Begini Proses Turunnya Alquran hingga Sampai ke Kita

Saskia Rahma Nindita Putri, Jurnalis · Minggu 16 Agustus 2020 09:56 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 16 614 2262964 begini-proses-turunnya-alquran-hingga-sampai-ke-kita-HfIJ3w5U1x.jpg ilustrasi (stutterstock)

ALLAH SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai rasul terakhir junjungan kita, bersamaan dengan turunnya mukjizat kitab suci Alquran sebagai pedoman hidup manusia.

Turunnya surat berangsur-angsur dari terciptanya manusia pertama sampai Nabi Muhammad SAW, hingga akhirnya bisa sampai di tangan kita bukanlah sebuah proses yang singkat.

Lantas, bagaimana proses Al Quran, yang berasal dari surga, bisa sampai kepada seluruh umat manusia?

Aisha Stacey, seorang penulis surat kabar Islam nasional di Australia yang pernah belajar Islam di Qatar setelah jadi mualaf pada 2002, menjelaskan dalam artikelnya seperti dilansir dari About Islam, Minggu (16/8/2020), bahwa dalam Surat Asy Syura ayat 52, Allah telah menyatakan tentang turunnya Alquran sebagai petunjuk bagi umat manusia.

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy Syura [42]:52).

Baca juga: Sains dan Alquran Membuktikan, Nyamuk Serangga Imut yang Istimewa

Proses turunnya Alquran bermula dari malam yang dikenal dengan ‘Malam Keputusan’, yakni di bulan Ramadhan. Berawal dari tablet yang diawetkan turun ke surga terendah. Tablet kecil itu kemudian turun ke langit bumi melalui tahapan-tahapan kecil.

Wahyu yang diberi Allah SWT disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalu malaikat Jibril. Ketika Nabi Muhammad SAW menginjak usia 40 tahun, barulah beliau banyak menghabiskan waktunya untuk merenung secara mendalam.

Nabi Muhammad SAW pergi ke Gua Hira di Jabal Nur, Makkah untuk menyembah Allah SWT dan merenungkan kehidupan, alam semesta, dan hidupnya di dunia. Hingga suatu malam selama bulan Ramadhan, seorang malaikat mendatanginya dan memintanya untuk membaca, namun Nabi Muhammad SAW berkata bahwa beliau tidak bisa membaca.

Kemudian malaikat itu mendekap Nabi Muhammad SAW sampai tertekan dadanya. Malaikat melepaskannya kemudian memintanya untuk kembali membaca. Namun jawaban yang diberikan Nabi Muhammad Saw tetaplah sama, “Saya tidak tahu caranya membaca.”

Kembali, malaikat melahannya dengan paksa sampai tiga kali dan Nabi Muhammad SAW selalu menjawab bahwa ia tidak tahu bagaimana caranya membaca, atau apa yang harus i abaca. Dari sinilah awal mula Malaikat yang kemudian memberitahukan kepada Nabi Muhammad SAW kata-kata pertama dalam Alquran.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al Alaq [96]:1-5).

Itulah wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW, yang dimana setelahnya beliau tak lagi dihampiri oleh malaikat Jibril dalam waktu yang cukup lama.

Kali berikutnya beliau bertemu dengannya (malaikat) saat berjalan sendirian. Nabi Muhammad mendengar suara dari langit. Ketika beliau melihat ke atas, beliau melihat malaikat itu duduk di kursi antara langit dan bumi. Nabi Muhammad ketakutan dan lari pulang mencari pertolongan dan menutup dirinya dengan menggunakan selimut. Wahyu kedua turun saat itu.

“Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah!” (QS. Al Muddassir [74]:1-5).

Baca juga: Sains dan Alquran Buktikan, Delima Buah Kaya Manfaat

Selama 23 tahun berikutnya hingga sesaat sebelum ajal Nabi Muhammad SAW, Alquran diturunkan secara bertahap. Diungkap beberapa alasan terkait hal ini, dimana beberapa mengatakan bahwa diturunkan perlahan untuk menawarkan dukungan kepada Nabi Muhammad SAW dan mengatasi permasalahan yang muncul. Aisyah, istri Nabi Muhammad SAW, menceritakan bahwa ketika ditanya tentang bagaimana firman Allah SWT diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, ia menjawab:

“Terkadang seperti dering lonceng, bentuk inspirasi ini adalah yang paling sulit dari semuanya dan kemudian keadaan ini berlalu setelah saya memahami apa yang diilhamkan. Terkadang Malaikat datang dalam bentuk seorang pria dan berbicara kepada saya dan saya memahami apa pun yang dia katakan.” (Al-Bukhari).

Sedangkan Ibn Abbas menggambarkan Nabi Muhammad sebagai pembawa wahyu "dengan susah payah dan menggerakkan bibirnya dengan cepat".

Setelah beberapa kali wahyu Allah turun kepada Nabi Muhammad SAW, beliau mulai mengingatnya. Menghafal dianggap penting dan dipraktikkan secara luas di tahun-tahun awal Islam. Nabi Muhammad SAW mulai meminta para sahabatnnya untuk turut menghafal Alquran dan menggunakan berbagai cata untuk menjadikan wahyu-wahyu tersebut benar tersimpan dalam benak mereka.

Menurut Ibn Ishaq, penyusun salah satu biografi pertama Nabi Muhammad, Abdullah ibn Mas'ud adalah orang pertama, setelah Muhammad, yang membaca Alquran di depan umum dan pada kesempatan ini dipukuli dengan kejam. Sahabat terdekat Nabi Muhammad, Abu Bakar, juga dikenal membaca Alquran di luar rumahnya di Makkah. Alquran dihafal oleh para sahabat selama masa hidup Nabi Muhammad dan tradisi ini terus berlanjut sampai generasi berikutnya.

Bahkan saat ini umat Islam yang tidak dapat membaca bahasa Arab menghafal kata-kata yang sama persis dengan yang dihafal oleh orang Arab pada abad ke-7 Masehi. Mayoritas orang Arab tidak terpelajar, termasuk Nabi Muhammad; namun pentingnya kata-kata tertulis dipahami dengan baik.

Mempertahankan wahyu Allah adalah yang terpenting; karena itu orang-orang yang dapat dipercaya dan berpengetahuan menghafal dan menuliskan kata-kata Alquran.

Diantaranya adalah 4 orang yang ditakdirkan untuk mengikuti Muhammad sebagai pemimpin bangsa Muslim dan seorang pria bernama Zaid ibn Thabit, yang akan berperan penting dalam pelestarian Alquran untuk banyak generasi berikutnya.

Media untuk menulis sulit diperoleh dan pada masa-masa awal Islam. Sebagian dari Alquran ditulis pada kulit binatang, batu tipis berwarna terang, tulang, dan bahkan batang. Para sahabat menuliskan wahyu-wahyu dan Nabi Muhammad akan mendengarkan orang-orang membaca dari kata-kata tertulis tersebut untuk memastikan tidak ada kesalahan. Bisa dikatakan bahwa Alquran ditulis di bawah pengawasan langsung Nabi Muhammad, sebagai penerima wahyu Allah SWT.

Alquran tidak diturunkan secara berurutan, tetap secara berangsur-angsur dan acak. Namun Malaikat Jibril menginstruksikan Nabi Muhammad tentang bagaimana menyusun Alquran dalam urutan yang benar, sesuai dengan perintah dari Allah SWT.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini