Berbagai Aliran dalam Islam yang Kontroversi dari Zaman Nabi

Vitrianda Hilba Siregar, Jurnalis · Sabtu 13 Maret 2021 05:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 12 330 2376841 berbagai-aliran-dalam-islam-ini-bentuk-yang-masih-eksis-hingga-saat-ini-e4fWO4wKPV.jpg Berbagai aliran dalam Islam. (Foto:Okezone/Dok/Ilustrasi)

JAKARTA - Aliran sesat kembali menyeruak di Banten tepatnya di Kabupaten Pandeglang. Aliran sesat rupanya sudah lama keberadaannya.

Aliran ini mensyaratkan mandi bareng antara laki-laki dan perempuan hingga anak-anak dalam kondisi tanpa busana yang hebohkan warga setempat.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten, A.M Romly pun menyebutkan, aliran ini adalah aliran bernama Hakekok yang menggemparkan masyarakat Kabupaten Pandeglang telah lama adanya. Bahkan, telah tersebar di beberapa daerah.

Jauh sebelumnya, aliran Islam setidaknya 7 aliran. Mengapa bisa ada begitu banyak aliran. Terbaginya aliran-aliran dalam Islam merupakan salah satu bentuk dari beda pendapat para orang-orang terdahulu. Dalam Islam sebenarnya banyak aliran, yang menyebarkan serta mengajarkan Islam dengan berbagai versi.

Baca Juga: Keberadaan Istri dalam Al-Qur'an, Ternyata Bukan Sebatas Pendamping Hidup

Menurut Farid Zainal Effendi, penulis aliran–aliran dalam Islam, aliran dalam Islam mulai tampak pada saat perang Siffin (37 H) Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah.

Persoalan persoalan yang terjadi yang melahirkan aliran – aliran dalam islam baru tidak luput dari persoalan politik. Harun Nasution, Mantan Rektor UIN Jakarta sekaligus penulis buku “Teologi Islam, Aliran – Aliran Sejarah Analisa Perbandingan” mengatakan dalam bukunya bahwa yang legal menjabat sebagai Khilafah pada saat itu hanyalah Sayidina Ali bin Abi Thalib, sedangkan Mu’awiyah hanyalah sebatas Gubernur daerah yang tidak mau tunduk pada Ali.

Pada saat itu golongan Ali bin Abi Thalib berperang dengan golongan Mu’awiyah. Ketika pihak Ali bin Abi Thalib berhasil menang dari golongan Mu’awiyah dalam peristiwa Tahkim, maka golongan Mu’awiyah mengajak berdamai kepada Ali bin Abi Thalib. Orang-orang yang tergabung dalam golongan Sayidina Ali pun terpecah kembali, ada yang menyetujui perdamaian tersebut, serta ada juga yang tidak.

Baca Juga: Ujian Kesabaran Nabi Nuh 950 Tahun Berdakwah hanya 80 Orang yang Beriman

Maka kelompok yang tidak setuju inilah yang melaihkan aliran Islam baru pada zaman itu yang dikenal dengan nama Khawarij. Karena hal tersebut, Akhir nya kelompok Ali mempunyai dua musuh, yaitu Khawarij, orang-orang yang tidak terima dengan keputusan Ali, dan juga golongan Mu’awiyah. Perseteruan terus terjadi hingga suatu ketika Sayidina Ali bin Abi Thalib wafat karena dibunuh dan akhirnya kelompok Mu’Awiyah mendapat pengakuan penuh sebagai Khilafah dari orang – orang Muslim.

Ada beberapa aliran dalam islam yang mempunyai sejarahnya masing sejak dahulu hingga sekarang seperti :

1. Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Sunni atau Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Aswaja) adalah seseorang yang mengikuti Nabi serta para Sahabatnya. “Jadi Aswaja itu, Ahlus Sunnah wal Jamaah, seseorang yang mengikuti nabi dan mengikuti sahabat nabi, bukan hanya Nabinya saja. Sahabat-sahabatnya juga kita harus mengikuti ajaran-ajarannya,” ujar Ustadz Rizki Nugroho, Pengajar Pondok Pesantren Modern Nuruh Hijrah, ketika di hubungi Okezone.

Sumber hukum dari aliran ini adalah Alauran, Al Hadist. Selain itu juga mengakui Ijma dan Qiyas sebagai sumber hukum. “Bagi Ahli Sunnah wal Jamaah sumber hukumnya banyak. Ada Alquran yang pertama, yang ke dua Hadist, yang ketiga Ijtimak, yang keempat baru Qiyas,” sambung Ustadz Rizki.

2. Syiah

Syiah adalah aliran yang mengikuti Khalifah Ali bin Abi Thalib, yang menyatakan kepemimpinannya baik. Ada banyak pendapat akan awal munculnya aliran ini salah satunya pendapat ulama Syiah yang mengatakan, Muncul sejak Zaman nabi Muhammad SAW. Pendapat lain yang dikemukakan oleh Muhammad Abu Zahrah ialah, Syiah muncul pada akhir pemerintahan Ustman bin Affan.

Mereka berpendapat bahwa sahabat - sahabat Nabi kecuali Sayidina Ali tidak benar. Syiah sendiri terbagi menjadi banyak kelompok.

Aliran Syiah mempunyai pendapat bahwa Alquran yang sekarang mengalmi perubahan dan pengurangan. Sedangkan yang asli berada di tangan Al Imam Al Mastur (Syiah Imamiyah). Aliran Syiah juga tidak mengamalkan Hadist kecuali dari jalur keluarga Nabi Muhammad (Ahlul Bait). Selain itu Syiah juga memperbolehkan nikah Mut’ah, yang kita kenal dengan istilah kawin kontrak, yang mana, pernikahan suami – istri akan waktu yang telah disepakati pada akad.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

3. Khawarij

Asal kata Khawarij adalah Kharijiy yang berarti keluar. Pada sejarahnya aliran khawarij, seperti yang ditulis di atas, merupakan aliran yang tidak setuju dengan adanya perdamaian antara Sayidina Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah saat perang siffin. “Yang dimaksud Khawarij itu dia yang keluar dari dari golongan sayidina Ali, dia yang keluar dari golongan Nabi Muhammad,” sambung Ustadz Rizki Nugroho.

Mereka menganggap Ali serta orang – orang yang menyetuji perjanjian tersebut mendapatkan dosa besar, maka orang tersebut dapat dikatakan orang yang kafir. Mereka juga menganggap orang-orang yang seperti itu halal darahnya.

Menurut Farid Zainal Effendi, orang-orang khawarij berpendapat bahwa pelaku dosa besar adalah kafir. Mereka juga menyebut, orang yang tidak sepaham dengan mereka maka anak, istri mereka boleh ditawan, dijadikan budak atau dibunuh, menurut khawarij Al Azariqoh, sedangkan tidak untuk khawarij Al Ibadiyah, mereka bukan mukmin dan bukan kafir, maka membunuh mereka adalah haram. Tidak hanya itu, mereka berpendapat bahwa surat Yusuf bukan termasuk dalam Alquran, karena mengandung cerita cinta.

4. Mutazilah

Menurut buku yang ditulis Harun Nasution, Mutazilah adalah golongan yang membawa persoalan teologi yang lebih mandalam dan bersifat filosofi. Artinya dalam membahas persoalan persoalan agama, kaum Mutazilah lebih banyak menggunakan akal yang lebih bersifat rasional. Mereka juga mendapat julukan sebagai “kaum rasionalis islam”

Awalnya, Wasil bin Atha dan seorang temannya Amr bin Ubaid diusir oleh Hasan al Basri (guru Wasil dan Amr bin Ubaid) karena terdapat adanya perselisihan di dalam Majlisnya tentang persoalan orang yang berdosa besar. Akhirnya Hasan Al Basri mengatakan “Wasil menjauhkan dari kita, (I’tazala’anna). Dengan demikian dia serta teman-temannya, kata Al Syaharastani, disebut kaum Mu’tazilah.

Aliran dalam islam ini berpendapat bahwa, orang islam yang berdosa besar bukan kafir juga bukan mukmin, akan tetapi berada di antara keduanya. Mereka hanya mengakui Isra Rasulullah ke Baitul Maqdis tetapi tidak mengakui Mi’raj nya ke langit. Selain itu mereka tidak percaya akan Azab kubur, malaikat pencatat amal, Arsy dan kursi Allah. Selain tidak percaya ada azab kubur, mereka juga tidak percaya dengan adanya Mizan (timbangan amal), Hisab (perhitungan amal), dan syafaat nabi di Hari Kiamat.

5. Murjiah

Masih dalam buku Aliran dalam Islam, Murjiah berasal dari Kata Irja yang artinya menangguhkan. Murjiah muncul pada abad pertama hijriah, yang muncul karena perbedaan dua pendapat, yaitu syiah dan khawarij. Kaum syiah mengkafirkan para sahabat, yang menurut mereka menghina ke Khalifahan dari Ali. Sedangakan kaum Khawarij, mereka mengkafirkan kelompok Ali dan Muawiyah. Maka pada saat itulah muncul golongan umat islam, yang menjauhkan dari hal kafir mengkafirkan kedua keompok tersebut.

“Sekte Murji'ah muncul sebagai reaksi atas sikap yang tidak mau terlibat dalam upaya kafir mengafirkan terhadap orang yang melakukan dosa besar, sebagaimana yang dilakukan kaum khawarij,” ujar Ustaz Asroni Al Paroya, Ketua Forum Komunikasi Dai Muda Indonesia untuk Jakarta Timur.

Pendapat Aliran dalam islam ini terbagi menjadi dua, golongan Moderat, dan golongan Ekstrim. Golongan moderat berpendapat bahwa, orang berdosa bukan kafir dan tidak kekal dalam Neraka.

Sedangkan golongan Ekstrim berpendapat bahwa Orang Islam yang percaya pada Allah kemudian menyatakan kekufuran secara lisan tidak menjadi kafir karena iman itu letaknya di dalam hati, bahkan meskipun melakukan ritual agama-agama lain. “Perbedaan teologi adalah perbedaan dalam hal mengkafirkan,” sambung ustadz Asroni.

6. Qadariyah

Qadariyah berasal dari kata qadr yang artinya mampu atau berkuasa. Kaum Qadariyah berpendapat bahwa manusia mempunyai kemerdekaan dan kebebasan dalam menentukan perjalanan hidupnya.

Selain itu, mereka berpendapat bahwa manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan – perbuatannya. Maka, nama Qodariyah berangkat dari pengertian bahwa manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, bukan berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai takdir yang sudah ditetapkan Allah SWT. Ustad Asroni Al Paroya juga mengatakan bahwa, Qadiriyah berkeyakinan mengingkari Taqdir Allah, atau segala perbuatan makhluk di luar kehendak Allah

7. Jabariyah

Berbeda dengan Qadariyah, aliran Jabariyah justru berbanding terbalik dengan Qadariyah. Jabariyah berasal dari kata jabr yang artinya paksaan. Aliran ini ditonjolkan pertama kali Jahm bin Safwan (131 H), sekretaris Harits bin Suraih yang memberontak pada Bani Umayyah di Khurasan. Memang dalam aliran ini terdapat faham bahwa manusia mengerjakan mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpaksa.

Aliran ini berpendapat bahwa, manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Perbuatan – perbuatan manusia telah di tentukan dari semula oleh Qada dan Qadar Tuhan.

Tidak semua aliran dalam Islam di atas masih ada hingga kini. Karena pada zaman dahulu aliran tersebut muncul sebagai senjata untuk merebut kekuasaan. Seperti khawarij, mereka muncul karena tidak setuju dengan kebijakan yang diambil oleh Sayidina Ali untuk berdamai dengan Muawiyah. Sehingga pada akhirnya pengikut Ali bin Abi Thalib mempunyai dua musuh, yaitu Khawarij dan juga Muawiyah.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya