Share

Cerita Karomah Kiai Nawawi, Batu Kerikil dan Sorbannya Mampu Menangkis Peluru Penjajah

Tim Okezone, Jurnalis · Jum'at 17 Desember 2021 13:35 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 17 614 2518541 cerita-karomah-kiai-nawawi-batu-kerikil-dan-sorbannya-mampu-menangkis-peluru-penjajah-9ncHqaus34.jpg KH Muhammad Nawawi Mojokerto. (Foto: Istimewa)

DI Nusantara terdapat banyak kiai dan ulama yang memberikan peran kepada umat Islam. Misalnya pada masa perjuangan turut membantu meraih kemerdekaan dari penjajah, namun tetap mendakwahkan ajaran agama Islam. Salah satu ulama yang berperan untuk bangsa adalah Kiai Haji Muhammad Nawawi.

Peran Kiai Nawawi dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Ulama kelahiran tahun 1886 ini juga turun ke medan pertempuran dan memimpin pasukan mengusir pasukan sekutu. Tidak berlebihan jika gelar syuhada kemerdekaan disematkan kepadanya.

Baca juga: Kisah Karomah Kiai Sholeh Darat sang Guru RA Kartini, Ubah Batu Jadi Emas di Depan Penjajah 

KH Muhammad Nawawi Mojokerto. (Foto: Istimewa)

Kiai Nawawi lahir dari keluarga sederhana di Dusun Lespadangan, Desa Terusan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Sang ayah Munadi dikenal sebagai tukang kayu. Sementara ibunya Siti Khalimah merupakan ibu rumah tangga biasa yang taat pada agama. Tidak heran jika Nawawi kecil selalu diajarkan taat kepada ulama.

Meski dari keluarga sederhana, Kiai Nawawi sempat mengenyam pendidikan di Hollandsch Inlandsche School Partikelir (HISP), lembaga pendidikan setara sekolah dasar di zaman penjajahan Belanda. Selanjutnya Kiai Nawawi belajar di Pondok Pesantren Tebuireng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.

Baca juga: Kisah Mualaf Cantik Mantan Ratu Pesta, Hidupnya Tenang Setelah Masuk Islam 

Belasan tahun menempa ilmu dari Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari, Nawawi muda lantas mengasah ilmu ke sejumlah kiai termasyhur di Jawa Timur. Di antaranya Kiai Sholeh di Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Kiai Zainuddin di Kabupaten Nganjuk, Kiai Khosin di Siwalan Panji, Kabupaten Sidoarjo, bahkan Kiai Kholil di Kademangan, Kabupaten Bangkalan.

"Beliau mondok sekitar 15 tahun. Selama menjadi santri, Kiai Nawawi dikenal paling rajin mengikuti pelajaran," tulis pemerhati sejarah Mojokerto Abdullah Masrur dalam bukunya 'Titik Akhir di Sumantoro-Jejak Langkah Perjuangan KH Nawawi' terbitan Maret 2012, seperti dikutip dari Sindonews.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Pada tahun 1928, Kiai Nawawi dan teman-temannya mendirikan cabang Jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU) Mojokerto. Hanya berselang dua tahun pasca-NU resmi didirikan Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari pada 31 Januari 1926. Ketika itu Kiai Nawawi menjabat pengurus Syuriah. Kiai Nawawi juga rutin turun ke musala-musala untuk melakukan dakwah.

"Selain menyebarkan ajaran Islam, Kiai Nawawi juga mengajak masyarakat melawan penjajah. Mulai sejak penjajahan belanda hingga saat Jepang datang ke Indonesia tahun 1943. Ajaran beliau cinta Tanah Air dan bangsa adalah bagian dari iman," tulis Masrur.

Baca juga: Rombongan Sahabat Nabi Sempat ke Indonesia ketika Hijrah? Ini Kata Ustadz Adi Hidayat 

Tidak hanya dalam dakwah, Kiai Nawawi juga turun langsung ke medan palagan dalam melawan penjajah. Ketika itu pada Oktober 1945, pasukan pejuang dipukul mundur pasukan sekutu dari Kota Pahlawan. Tentara gabungan Inggris, Gurkha dan Belanda, ingin kembali menguasai Indonesia yang baru saja memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Wali Kota Surabaya kala itu Rajiman Nasution datang ke markas tentara Hizbullah yang selama ini membangun benteng di utara Alun-alun Kota Mojokerto. Kepada para kiai di Mojokerto, Rajiman meminta bantuan mengadang pasukan sekutu yang hendak menguasai Sidoarjo dan Mojokerto.

Baca juga: Ustadz Adi Hidayat Ungkap Prabu Siliwangi Beragama Islam, Ini Buktinya 

Meski tidak muda lagi, Kiai Nawawi menjadi orang pertama yang menyatakan kesiapannya turun ke medan pertempuran. Bersama KH Mansur, KH Abdul Jabar, KH Ridwan serta beberapa pasukan Hizbullah; pasukan Kiai Nawawi masuk ke Sidoarjo. Pasukan ini bergabung dengan pasukan kiai-kiai dari daerah lain di bawah pimpinan KH Hasan Bisri.

"Banyak pertempuran yang kami alami saat itu. Mulai dari pertempuran Surabaya, kemudian di wilayah Sepanjang, Kedurus, Kletek dan terakhir di Sukodono, Sidoarjo," tutur Sueb, salah seorang santri Kiai Nawawi yang saat itu turut serta ikut dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Kiai Nawawi, ungkap dia, merupakan sosok pejuang sejati. Ia tak pernah merasa takut melakukan kontak senjata dengan pasukan Belanda dan Inggris. Seakan tidak takut peluru, Kiai Nawawi selalu berada di baris terdepan saat pertempuran dahsyat pecah. Sueb pun mengungkapkan bahwa Kiai Nawawi juga membekali para santrinya dengan benda-benda yang telah dibaluri doa.

"Ketika hendak berperang, saat itu, kami semua minta suwuk dari Kiai Nawawi. Saya diberikan kain udeng. Sebelumnya kain udeng itu sudah dirajah oleh beliau. Saya dan teman-teman seperjuangan, kalau tidak salah sekitar 17 orang, membawa bekal masing-masing dari beliau," imbuh Sueb.

Baca juga: 9 Artis yang Mantap Kenakan Hijab pada Tahun Ini, Jadi Tambah Cantik dan Modis 

Tidak hanya kain udeng, dari cerita-cerita yang berkembang di masyarakat, ada juga santri Kiai Nawawi yang dibekali tujuh butir batu kerikil. Kabarnya butiran batu kecil itu bisa meledak layaknya granat tangan.

Ada juga yang menyebut jika sorban Kiai Nawawi mampu menangkis peluru yang keluar dari moncong-moncong senjata tentara sekutu.

Baca juga: Deretan Sunah di Hari Jumat, Nomor 7 Bisa Menghapus Dosa-Dosa 

"Insya Allah semua itu benar. Beliau (Kiai Nawawi) memang memiliki ilmu yang cukup tinggi. Bahkan tidak ada satu pun santrinya yang takut saat kita berperang di berbagai medan pertempuran," jelas sembari mengingat peristiwa itu.

Kendati terkenal memiliki kesaktian yang luar biasa, Kiai Nawawi akhirnya gugur di dalam pertempuran di Dusun Sumantoro, Desa Plumbungan, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo.

Kiai Nawawi wafat pada 22 Agustus tahun 1946 usai dihujam bayonet oleh puluhan tentara sekutu yang mengepungnya. Sejumlah pasukan Hizbullah yang datang memberikan bantuan, terlambat menyelamatkan Kiai Nawawi.

"Jenazah Kiai Nawawi diamankan pasukan Hizbullah menuju ke Stasiun Krian. Kemudian diangkut dengan kereta api ke Stasiun Mojokerto. Tentara sekutu yang membunuh Kiai Nawawi semuanya mati, dibunuh pasukan Hizbullah saat itu," terang Sueb.

Baca juga: Surah Al Kahfi Dibaca Setiap Jumat, Apa Keuntungannya? Simak di Alquran Digital Okezone 

Gugurnya Kiai Nawawi seketika menyebar ke seluruh pelosok Mojokerto. Ribuan orang mengantarkan jenazahnya menuju ke peristirahatan terakhir TPU Mangunrejo di Dusun Losari, Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto.

Atas jasa besarnya, nama Kiai Nawawi diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Kota Mojokerto, berdasarkan Keputusan DPRD Kota Mojokerto Nomor 8/DPRD/67 tanggal 30 Maret 1967.

Wallahu a'lam bishawab.

Baca juga: Ketika Abu Nawas Dapat 3 Pertanyaan Sama tapi Jawabannya Beda, Kok Bisa? 

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini