Arti Minal Aidzin Wal Faidzin Ternyata Idiom Bahasa Arab untuk Dakwah di Indonesia

Novie Fauziah, Jurnalis · Senin 10 Mei 2021 15:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 10 614 2408444 arti-minal-aidzin-wal-faidzin-ternyata-idiom-bahasa-arab-untuk-dakwah-di-indonesia-w2me9boArK.jpg Hari Raya Idul Fitri. (Foto: Freepik)

JAKARTA - Arti Minal Aidzin Wal Faidzin kemudian dilanjutkan kalimat 'Mohon Maaf Lahir Batin' sebagai tanda bermaaf-maafan saat Hari Raya Idul Fitri umumnya diucapkan masyarakat Indonesia.

Tapi tahukah Anda bahwa kalimat tersebut merupakan idiom dari bahasa Arab yang dipopulerkan dalam dakwah di Indonesia.

Kata "min" artinya 'termasuk', "al-aidin" artinya 'orang-orang yang kembali', "wal" artinya 'dan', serta "al-faizin" artinya 'menang'. Jadi bila digabungkan artinya '(manusia yang) termasuk orang-orang yang kembali (fitrah/suci) dan meraih kemenangan'.

Sebagaimana telah MNC Portal rangkum pada Senin (8/5/2021), kalimat "Minal aidin wal faizin" ini bermula dari seorang penyair pada masa Al Andalus (Kerajaan Andalusia) bernama Shafiyuddin al Huli. Kala itu ia sedang membawakan syair, mengisahkan para wanita menyambut hari kemenangan (hari raya) pada masanya. (Dawawin Asy-Syi’ri Al-’Arabi ‘ala Marri Al-Ushur, 19:182)

Dikutip dari kitab Majmu' Fatawa 24/253, lihat juga Ibnu Qudamah di Al Mughni 3/294, menurut Ibnu Taimiyah berikut ini beberapa ucapan Idul Fitri bahasa Arab.

1. Semoga Allah menerima amal ibadah 

تقبل الله منا ومنكم

Taqabbalallahu minna wa minkum

Artinya: "Semoga Allah menerima amal kami dan kalian."

2. Semoga Allah menyempurnakan amalan 

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ, وَأَحَالَهُ اللَّهُ عَلَيْك

Taqabbalallahu minna waminkum wa ahalahullahu ‘alaik

Artinya: "Semoga Allah menerima (amalan) dari kami dan darimu sekalian dan semoga Allah menyempurnakannya atasmu."

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Sementara itu dilansir dari laman Al Manhaj, secara harfiah kata 'Id' adalah sesuatu yang kembali dan berulang-ulang. Di mana Allah Subhanahu wa ta'ala telah memberikan kesempatan waktu yang berulang, seperti bertemu kembali dengan bulan Ramadhan, berpuasa, sholat, zakat, serta kenikmatan lainnya.

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

"Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam datang ke Madinah, dan penduduk Madinah mempunyai dua hari raya. Pada masa jahiliyyah, mereka bermain pada dua hari raya tersebut. Beliau bersabda, 'Aku datang dan kalian mempunyai dua hari yang kalian bermain pada masa jahiliyah. Kemudian Allah mengganti dengan yang lebih baik dari keduanya (yaitu) hari Nahr dan hari Fitri." (Dr Abdullah Ath Thayyar, Ahkam Al ‘Idain Wa ‘Asyri Dzil Hijjah, halaman 9)

Wallahu a'lam bishawab.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya