Sosok Khaizuran, Pemrakarsa Maulid Nabi Muhammad di Madinah dan Makkah

Tim Okezone, Jurnalis · Kamis 14 Oktober 2021 14:35 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 14 614 2486254 sosok-khaizuran-pemrakarsa-maulid-nabi-muhammad-di-madinah-dan-makkah-IFsXD87cH4.jpg Sosok Khaizuran, Sosok Pencetus Maulid Nabi Muhammad (foto: Okezone)

JAKARTA - Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dimulai pada hari-hari awal Islam, abad ke-11. Maulid Nabi dimulai di Mesir dengan Syiah Fatimids, yang merupakan keturunan Ali (Imam keempat). Maulid ini menarik sejumlah besar umat muslim yang berkumpul untuk sholat di masjid al-Azar, mereka juga membaca Al-Qur'an.

Sementara di Indonesia, perayaan Maulid Nabi Muhammad tidak terlepas dari ajaran dan pengaruh Wali Songo saat menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa. Karena itulah perayaan maulid boleh dikatakan mengadaptasi budaya Jawa yang dikenal sebagai Grebeg Mulud, sedangkan masyarakat Minang memiliki tradisi Bungo Lado dan warga Kudus mempunyai tradisi Kirab Ampyang.

Profesor M. Quraish Shihab menjelaskan awal mula terjadinya peringatan kelahiran Rasulullah SAW yang biasa dikenal dengan maulid nabi. Seperti diketahui nabi lahir di Makkah pada 12 Rabi'ul Awal tahun 570 M.

Baca Juga: Tradisi Perayaan Maulid Nabi Muhammad di Berbagai Negara, Indonesia Paling Beragam

Menurut Quraish ada dua jawaban yang dapat menceritakan awal mula maulid nabi. Pertama ketika nabi bersyukur atas kelahirannya kepada Allah SWT. Rasa syukur itu dilakukannya dengan cara berpuasa pada hari Senin.

"Dalam (riwayat hadist) shahih muslim di tanya nabi (oleh sahabat) 'kenapa nabi berpuasa pada hari senin'. Beliau menjawab 'itulah hari dimana aku lahir'," ujar Quraish saat berbincang diprogram Shihab dan Shibab dalam akun YouTube Najwa Shihab yang ditulis Okezone.

Kedua, merujuk ke zaman Rasulullah jauh sebelum diangkat menjadi rasul dimana saat hari kelahirannya, ada orang yang bergemberia menyambutnya yakni Abu Lahab.

Bahkan dikisahkan kata Quraish, saat itu Abu Lahab setelah mendengar kabar kelahiran nabi dari seseorang ia langsung memerdekakannya dari budak.

Baca Juga: Ini Gambaran Makam Nabi Muhammad di Masjid Nabawi

"Abu Lahab oleh Al-Abbas paman nabi. Bahwa beliau bermimpi melihat Abu Lahab dikatakan bagaimana keadaannya mu 'saya seperti yang engkau lihat tersiksa tetapi setiap hari Senin Allah meringankan siksanya kepadaku karena aku bergembira kelahiran Nabi Muhammad," ujarnya.

Namun demikian Quraish mengatakan, awal mula perayaan maulid nabi dengan aneka hiasan baru dimulai pada zaman Dinasti Abbasiah di zaman Khalifah Al-Hakim Bilah, yang merayakan maulid bersama permaisuri, lengkap dengan pakaian yang indah.

"Dari sini kemudian sampai sekarang di Mesir hal itu diperingati dalam bentuk membuat boneka-boneka dari manisan. Disitu digambarkan permaisuri dengan pakaian putihnya, ada khalifah dengan naik kuda sebagai bentuk kesyukuran, peringatan mendidik anak-anak mencintai rasul ini kemudian berkembang di mana-mana," tandasnya.

Sosok Khaizuran, Pemrakarsa Maulid

Sementara menurut catatan Ahmad Tsauri dalam Sejarah Maulid Nabi (2015) seperti dikutip NU Online, menjelaskan bahwa perayaan Maulid Nabi sudah dilakukan oleh masyarakat Muslim sejak tahun kedua hijriah.

Catatan tersebut merujuk pada Nuruddin Ali dalam kitabnya Wafa’ul Wafa bi Akhbar Darul Mustafa. Dalam catatan tersebut dijelaskan bahwa seorang bernama Khaizuran (170 H/786 M) yang merupakan ibu dari Amirul Mukminin Musa al-Hadi dan al-Rasyid datang ke Madinah dan memerintahkan penduduk mengadakan perayaan kelahiran Nabi Muhammad di Masjid Nabawi.

Dari Madinah, Khaizuran juga menyambangi Makkah dan melakukan perintah yang sama kepada penduduk Makkah untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad. Jika di Madinah bertempat di masjid, Khaizuran memerintahkan kepada penduduk Makkah untuk merayakan Maulid di rumah-rumah mereka.

Khaizuran merupakan sosok berpengaruh selama masa pemerintahan tiga khalifah Dinasti Abbasiyah, yaitu pada masa Khalifah al-Mahdi bin Mansur al-Abbas (suami), Khalifah al-Hadi dan Khalifah al-Rasyid (putra).

Karena pengaruh besarnya tersebut, Khaizuran mampu menggerakkan masyarakat Muslim di Arab. Hal ini dilakukan agar teladan, ajaran, dan kepemimpinan mulia Nabi Muhammad bisa terus menginspirasi warga Arab dan umat Islam pada umumnya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Pada masa Dinasti Abbasiyah, pembaruan pemikiran memang banyak terjadi di semua sektor kehidupan, dari perkembangan ilmu-ilmu umum, arsitektur, hingga situs-situs sejarah. Khaizuran merupakan salah satu sosok yang mempunyai perhatian besar terhadap Nabi Muhammad beserta situs-situs sejarah peninggalan Nabi.

Termasuk memprakarsai penghormatan terhadap kelahiran Rasulullah SAW. Muhammad diyakini lahir pada 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah (570 Masehi). Namun dalam catatan Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad (2006) ada juga pendapat-pendapat lain yang menyatakan bahwa Nabi lahir lima belas tahun sebelum peristiwa gajah.

Ada juga yang mengatakan ia dilahirkan beberapa hari atau beberapa bulan atau juga beberapa tahun sesudah Tahun Gajah. Ada yang menaksir tiga puluh tahun, dan ada juga yang menaksir sampai tujuhpuluh tahun. Di Jazirah Arab, masa sebelum Islam didakwahkan Nabi Muhammad sering disebut sebagai zaman Jahiliyah atau masa ketidaktahuan, sesat, atau bodoh.

Menurut Quraish Shihab, jika pesan hendak disampaikan ke seluruh penjuru, maka si penyampai pesan mesti berdiri di tengah agar pesan mudah tersebar dan menghindari kekuatan yang dapat menghalangi tersebarnya pesan tersebut. Timur Tengah adalah jalur penghubung Timur dan Barat, maka wajar jika kawasan tersebut menjadi tempat menyampaikan pesan Ilahi yang terakhir.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya