Sudah 7 Kali Direnovasi, Masjid Al-Osmani di Medan Tetap Bercorak Eropa, China dan Melayu

Vitrianda Hilba Siregar, Jurnalis · Rabu 23 Desember 2020 15:29 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 23 614 2332865 sudah-7-kali-direnovasi-masjid-al-osmani-di-medan-tetap-bercorak-eropa-china-dan-melayu-mmNwr4GaLy.jpg Masjid Al-Osmani di Kota Medan menjadi masjid yang tertua. (Foto: SINDOnews)

MEDAN Masjid unik dan mempunyai nilai sejarah tinggi yakni Masjid Al Osmani berada di Jalan KL Yos Sudarso, Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan.

Masjid ini juga sudah menjadi cagar budaya.Masjid Al Osmani ini dibangun pertama kali oleh Sultan Osman Perkasa Alam pada 1854.

Menurut Pengurus Badan Kenaziran Masjid (BKM) Raya Al-Osmani, Ahmad Faruni, sesuai dengan nama yang membangunnya, maka masjid ini disebut dengan Masjid Raya Al-Osmani Labuhan Deli.

Baca Juga: Cara Agar Rumah Tangga Bahagia Dunia Akirat, No 5 Patut Diingat

“Pembangunan masjid saat itu terbuat dari kayu dengan ukuran 16 x 16 meter dengan bentuk panggung, karena melihat kondisi alam saat itu,” jelas Faruni, belum lama ini. Masjid Raya Al-Osmani menjadi masjid tertua di Kota Medan.

Faruni mengisahkan, di masa kejayaannya, Sultan Osman mendirikan rumah ibadah yang sangat sederhana. Salah satu tujuan pendirian rumah ibadah ini untuk mengumpulkan umat Islam, terutama Suku Melayu yang berkembang saat itu. Juga sebagai tempat sultan dan rakyatnya bertemu.

Sehabis masa Sultan Osman, digantikan sultan kedelapan yakni Sultan Mahmud Perkasa Alam, anak kandung Sultan Osman. Pada masa Sultan Mahmud terjadi perubahan besar-besaran Masjid Raya Al-Osmani. Awalnya terbuat dari kayu, menjadi batu permanen.

Baca Juga: Malam Tahun Baru, MUI Ingatkan Muhasabah dan Tobat Nasuha

Saat itu pembangunannya memakan waktu, karena arsitek asal Jerman memikirkan bagaimana membuat masjid ini tidak hanya popular pada zamannya, tapi juga populer di masa-masa akan datang,” ungkap Faruni.

Dengan keuletan sang arsitek beserta Sultan Mahmod, akhirnya Masjid Raya Al-Osmani terbangun dan memiliki unsur arsitektur dengan beragam seni, mulai dari seni India, Timur Tengah, Eropa, China dan diselimuti oleh Melayu.

Untuk seni Eropa terlihat dari bangunan minimalis masjid. India dapat dilihat di ruang utama masjid, bagian atas masjid atau kubah mirip dengan Taj Mahal. Untuk Timur Tengah bisa dilihat dari tiang-tiang yang mirip dengan masjid di Timur Tengah.

Untuk seni China bisa dilihat dari pintu-pintu masjid dengan motif-motif China. Untuk Melayu Deli bisa dilihat dari dua warna pada Masjid Raya Al-Osmani, kuning yang dipadukan dengan hijau.

Warna kuning melambangkan suku Melayu Deli dan Hijau melambangkan keislamannya. Artinya, Melayu sangat menjunjung tinggi adat budaya istiadat serta agama sebagai fondasi menegakkan agama Islam.

Masjid Raya Al-Osmani sudah lebih kurang tujuh kali direnovasi, mulai dari pertama kali didirikan pada tahun 1854, dengan bahan kayu pilihan. Di tahun 1870 sampai 1872, dibangun menjadi bangunan permanen.

Kemudian dilakukan rehab oleh Deli Maatschappij, NV perusahaan Belanda, pada tahun 1927. Di tahun 1963 sampai 1964 dilakukan rehab oleh T Burhanuddin, Dirut Tembakau Deli II.

Tahun 1977 dilakukan rehab dari dana bantuan Presiden di masa Wali Kota Madya KDH tingkat II Medan, yaitu HM Saleh Arifin. Pada 1991 sampai 1992 dilakukan pemugaran atas prakarsa Wali Kota Madya KDH tingkat II Medan, H Bachtiar Djafar. 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini