islam yang efektif dan menyampaikan pesannya kepada banyak orang. Kualitas dalam diri Mush’ab ini dapat dilihat dari kesehariannya dalam berinteraksi dengan orang-orang di Madinah dan kemampuannya dalam memperngaruhi mereka secara positif.

Keunggulan Mush’ab yang tak luput dari perhatian Nabi Muhammad dalam memilihnya adalah bahwa Mus’ab tidak pernah meninggalkan apa yang telah menjadi tugasnya, dan tak mudah tergoda akan hal duniawi selama ia menjalankan misinya di Madinah. Ia sudah mampu bertahan dalam ujian berat yang ia pernah hadapi, yakni saat ibunya sendiri sangat menentang dirinya menjadi seorang muslim.

Keyakinan Mush’ab akan Islam tak akan membuatnya kembali ke masa dahulu ketika ia masuk pada golongan jahiliyah dengan menyembah berhala. Fokus dirinya terhadap Allah dan RasulNya ini yang membuatnya berani untuk memutuskan melepas semua kemewahan dan kekayaan yang sebelumnya biasa ia nikmati.

Ia dengan tegas memilih Islam dengan meninggalkan salah satu kekayaan terbesar di Makkah. Ketangguhan hatinya untuk tidak tergoda dengan urusan duniawi seperti ini yang kemudian memberikan gambaran bahwa orang seperti Mush’ab inilah yang tidak akan pernah terjerat perangkap godaan apapun yang mungkin saja ia temui selama dirinya berada di Madinah.

Baca juga: Hebatnya Khasiat Urine Unta, Bisa Sembuhkan Penyakit Edema

Kemungkinan lainnya, dengan ia yang berhasil menundukkan sebagian besar masyarakat Madinah untuk memeluk Islam, bisa saja ia tergoda akan kepemimpinan. Namun, seperti yang telah dipertegas olehnya, ia telah kebal dengan segala perangkap jeratan berkaitan dengan hal duniawi, salah satunya tergiur akan tahta. Dikorbankannya peluang untuk menjadikan dirinya seorang pemimpin ini dirasa merupakan keputusan yang tepat demi tujuan utamanya untuk membuat suku-suku di Madinah masuk Islam.

Maka, penjabaran alasan inilah yang menjadikan Rasulullah begitu yakin memilih Mush’ab untuk memikul tanggung jawab yang besar itu. Dengan begitu, Mush’ab pun dijuluki sebagai duta pertama Islam atas keberhasilannya dalam menyebarluaskan risalah Islam dengan menggunakan seluruh kemampuan dan keunggulannya.

Ini adalah sebuah kesuksesan nyata. Berkat usahanya, kini setiap rumah di Madinah serta orang-orang mayoritas di sana telah memeluk agama Islam. Mush’ab bin Umair sangat berjasa dalam menjadikan Madinah sebagai kota tuan rumah Nabi dan pusat bimbingan bagi seluruh umat manusia hingga detik ini.

Dalam satu tahun, 75 dari orang-orang tersebut kembali ke Makkah untuk memanggil Rasulullah agar bergabung dengan mereka di Madinah, karena tidak ada satu rumah tanggapun di Madinah kecuali di mana ada seorang muslim di dalamnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini