Kita Semua Pengantin: Ayat-Ayat Cinta dalam Al-Quran

Selasa 01 Juni 2021 08:11 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 01 330 2418314 kita-semua-pengantin-ayat-ayat-cinta-dalam-al-quran-1-RQJUlETisM.jpg Al-Quran. (Foto:Freepik)

PALING tidak ada empat ayat tentang cinta dalam Al Quran. Cinta dunia, cinta Allah, cinta seks, dan cinta bidadari.

Bismillahirahmanirrahim. Kita semua, laki-laki perempuan, muda-tua, lajang-menikah hakikatnya adalah pengantin. Saya akan menjelaskan kesimpulan ini menggunakan sudut pandang sebuah hadist yang sangat masyhur, agar kita tidak terjebak pada gambaran yang salah mengenai Allah SWT. Begini hadistnya:

Rasulullah SAW bersabda: “Allah SWT sangat bergembira, menerima taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan manusia yang menemukan kembali barangnya yang hilang. (Hadist ini diriwayatkan oleh banyak perawi, dan sahih. Ada di Sahih Muslim, Bukhari, Ibnu Majah dan sebagainya).”

Dalam riwayat hadist yang lain dilukiskan bahwa, kegembiraan Allah saat itu ibarat seseorang yang menemukan tunggangan yang hilang di sebuah padang pasir yang luas. Bisa dibayangkan betapa sedihnya kehilangan unta, bisa-bisa orang tersebut akan mati di padang gersang karena tidak bisa pulang. Demikian pula, Allah sangat sedih bila hamba yang dicintainya—bahkan oleh sebuah hadist juga diungkapkan—melebihi kasih Ibu kepada anaknya tak kunjung kembali, atau bertaubat.

Saya tidak akan membahas tema pertaubatan di sini. Saya hanya meminjam hadist-hadist perumpamaan tentang ‘perasaan’ Allah itu agar kita lebih mudah dekat dengan Nya, Dzat yang Maha Agung. Ibarat kata, semacam personalisasi dalam rasa bukan pada wujud atau bentuk materi.

Hadist tersebut mengungkapkan, bahwa Allah seperti juga manusia punya rasa gembira, mangkel (kesal), tertawa dan lain sebagainya dalam merespon sesuatu. Khususnya tidak tanduk mahluknya selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu sampai yang bersangkutan meninggal.

Allah mengawasi ciptaanya tanpa tidur tanpa mengantuk. Dia mengungkapkan ini kepada kita dalam ayat kursi. Bayangkan, bila Allah tertidur, atau lupa menghidupkan matahari. Subhanallah, saya tidak bisa membayangkan.

Tapi, jangan sampai offset atau kebablasan. Tergoda mewujudkan mood Allah itu seperti mood manusia, Haram! Tidak boleh meyakini saat gembira Allah seperti prilaku manusia, misalnya jingrak-jingkrak, menangis haru keluar air mata, dan lain sebagainya.

Batas pengamannya adalah surat Al-Ikhlas, bahwa tidak ada yang bisa menyerupai Dia. Jangan sampai kita seperti umat nabi Isa, yang ngotot menyebut nabi nya itu anaknya Allah, gara-gara tidak bisa memahami mukjizat Isa yang lahir tanpa bapak, nauzubillah.

Anggaplah kucing lagi sedih. Semua hewan bisa sedih, tapi kita tak bisa tahu bentuk sedihnya seperti apa. Kalau kucing ya tetap saja mengeong, mau lapar sedih atau ingin kawin, intonasi suara atau rasa saja yang beda, makanya pernah ada video viral bagaimana kucing putih tak mau meninggalkan kuburan majikannya, saking sayangnya.

Kita dan binatang beda alam pengetahuan, tetapi ya soal rasa sama saja. Demikian juga kita dengan Allah, kita di alam nyata, Allah di alam Gaib—makanya, percaya hal gaib adalah syarat pertama orang beriman. Allah juga bisa tampak di dunia nyata dengan konsep tajalli.

Ayat Ayat Cinta

Keajaiban zaman, atau badruzzaman Said Nursi dalam Al Maktubah menjelaskan, bahwa cinta mahluk kepada mahluk itu bisa dialihkan kepada Allah. Rasa cinta seseorang kepada pacar, istri, anak, atau sanak famili itu bisa juga dipakai untuk mencintai Allah.

Ibaratnya, waktu lajang kita bisa berjam-jam ngapel, atau menunggu pacar sedang belanja tanpa merasa bosan. Bahkan, ada yang sampai telponan dari malam hingga pagi!!! Karena rasa cinta.

Bayangkan, bila rasa cinta itu kita digeser untuk mencintai Allah. Saya haqqul yakin, anda bisa merasakan hal yang sama, cobain deh, hasilnya sungguh dahsyat. Suka cita bangun tengah malam, bahkan tahan dingin mandi sunnah biar wangi hanya ingin ketemu Gusti yang dicintai via tahajud.

Makanya Kanjeng Nabi Muhammad SAW diriwayatkan kakinya sampai bengkak, saking lamanya dalam sholat malam. Saya percaya, beliau tidak mengejar pahala, tapi memelihara rasa cintanya kepada Allah.

Ada empat kata yang bermakna cinta dalam Al Quran, dimana dua diantaranya menurut saya saling berkelindan. Pertama, surat Al Imran ayat 14, yang mengungkapkan bagaimana Allah lah yang menjadikan manusia itu memang gampang cinta dengan sesuatu yang diinginkannya, atau populer dengan istilah harta, tahta, wanita.

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Kedua, dalam surat Al-Hujurat ayat 7 yang membahas mengenai cinta ilahiah, atau kepada Allah. ….. Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,

Dua ayat yang terpisah surat itu sama sama membahas cinta. Cinta lahiriah, yaitu menyukai hal hal yang tampak dan cinta ilahiah yaitu menyukai iman. Iman adalah satu satunya jalan untuk bisa mencintai Allah, tanpanya manusia bisa saja makmur secara materi, tetapi miskin rasa atau nilai spiritual.

Secara ringkas, Allah membocorkan cara agar manusia bisa mencintainya melalui jalur cinta. Yaitu dalam tiga ayat berturut turut dalam surat Al Anfal yang juga menjelaskan alur cara kerjanya:

(Al-Anfal:2) Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal,

(Al-Anfal:3) (Yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

(Al-Anfal: 4) Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.

Mekanisme untuk mendapatkan rasa cinta kepada Allah itu amat sederhana dan mudah, sangat mirip dengan proses kita mencintai kekasih. Ditandai oleh perasaan bergetar dalam hati. Ini sama persis dengan perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta. Ada semacam chemistry, atau perasaan yang nyambung. Pokoknya klik, susah dijelaskan, namun nyata dalam rasa.

Hampir dapat dipastikan cinta mahluk itu dimulai dari sensor inderawi. Umumnya, dari pandangan dan pendengaran. Orang bisa mencintai karena ketampanan atau suara yang merdu. Contohnya, wanita cantik, pria tampan atau cuitan indah burung. Begitupula dengan Allah, bisa didekati dengan mencintai ciptaannya di alam semesta, dengan cara tafakkur. Ulama mengatakan, tafakkur sejenak lebih utama dari ibadah satu tahun.

Saya menggunakan medium yang paling saya sukai, yaitu film dokumenter flora dan fauna hingga sejarah, atau sains untuk melakukan pedekate kepada Allah. Alangkah banyak ayat yang menyuruh kita memikirkan bagaimana proses alam ini bekerja dan cerita cerita sejarah tentang kezaliman sebuah kaum. Makanya, saya kadang berpikr, lebih mudah mencintai Allah dari ayat-ayat alam dari pada ayat Quran. Sebab, sebagai materi alam ini berkembang sementara quran benda mati—hanya maknanya yang bisa berkembang.

Untuk merawat getaran cinta yang datang sesekali, atau pada pandangan pertama, Allah mengatakan diperlukan ilmu….apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya. Ending dari rasa cinta pada pandangan pertama dan di pupuk dengan ilmu adalah takwa, yaitu takut larangan dan taat petintah Allah.

Proses selanjutnya setelah memperoleh rasa takwa adalah menerapkan apa yang diminta Allah dalam kehidupan sehari hari. Ini mirip sejoli yang sedang jatuh cinta, dimana apel malam minggu atau bertukar pesan mesra via pesan singkat adalah ritual untuk merawat cinta. Pada Allah, ritual apel malming itu adalah shalat dan perduli pada mahluk Nya atau disimbolkan dengan shadaqah.

Fase terakhir, ketika ritual cinta dan mencintai ini berlangsung lama dan konsisten alias istiqomah. Pada sejoli akan berujung pada pernikahan, sementara kepada Allah akan berujung pada perjumpaan di akhirat kelak.

Jadi pada dasarnya manusia itu adalah pengantin dalam alam jasad, dan pengantin dalam alam ruh. Solusi jitu agar tidak ada dualiseme cinta, yang bisa berakibat syirik atau lupa pada akhirat adalah mencintai Allah sebagai alasan utama mencintai mahluk. Istilah kata; Allah first.

Endingnya akan keren. Istilahnya, buy one get two. Allah menjanjikan orang yang bisa seperti itu akan bisa merasakan manisnya iman (buat PR, silahkan cari sendiri, ini hadist shahih sekali). Apa itu manisnya iman? Nyaman. Orang yang beriman itu hidupnya akan tenang dan nyaman, nggak grusa grusu, karena yakin semua sudah disediakan. Tinggal ikhtiar dan sabar.

Yang menarik adalah, dua ayat tersisa menceritakan cinta dalam dua kutub rasa yang berlawanan. Yaitu, surat Yusuf ayat 30 yang menceritakan syahwat bersetubuh Zulaikha terhadap Nabi Yusuf versus ayat-ayat cinta para bidadari di surga yang ditulis terakhir dalam Al-Waqi'ah ayat 37, “….yang penuh cinta (dan) sebaya umurnya,”

Wallahua’lam, tidak ada satupun kebetulan dalam Quran, baik isi maupun penempatannya. Terkait transformasi cinta kepada mahluk menjadi cinta kepada pencipta, Quran merumuskannya sebagai transformasi nafs lawamah menjadi nafsu mutmainnah, atau keinginan berbuat buruk menjadi berbuat baik.

Inilah luar biasanya agama yang lurus ini. Apapun wujudnya, ada dua aspek yang menyertainya; badani-ruhani, syariat-ma’rifat, human-being, atau kata Aristoteles potensial-aktual. Konsep keseimbangan inilah yang sampai membuat Allah menantang siapapun yang bisa menemukan ketidakseimbangan di alam raya.

Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat? (Al-Mulk :3).

Islam itu agama yang ditengah-tengah, moderat, nggak kanan nggak kiri, tidak kurang dan tidak boleh berlebih-lebihan. Ngono neng ojo ngono. Versi dangdutnya; yang sedang-sedang saja.

Kalau saya menyebutkan Islam woles, selow atau santai. Tidak menyuruh menjadi pengebom gereja, juga tidak menjadi orang kejawen--yang penting iling. Islam itu ajaran mnjagga hal yang tampak dan hal yang tak tampak, syariat dan hakikat, atau istilah paling agungnya Islam kaffah.

Kita Pengantin Ruhani

Mengapa semua manusia adalah pengantin. Ini dijelaskan oleh sufi agung, Syeik Maulana Jalaluldin Rumi. Saya suka sekali kisah perjalanan beliau ini menjadi walilyullah.

Awalnya Rumi memiliki sahabat yang menjadi pembimbing spiritual. Dalam proses ajar mengajar, sang sahabat tiba tiba menghilang, dan Rumi menjadi sangat kehilangan. Ungkapan-ungkapan kesediahannya bisa dibaca di buku Fihi Ma Fihi.

Kehilangan Rumi membawanya menemukan cinta yang abadi. Kemudian menemukan wasilah atau cara agar dia bisa dekat dengan kekasihnya, Allah yaitu dengan tarian atau whirling darwish, ini adalah putaran seperti tawaf, berlawanan dengan arah jarum jam.

Saya memaknainya ini sebagai upaya Rumi kembali pada masa masa ruh nya bertemu dalam Allah sebelum di tiupan ke rahim ibunya. Ini adalah simbolisme, bahwa manusia perlu mengingat asal muasal agar tahu jalan kembali. Logikanya, tak ada mudik bagi orang yang tak punya kampung halaman. Hanya orang yang mengerti asal usul dirinya yang bisa mengenal Tuhannya.

Ini bisa dijelaskan dengan ayat 172 di surat al-a’araf. Ibarat proses pertunangan pada proses pernikahan, relasi manusia dan Allah diungkapkan dalam A Quran. “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”

Maka itu menjelang kematinnya, Rumi merasa aneh dengan murid dan orang orang yang menangis sedih. Seharusnya kata dia, mereka menangis bahagia, bukan sedih, karena mereka ini adalah para pengiring pengantin, untuk menemui kekasihnya, Allah.

Makanya, kalau warga Nahdliyin sudah paham betul ada yasin an dan tahlilan, 1-7 hari, 40hari. Jadi itu adalah perayaan pesta 7 hari 7 malam, sementara kalau tahiililan 1000 hari itu seperti perayaan hari pernikahan yang bersangkutan. Jadi tidak apa apa, orang yang nggak tahiililan itu ibarat kalau nikah ya cuma akad saja, nggak pake resepsi. Nabi menyunahkan pesta pernikahan.

Mengapa periode hidup manusia di dunia ini sebenarnya adalah penantian calon pengantin yang sudah dipinang oleh Allah di zaman Azzali untuk kemudian berjumpa pada singgasana pengantin di akhirat kelak? Karena sebagaimana wanita adalah bagian dari tulang rusuk laki-laki (Al-A'raf 18), manusia juga adalah bagian dari Allah. Kita ini diciptakan dari ruh yang juga diciptakannya, kita ini semacam serpihan Nya (Al-Hijr ayat 29).

Makanya, asmaul husna adalah refleksi dari sifat-sifat pokok mahluk yang diambil dari sifat Allah. Tidak heran kita jumpai orang yang sangat penyangang atau sangat dermawan, maka itu adalah refleksi dari Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Semakin kita bisa meniru sifat sifat itu dalam keseharian kita, maka semakin dekat kita dengan Allah. Dia makin cinta.

Mufasiir KH Quraish Sihab mengatakan, semua manusia berpotensi bisa meneladani sifat sifat Allah, termasuk orang kafir. Maka tak heran ada orang non-islam yang malah jauh lebih dermawan dari muslim. Jadi kita ini mahluk berkesadaran, bukan mahluk social. Mahluk sosial itu ya hewan.

Nah, kembali kepada nasehat pernikahan ini. Sesungguhnya, perempuan itu adalah serpihan dari laki laki. Dalam Al-A'raf 7:189. Tafsir Jalalayn, mengartikan nya begini:

“(Dialah) Allahlah (yang menciptakan kamu dari diri yang satu) yaitu Adam (dan Dia menjadikan) Dia menciptakan (dari padanya istrinya) yakni Hawa (agar dia merasa tenang) Adam menjimaknya (istrinya itu mengandung kandungan yang ringan) berupa air mani (dan teruslah dia merasa ringan) masih bisa berjalan ke sana dan kemari mengingat ringannya kandungan (kemudian tat kala dia merasa berat) anak yang ada dalam perutnya makin membesar. Al akhirul ayah….

Kata kuncinya adalah agar merasa tenang. Jadi, jodoh kita itu adalah orang yang bisa membuat rasa tenang, kalau tidak bisa ya mungkin bukan jodohnya, tapi ujian. Jadi istri yang baik atau shalih itu juga adalah ujuan, ibaratnya ujian yang menyenangkan, sementara istri yang cemberutan itu ujian yang tidak menyenangkan. Maka banyak sekali ayat yang mengatakan bahwa istri dan anak itu adalah ujian, sehingga jangan sampai terlena.

Maka itu, kalau di urut-urut, Laki laki itu adalah serpihannya Allah lewat ruh yang ditiupkan, sementara perempuan juga merupakan serpihan Allah, tapi via tulang rusuk laki laki. Seyogyanya kedua dua duanya merindu dan cinta kepada Dzat yang sama yakni Allah SWT.

Simpulannya, secara zahir resepsi pernikahan adalah perayaan bertemunya tulang rusuk laki-laki dan pasangannya. Makanya kalau nggak kawin kawin ya jangan jangan jodohnya sudah mati atau belum lahir he he he. Sementara, kematian adalah perayaan resepsi ruh yang diciptakan dengan yang menciptakan, yaitu Allah Azza Wajalla. 

Demikian, Wallahu alam bishowab.

Oleh: Muhammad Ma’ruf Assyahid,

Jurnalis, Santri PP Baitul Mustaqim Lampung Tengah dan Pascasarjana UIN Raden Intan Bandar Lampung. Kini berkhidmat sebagai Nahdlyin, tinggal di Bogor

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya