Sebelum Melahirkan Rasulullah, Siti Aminah Mimpi Bertemu Nabi Ibrahim

Tim Okezone, Jurnalis · Selasa 29 Desember 2020 14:13 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 29 614 2335634 sebelum-melahirkan-rasulullah-siti-aminah-mimpi-bertemu-nabi-ibrahim-yNBH3W26HU.jpg Nabi Muhammad SAW. (Foto:Freepix)

JAKATA - Siti Aminah atau lengkapnya Aminah binti Wahab bin Abdul Manaf bin Zahrah bin Kilab, ibu dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perempuan yang kerap dipanggil Siti Aminah, yang merupakan seorang keturunan Quraisy. Beliau lahir di Bani Zuhrah dan tumbuh besar di dekat Baitul Atiq.

Ayah Siti Aminah yakni Wahab bin Abdul Manaf merupakan pemimpin Bani Zahrah yang memiliki nasab dan keturunan yang tinggi. Begitu pula dengan Siti Aminah. Sementara ibunda Aminah bernama Barrah binti Abdul Uzza. Walau hidup dari keluarga yang cukup terpandang , sejak dini Sayyidah Aminah hidup dengan cara sederhana. Bahkan Aminah lahir di sebuah rumah kuno.

Baca Juga: Bukti Adanya Toleransi, Masjid Awal Berusia 93 Tahun di Simalungun

Aminah kecil merupakan sosok yang aktif dan cerdas . Ia kerap datang ke Kakbah untuk menyaksikan orang-orang sedang bertawaf atau sekedar melepas dahaga dengan minum air zam-zam. Tak jarang Aminah bersama teman-temannya masuk ke Baitul haram untuk melihat makam Nabi Ibrahim dan sumur Zamzam. Aminah bahkan pernah meminum airnya.

Saat itu masih banyak berhala yang diletakkan di sekitar Kakbah. Keyakinan orang Quraisy dulu bahwa berhala-berhala tersebut dapat medatangkan keberkahan serta keselamatan bagi mereka. Mereka menyembah berhala dengan niat mendekatkan diri kepada Allah.

Baca Juga:  Apa Bedanya Masjid Agung dengan Masjid Raya

Tradisi tersebut justru membuat Aminah kecil heran. Ia justru ragu patung-patung yang dibuat oleh tangan manusia tersebut mampu memenuhi dan melindungi pembuatnya sendiri. Baginya, berhala tersebut tidak memberi manfaat bagi orang-orang sekitar.

Aminah kemudian tumbuh menjadi remaja. Pada suatu riwayat, dikisahkan bahwa Aminah sudah mengenal Abdullah sebelum habis masa kanak-kanaknya. Aminah dan Abdullah yang kemudian menjadi suaminya tersebut sering bertemu di bukit-bukit antara Mekkah. Bukit tersebut merupakan tempat berkumpulnya para pemimpin kabilah Quraisy setiap kali ditimpa musibah.

Tak lama setelah itu, Aminah menunjukkan tanda-tanda kedewasaan. Seperti budaya orang Arab zaman dulu, perempuan dipingit dan tidak dibiarkan keluar rumah tanpa alasan yang penting. Di saat yang sama, Abdullah juga turut beranjak dewasa.

Di saat anak-anaknya mulai dewasa, para pemimpin kabilah Quraisy ini berlomba-lomba menikahkan anak mereka dengan keturunan yang mulia nasabnya. Oleh sebab itu, Abdul Mutahlib memilih Aminah untuk dijadikan mantunya.

Dirangkum dari berbagai sumber, setelah khitbah dan melangsungkan pernikahan, Aminah dan Abdullah tinggal di Makkah. Di sini, Aminah mulai mengandung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Saat Aminah mengandung beberapa bulan, Abdul Muthalib meminta Abdullah untuk melakukan perjalanan bisnis ke Madinah dan Syam. Sekembalinya dari Syam menuju Madinah, Abdullah jatuh sakit dan tak lama kemudian meninggal dunia. Jenazahnya dikuburkan di kediaman Al Nabighag Al Dzibyani.

Kepada sang istri, Abdullah mewariskan lima ekor unta, beberapa kambing, dan seorang budak perempuan bernama Ummi Aiman.

Mendengar kabar wafatnya sang suami tentu membuah Siti Aminah dilanda kesedihan. Walau demikian, ia tetap harus melahirkan cabang bayinya tersebut. Mengutip dari beberapa riwayat, dikisahkan bahwa Aminah mengalami kejadian-kejadian istimewa selama 12 hari sebelum melahirkan putranya.

Yang paling mahsyur adalah kisah munculnya cahaya terang di malam hari kelahiran sang nabi. Ada juga yang mengatakan bahwa Aminah sempat bermimpi bertemu dengan Nabi Ibrahim dan mendapat bisikan malaikat.

Pada saat melahirkan Nabi Muhammad, yakni pada 12 Rabiul Awal, Tahun Gajah, Aminah tidak merasakan nyeri dan sakit sebagaimana perempuan yang tengah melahirkan. Nama Muhammad dipilih oleh Abdul Muthalib dengan alasan bahwa nama tersebut tidak seperti nama-nama yang digunakan dahulu. Sang kakek juga berharap cucunya tersebut menjadi orang yang terpuji.

Kebiasaan orang Arab zaman dulu adalah menitipkan bayi-bayi mereka ke daerah dusun untuk disusukan. Oleh sebab itu, sejak kecil Muhammad sudah sudah tinggal di badui dan disapih oleh Halimah. Setidaknya hingga umur tiga tahun, Nabi Muhammad tinggal bersama Halimah dan ketiga saudara sepersusuannya.

Setelah peristiwa pembelah dada oleh Jilbril, Nabi Muhammad akhirnya dikembalikan ke pangkuan Aminah. Setidaknya selama tiga tahun, Rasulullah menghabiskan masa kecilnya bersama sang ibu. Aminah mencurahkan seluruh cinta dan perhatiannya kepada putra semata wayangnya tersebut. Begitu pula dengan kakek, paman, bibi, dan sepupu-sepupu Rasulullah yang lain.

Hingga Nabi Muhammad berumur enam tahun, Aminah mengajak putranya untuk berziarah ke makan sang ayah di Madinah. Maka berangkatlah Aminah dan Nabi Muhammad dengan ditemani Ummu Aiman.

Kunjungan Aminah dan Nabi Muhammad di Madinah tak cukup lama. Rasulullah sempat dikenalkan dengan paman-pamannya. Ia juga sempat berenang di kolam Adi dan beramain di kebun serta di jalan-jalan di Yastrib.

Satu bulan berlalu, Aminah, Nabi Muhammad dan Ummu Aiman memutuskan kembali ke Makkah. Namun, di tengah perjalanannya, Aminah jatuh sakit. Beliau kemudian dibawa ke Abwa dan meninggal di sana. Wallahu ‘alam. (Widianingsih)

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini