Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kita Semua Pengantin: Ayat-Ayat Cinta dalam Al-Quran

Kita Semua Pengantin: Ayat-Ayat Cinta dalam Al-Quran
Al-Quran. (Foto:Freepik)
A
A
A

Kedua, dalam surat Al-Hujurat ayat 7 yang membahas mengenai cinta ilahiah, atau kepada Allah. ….. Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,

Dua ayat yang terpisah surat itu sama sama membahas cinta. Cinta lahiriah, yaitu menyukai hal hal yang tampak dan cinta ilahiah yaitu menyukai iman. Iman adalah satu satunya jalan untuk bisa mencintai Allah, tanpanya manusia bisa saja makmur secara materi, tetapi miskin rasa atau nilai spiritual.

Secara ringkas, Allah membocorkan cara agar manusia bisa mencintainya melalui jalur cinta. Yaitu dalam tiga ayat berturut turut dalam surat Al Anfal yang juga menjelaskan alur cara kerjanya:

(Al-Anfal:2) Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal,

(Al-Anfal:3) (Yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

(Al-Anfal: 4) Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.

Mekanisme untuk mendapatkan rasa cinta kepada Allah itu amat sederhana dan mudah, sangat mirip dengan proses kita mencintai kekasih. Ditandai oleh perasaan bergetar dalam hati. Ini sama persis dengan perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta. Ada semacam chemistry, atau perasaan yang nyambung. Pokoknya klik, susah dijelaskan, namun nyata dalam rasa.

Hampir dapat dipastikan cinta mahluk itu dimulai dari sensor inderawi. Umumnya, dari pandangan dan pendengaran. Orang bisa mencintai karena ketampanan atau suara yang merdu. Contohnya, wanita cantik, pria tampan atau cuitan indah burung. Begitupula dengan Allah, bisa didekati dengan mencintai ciptaannya di alam semesta, dengan cara tafakkur. Ulama mengatakan, tafakkur sejenak lebih utama dari ibadah satu tahun.

Saya menggunakan medium yang paling saya sukai, yaitu film dokumenter flora dan fauna hingga sejarah, atau sains untuk melakukan pedekate kepada Allah. Alangkah banyak ayat yang menyuruh kita memikirkan bagaimana proses alam ini bekerja dan cerita cerita sejarah tentang kezaliman sebuah kaum. Makanya, saya kadang berpikr, lebih mudah mencintai Allah dari ayat-ayat alam dari pada ayat Quran. Sebab, sebagai materi alam ini berkembang sementara quran benda mati—hanya maknanya yang bisa berkembang.

Untuk merawat getaran cinta yang datang sesekali, atau pada pandangan pertama, Allah mengatakan diperlukan ilmu….apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya. Ending dari rasa cinta pada pandangan pertama dan di pupuk dengan ilmu adalah takwa, yaitu takut larangan dan taat petintah Allah.

Proses selanjutnya setelah memperoleh rasa takwa adalah menerapkan apa yang diminta Allah dalam kehidupan sehari hari. Ini mirip sejoli yang sedang jatuh cinta, dimana apel malam minggu atau bertukar pesan mesra via pesan singkat adalah ritual untuk merawat cinta. Pada Allah, ritual apel malming itu adalah shalat dan perduli pada mahluk Nya atau disimbolkan dengan shadaqah.

Fase terakhir, ketika ritual cinta dan mencintai ini berlangsung lama dan konsisten alias istiqomah. Pada sejoli akan berujung pada pernikahan, sementara kepada Allah akan berujung pada perjumpaan di akhirat kelak.

Jadi pada dasarnya manusia itu adalah pengantin dalam alam jasad, dan pengantin dalam alam ruh. Solusi jitu agar tidak ada dualiseme cinta, yang bisa berakibat syirik atau lupa pada akhirat adalah mencintai Allah sebagai alasan utama mencintai mahluk. Istilah kata; Allah first.

Endingnya akan keren. Istilahnya, buy one get two. Allah menjanjikan orang yang bisa seperti itu akan bisa merasakan manisnya iman (buat PR, silahkan cari sendiri, ini hadist shahih sekali). Apa itu manisnya iman? Nyaman. Orang yang beriman itu hidupnya akan tenang dan nyaman, nggak grusa grusu, karena yakin semua sudah disediakan. Tinggal ikhtiar dan sabar.

Yang menarik adalah, dua ayat tersisa menceritakan cinta dalam dua kutub rasa yang berlawanan. Yaitu, surat Yusuf ayat 30 yang menceritakan syahwat bersetubuh Zulaikha terhadap Nabi Yusuf versus ayat-ayat cinta para bidadari di surga yang ditulis terakhir dalam Al-Waqi'ah ayat 37, “….yang penuh cinta (dan) sebaya umurnya,”

Wallahua’lam, tidak ada satupun kebetulan dalam Quran, baik isi maupun penempatannya. Terkait transformasi cinta kepada mahluk menjadi cinta kepada pencipta, Quran merumuskannya sebagai transformasi nafs lawamah menjadi nafsu mutmainnah, atau keinginan berbuat buruk menjadi berbuat baik.

Inilah luar biasanya agama yang lurus ini. Apapun wujudnya, ada dua aspek yang menyertainya; badani-ruhani, syariat-ma’rifat, human-being, atau kata Aristoteles potensial-aktual. Konsep keseimbangan inilah yang sampai membuat Allah menantang siapapun yang bisa menemukan ketidakseimbangan di alam raya.

Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat? (Al-Mulk :3).

Islam itu agama yang ditengah-tengah, moderat, nggak kanan nggak kiri, tidak kurang dan tidak boleh berlebih-lebihan. Ngono neng ojo ngono. Versi dangdutnya; yang sedang-sedang saja.

Kalau saya menyebutkan Islam woles, selow atau santai. Tidak menyuruh menjadi pengebom gereja, juga tidak menjadi orang kejawen--yang penting iling. Islam itu ajaran mnjagga hal yang tampak dan hal yang tak tampak, syariat dan hakikat, atau istilah paling agungnya Islam kaffah.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement