Puncak Kenikmatan Tertinggi Manusia Bukan Surga, tapi...

Yudistira, Jurnalis · Senin 24 Agustus 2020 14:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 24 330 2266517 puncak-kenikmatan-tertinggi-manusia-bukan-surga-tapi-gJMCOCGMvs.jpg Ilustrasi (Freepik)

PUNCAK kenikmatan tertinggi manusia adalah ketika ia bertemu dan mengenal sang Maha Pencipta, Allah SWT. Dalam sebuah hadits Qudsi yang disampaikan langsung oleh Allah SWT melalui Nabi Muhammad:

يَا عَبْدُلَوْ اَعلَمتُكَ مَافِي الرُّؤيَةِ لَحَزِنتَ عَلى دُخُولِ الْجَنَّةِ

Artinya: "Wahai hambaku, andaikan Aku memberitahukan kepadamu kenikmatan yang ada di dalam ru'yah (bertemu atau mengenal Allah) tentu engkau akan bersedih hati ketika masuk surga (tidak bertemu Allah)."

"Puncak kenikmatan dan kebahagiaan manusia, adalah ketika bertemu Allah SWT. Surga itu tidak ada apa-apanya. Dalam tingkatan tertentu, surga itu tidak ada apa-apanya dibanding bisa bertemu dengan Allah SWT," kata pendakwah KH Buya Syakur Yasin MA dalam sebuah tausyiahnya dikutip dari video di Youtube Tasawuf TV, Senin (24/8/2020)

Buya Syakur juga menerangkan bagaimana cara seorang makhluk mampu bertemu dengan Tuhannya. Selain melakukan ibadah-ibadah yang sudah diwajibkan oleh Allah, Rasul dan para ulama.

"Syarat manusia mampu bertemu dengan Allah, adalah dengan membawa hati yang tidak memiliki penyakit sedikitpun. Jadi harus baik sekali. الا من اتى الله بقلب سليم . Seseorang yang datang kepada Allah dengan hati yang baik. Lalu, apakah orang yang rajin shalatnya, hatinya sudah baik? Belum tentu. Begitupun orang yang tidak shalat, apakah hatinya buruk, juga belum tentu seperti itu," ucapnya kepada para jama'ah.

Buya Syakur menganalogikan pertemuan dengan Allah, ibarat manusia bertemu dengan kekasihnya di dunia.

"Ibarat kalian datang ke rumah kekasih kalian, kemudian kalian tidak bertemu dengan penghuninya, bagaimana rasanya? Ya begitulah ibarat manusia masuk surga, tapi tidak bisa bertemu dengan pencipta surganya, pasti tidak ada kenikmatan" terangnya.

"Yang menentukan amal kita, adalah kualitas shalatnya, bukan shalatnya. Banyak sekali Allah menyinggung orang-orang yang shalat dalam Al Qur'an, seperti dalam ayat berikut

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ ۙ

"Maka celakalah orang yang sholat,

الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَا تِهِمْ سَاهُوْنَ ۙ

"(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap sholatnya,"

الَّذِيْنَ هُمْ يُرَآءُوْنَ ۙ

"yang berbuat riya',"

وَيَمْنَعُوْنَ الْمَا عُوْنَ

"dan enggan (memberikan) bantuan."

(QS. Al-Ma'un 107: Ayat 4-7)

Ayat tersebut menyinggung orang-orang yang rajin sholat, tapi tidak mau menolong orang lain.

“Lebih baik, jika anda bercita-cita, tidak hanya ingin masuk surga saja, tapi juga ingin bertemu Allah SWT. Sebab jika anda bertemu dengan Allah, surga itu tidak ada apa-apanya" pungkasnya.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini