JAKARTA - Pengetahuan tentang nyamuk dan perannya dalam menimbulkan penyakit masih terasa mustahil sebelum ditemukan mikroskop. Misalnya, peran nyamuk dalam membawa parasit malaria, tidak diketahui kecuali beberapa tahun sebelum abad ke-20.
Sir Ronald Ross adalah ahli bakteri Inggris yang menemukan parasit malaria dalam sistem gastrointestinal nyamuk Anopheles pada 1897, dan meletakkan dasar untuk melawan penyakit tersebut. Pada 1898, sekelompok ilmuwan Italia berhasil menemukan peran nyamuk dalam membawa benih-benih penyakit.
Kata malaria sendiri berasal dari bahasa Italia yang berarti udara yang rusak. Hingga kini, kata ini masih digunakan karena merupakan istilah historis. Padahal, maknanya dilandasi anggapan yang salah, bahwa penyakit berpindah ke dalam tubuh manusia melalui udara yang kotor.
Oleh sebab itu, saat Al-Quran sudah mengungkap bahanya nyamuk. Dengan demikian, Al Quran telah mendahului pengetahuan ilmiah abad ke 20.
Baca Juga : Sains dan Alquran Lebih Dulu Ungkap Kehidupan Luar Biasa Nyamuk
Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, "Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?" Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu banyak (pula) orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang fasik. (Surat Al Baqoroh Ayat 26).

(Foto: Shutterstock)
Di antara keterangan Al-Quran yang mengandung mukjizat ialah ayat-ayatnya yang lebih cenderung menggunakan kata ba'údhah (nyamuk betina) dan dhamir ha pada kata fauq yang menunjukkan makna mufrad (tunggal) dan ta'nits (feminin) ketimbang menggunakan kata bu'üdh (nyamuk jantan) atau bentuk jamak yang menandakan kesamaan dua jenis dalam hal sifat.
Dan faktanya, ternyata hanya nyamuk betina saja yang mendapat makanannya dengan cara mengisap darah dan menularkan pe- nyakit. Nyamuk jantan tidak memiliki organ mulut (moncong) yang dapat melubangi kulit.
Demikianlah, Al-Quran menggunakan kata fakta ilmiah jauh sebelum diungkap ilmu pengetahuan modern. Al-Quran menafikan keseganan Allah membuat perumpamaan berupa nyamuk, tak lain untuk menunjukkan peran penting nyamuk dan makhluk yang serupa dengannya, serta untuk mengecam sikap orang-orang kafir yang meremehkan makhluk tersebut. Al Qur’an juga ingin membongkar kesalahan mereka yang mengabaikan bahaya nyamuk.
Baca Juga : Ini Alasan Nyamuk Suka Mengisap Darah Manusia
Dalam ayat di atas, bermacam jenis nyamuk ditunjukkan oleh kata ba'udhah dalam bentuk nakirah. Dan kata må yang disebut dua kali menandakan sesuatu yang lebih rendah dari nyamuk atau yang lebih besar darinya, seperti binatang-binatang yang bisa menularkan penyakit.
Sedangkan kata fauq, secara etimologi maknanya ialah ketinggian dan kelebihan dalam hal sifat. Kaliat ba'idhatan famà fauqahâ maknanya, sesuatu yang melebihi nyamuk dalam hal bentuk dan remehnya Penggunaan kata ini berkonotasi penurunan derajat dari 'hina' menjadi "lebih hina', apalagi huruf fa setelahnya menunjukkan adanya hubungan antara kalimat sesudahnya dengan kalimat sebelumnya.