JAKARTA - Buta aksara Qur'an di Indonesia mencapai 65 persen. Kementerian Agama pun menilai hal ini memang sebuah realita di lapangan yang menjadi tantangan bersama.
Sekretaris Ditjen Bimas Islam, Kemenag M. Fuad Nasar mengatakan hasil riset dari Hidayatullah itu memang kenyataan yang terjadi.
"Ini tentu adalah problem yang sangat serius dan memanggil kita semua, baik pemerintah maupun segenap pembina umat Islam, untuk dapat mengatasi buta aksara Al-Qur'an," jelas Fuad, pada Selasa (2/3/2021) dalam keterangan tertulisnya.
Baca Juga: Pahala Sholat Jenazah Dapat 1 Qirath Pahalanya Sebesar Gunung Uhud
Fuad mengatakan Kementerian Agama bisa memfasilitasi masyarakat untuk mendapatkan Al-Quran karena mereka mempunyai Unit Percetakan Al-Qur'an (UPQ), sehingga masyarakat bisa mengajukan apabila ingin belajar membaca Al-Quran.
Baca Juga: Miras Itu Ummul Khabaaits, Induk Segala Keburukan
"Bahkan saat ini banyak sekali gerakan wakaf Qur'an baik perbankan syariah, ormas-ormas Islam, dan lembaga zakat. Sehingga tidak ada alasan bagi masyarakat untuk tidak melakukan langkah konkrit mengatasi buta aksara Al-Quran yang angkanya masih cukup tinggi," lanjut Fuad.
Selain itu, Fuad menyampaikan Kementerian Agama juga telah melakukan sejumlah acara Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ), Musabaqah Hifdzil Qur'an (MHQ), dan acara semacamnya dalam rangka mendekatkan umat Islam dengan Al-Qur'an sebagai pedoman kehidupan.
"Tetapi di satu sisi, memang kita dihadapkan pada data-data masih banyak angka generasi muda yang masih buta aksara Al-Qur'an, dan ini menjadi tantangan bagi kita semua," tutupnya.
(Vitrianda Hilba Siregar)