Masjid Raya Ahmadsyah, Peninggalan Kesultanan Asahan dengan Arsitektur Khas Melayu

Selasa 25 Agustus 2020 23:25 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 25 614 2267457 masjid-raya-ahmadsyah-peninggalan-kesultanan-asahan-dengan-arsitektur-khas-melayu-tbDazgcA2o.jpg Masjid Raya Ahmadsyah di Kota Tanjungbalai, Sumut. (Foto: Ismanto Panjaitan/Sindonews)

MASJID unik dan bersejarah banyak terdapat di Indonesia. Dari ujung timur sampai barat berdiri masjid yang memiliki cerita tersendiri dalam pembangunannya. Salah satu masjid dengan nilai sejarah tinggi itu berada di Provinsi Sumatera Utara.

Di sana tersimpan bukti sejarah Kesultanan Melayu Asahan, tepatnya di Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara. Di wilayah ini menyisakan satu-satunya peninggalan monumental yang masih berdiri tegak yakni Masjid Raya Sultan Ahmadsyah.

Ya, masjid yang letaknya berada di Jalan Masjid, Kelurahan Indra Sakti, Kecamatan Tanjungbalai Selatan, tersebut dibangun pada masa Kesultanan Tuanku Ahmadsyah, Sultan Asahan IX, yang diperkirakan dibangun pada 1886–1888.

Baca juga: Wapauwe, Masjid Kuno di Maluku yang Pernah Berpindah Sendiri 

Dahulu masjid ini merupakan bagian dari kerajaan yang pembangunannya bersamaan dengan Istana Kota Raja Indera Sakti (KRIS) dan Istana Kota Dingin. Tapi kedua istana itu kini telah runtuh, rata dengan tanah.

Konon usia Masjid Raya Sultan Ahmadsyah lebih tua dari dua masjid tua lainnya yang berada di Provinsi Sumatera Utara yaitu Masjid Raya Al Mahsun yang berdiri tahun 1909 di Kota Medan dan Masjid Raya Sulimaniya yang berdiri pada 1894 di Kabupaten Serdang Bedagai.

Di bagian arsitekturnya, masjid ini memiliki ciri khas masjid Melayu. Bangunannya berbentuk persegi panjang, sementara pinggiran atapnya memiliki memiliki pahatan pucuk rebung. Masjid didominasi warna hijau dan kuning khas warna Melayu.

Ilustrasi masjid. (Foto: Freepik)

Masjid ini memiliki keunikan tersendiri. Hal itu bisa dilihat dari tidak adanya tonggak atau pilar penyangga loteng yang berada di tengah bangunan. Struktur bangunan masjid yang demikian dimaknai bahwa Allah Subhanahu wa ta'ala tidak memerlukan penyangga untuk berdiri.

"Selain itu makna yang lainnya ialah agar shaf sholat tidak terhalang atau terputus oleh tonggak atau tiang tersebut," kata Tengku Aleksander, anak ke-8 Sultan Saibun, di Tanjungbalai, Kamis 20 Agustus 2020, dikutip dari Sindonews. Sultan Saibun merupakan Sultan Asahan XI.

Keunikan lain dari arsitektur Masjid Raya Sultan Ahmadsyah ialah pada fondasi. Bahan materialnya tidak menggunakan semen, melainkan campuran pasir, tanah liat, dan batu bata. Namun sampai sekarang masih kukuh dan membuat masjid tegap berdiri.

Kemudian tata letak kubah masjid ini juga berbeda dengan lainnya. Kalau mayoritas masjid letak kubahnyanya persis di tengah-tengah bangunan masjid, maka untuk Masjid Sultan Ahmadsyah letak kubahnya berada di bagian depan bangunan.

Baca juga: Masjid As-Salafiyah, Saksi Bisu Perlawanan Pangeran Jayakarta Mengusir Penjajah 

Pada bagian dalam masjid sendiri terdapat sebuah mimbar yang berornamen China. Mimbar ini didatangkan langsung oleh Sultan dari China pada masa itu. Sementara di bagian belakang mimbar terdapat panji hijau kembar terpancang kukuh.

Seperti kebanyakan di masjid kesultanan lainnya, pada bagian depan mimbar tersebut terpahat hiasan kaligrafi dengan gaya khas tsuluts yang indah. Selain itu juga terdapat kompleks pemakaman keluarga diraja Asahan. Makam yang ditandai beragam bentuk nisan dan menjadi tolok ukur untuk menilai usia masjid atau keberadaan pertapakannya.

Pembangunan masjid ini digagas oleh Sultan Ahmadsyah atau juga dikenal dengan gelar Marhum Maharaja Indrasakti. Tuanku Ahmadsyah merupakan Sultan Asahan IX, menggantikan ayahandanya Sultan Muhammad Husinsyah (1813–1854).

Pada pemerintahannya (1859–1888), Sultan Ahmadsyah dikenal sebagai pemimpin arif dan bijaksana. Tidak hanya itu, ia juga dikenal sebagai sultan yang tak pernah mau tunduk kepada Belanda. Sultan bahkan sempat diasingkan selama 21 tahun ke Riau, sebelum naik takhta kembali pada 25 Maret 1886 sampai 27 Juni 1888.

Baca juga: Sederet Masjid Kuno Saksi Sejarah Perkembangan Islam di Kota Jeddah 

Tidak diketahui berapa banyak biaya yang dihabiskan Sultan Ahmadsyah untuk membangun masjid beserta Kompleks Istana Asahan ini. Namun perluasan dan diversifikasi tanaman perkebunan ke daerah selatan jadi dasar perbaikan ekonomi Sultan Ahmadsyah dari Asahan.

Diperkirakan pendapatan Sultan Asahan IX pasca-pemulihan kekuasaannya dari konsesi tanah sudah lebih dari cukup untuk membangun kembali ibu kota Kesultanan Negeri Asahan.

Pengembangan kota sejak tahun 1970-an telah mengubah kedudukan Masjid Sultan Ahmadsyah dalam tata ruang Kota Tanjung Balai yang menjadikannya sebagai aset kebudayaan, di kota yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Asahan itu.

Baca juga: Masjid 99 Kubah Belum Rampung, Tokoh Agama Sepakat Tunda Aktivitas Ibadah 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini