Kisah Nabi Muhammad SAW Bermuka Masam di Depan Seorang Buta

Dian Ayu Anggraini, Jurnalis · Jum'at 19 Februari 2021 18:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 19 330 2364915 kisah-nabi-muhammad-saw-bermuka-masam-di-depan-seorang-buta-KMtWkuekhZ.jpg Nabi Muhammad SAW. (Foto: Ilustrasi Freepix)

JAKARTA – Sebuah kisah disebutkan dalam Al-Quran Surat Abasa ayat 1 hingga 16, ketika Nabi Muhammad SAW bermuka masam di depan seorang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum.

Melalui kisah ini Allah SWT mengingatkan Rasulullah tentang sikap Nabi Muhammad SAW.

Selama berdakwah di Makkah selama kurang lebih 13 tahun, selama itu pula, Nabi merasakan lika-liku berdakwah yang tidak mudah.

Baca Juga: Nabi Muhammad SAW Mendapat Penghinaan Menyakitkan saat Berdakwah

Pada suatu waktu, Rasulullah berkesempatan berdialog dengan para pembesar kaum kafir Quraisy. Nabi Muhammad SAW terus mengajak mereka untuk mengikuti ajaran Islam dan beriman kepada Allah.

Namun, di tengah kegiatan berdialog tersebut, muncul seorang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Dia meminta kepada Rasulullah untuk diajari ayat-ayat Al-Quran yang diturunkan Allah SWT.

Rasulullah merasa kehadiran Abdullah bin Ummi Maktum berada di waktu yang tidak tepat, sehingga beliau bermuka masam dan tidak mempedulikannya.

Baca Juga: Peristiwa Isra Miraj, Saat Malaikat Jibril Ajarkan Nabi Muhammad SAW Sholat 5 Waktu

Dilansir dari video milik akun YouTube Kisah Islami, Jumat (19/2/2021) disebutkan, setelah cukup lama berdebat, harapan Nabi Muhammad SAW untuk mengislamkan para pembesar kaum kafir Quraish pun sirna. Mereka belum juga bersedia masuk Islam.

Setelah kepergian para pembesar kaum kafir Quraish, pandangan Rasulullah menjadi gelap dan kepala beliau terasa sakit. Seketika itu turun surat Abasa ayat 1 hingga 16.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (alasan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran). Sedangkan ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti.” (QS Abasa : 1-16)

Sejak saat itu, Rasulullah memberikan perhatian lebih kepada Abdullah bin Ummi Maktum. Ketika umat Islam menetap di Madinah, Nabi Muhammad SAW menjadikan Abdullah bin Ummi Maktum sebagai muadzin Sholat Subuh bergantian dengan Bilal bin Rabah.

Meskipun seorang buta, Abdullah bin Ummi Maktum, semangatnya dalam beribadah memotivasi para sahabat untuk datang lebih awal ke tempat ibadah. Sebagaimana hadis diriwayatkan Aisyah radhiallahu’anha.

"Sesungguhnya Bilal adzan waktu (sepertiga) malam. Karena Rasulullah bersabda. Makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum adzan. Karena ia tidak akan adzan kecuai setelah terbitnya fajar shadiq (masuk waktu subuh).” H.R Aisyah radhiallahu’anha. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini