Dalam proses perawatan, Ridwan mengaku tidak ada cara khusus yang dilakukannya. Selama ini, jelas dia, perawatan Mushaf dilakukan dengan cara membungkusnya menggunakan kain, sekaligus dikasih Kamper, agar tidak rusak digerogoti serangga rayap dan lainnya.
“Al-Quran ini masih dibaca. Pada haul akbar tiap bulan Syawal, dibaca secara berjamaah. Kalau Ramadhan juga dibaca, cuma tidak berjamaah. Paling dibaca Surat Yasin -nya saja,” ujarnya.
Dari lembaran-lebaran mushaf, jelas Ridwan ada beberapa lembar yang diganti dengan kertas baru. Hal itu mengingat kondisinya yang sudah mengalami kerusakan parah.
“Ada sebagian yang sudah diganti, dibawa ke Kesultanan Cirebon, cuma beberapa lembar saja. Tulisannya juga tulisan tangan. Tapi begitu rapih tulisannya, tintanya juga mungkin dari getah pepohonan,” kata dia. (Dhita Seftiawan)
(Vitrianda Hilba Siregar)