Share

4 Kisah Karomah Syekh Kholil Bangkalan, Nomor 2 Membuatnya Disegani Ulama Masjidil Haram

Siska Permata Sari, Jurnalis · Kamis 27 Januari 2022 11:49 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 27 614 2538587 4-kisah-karomah-syekh-kholil-bangkalan-nomor-2-membuatnya-disegani-ulama-masjidil-haram-bYNMMcaqYH.jpg Ilustrasi kisah karomah Syekh Kholil Bangkalan. (Foto: YouTube Riyo Fulana)

MUHAMMAD Kholil bin Abdul Lathif atau lebih dikenal Syaikhona Kholil atau Syekh Kholil Bangkalan merupakan ulama kharismatik dari Pulau Madura, Jawa Timur. Syekh Kholil lahir di Bangkalan pada tahun 1820 dan meninggal dunia di usia 104 tahun pada 1925.

Syekh Kholil al Bangkalani berasal dari keluarga ulama. Ayahnya merupakan KH Abdul Lathif yang mempunyai pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati. Sementara ibunya yakni Syarifah Khodijah, putri Sayyid Asror Karomah bin Kiai Abdullah bin Ali Akbar bin Sayyid Sulaiman Kanigoro Mojoagung. Sayyid Sulaiman adalah anak dari Sayyid Zen Sunan Gunung Jati.

Sebagaimana cerita Wali Songo, banyak kisah semasa hidup Syekh Kholil Bangkalan yang di luar nalar manusia. Cerita-cerita kelebihan atau karomah dari Syekh Kholil ini telah dikisahkan lewat lisan ke lisan, terutama di lingkungan masyarakat Madura.

Berikut ini lima kisah karomah Syekh Kholil Bangkalan, seperti dikutip dari kanal YouTube Riyo Fulana, Kamis (27/1/2022).

Baca juga: Selalu Bikin Tertawa, Abu Nawas Diprotes Santrinya: Guru Apa Badut Sih? 

1. Tertawa keras saat sholat

Kisahnya pertama yakni tertawa keras ketika sholat. Dikisahkan pada suatu hari, Syekh Kholil muda sholat berjamaah yang dipimpin oleh kiai di sebuah pesantren tempatnya mencari ilmu. Saat itu Syekh Kholil muda tertawa cukup keras sehingga teman-temannya takut kalau kiai akan marah.

Dugaan itu tidak keliru. Selesai sholat, sang kiai menegur Syekh Kholil muda dengan sikapnya yang tertawa keras sewaktu sholat. Sebab, hal tersebut tentu saja dilarang dalam ajaran agama Islam.

Namun, Syekh Kholil muda masih terus tertawa meskipun kiai sangat marah. Akhirnya, Syekh Kholil menjawab bahwa ketika sholat berjamaah berlangsung, dia melihat sebuah berkat atau sejenis wadah nasi waktu kenduri di atas kepala sang kiai.

Mendengar jawaban itu, sang kiai sadar dan merasa malu atas sholat yang ia pimpin karena sang kiai ingat bahwa selama sholat berlangsung dia merasa tergesa-gesa untuk menghadiri kenduri sehingga mengakibatkan sholatnya tidak khusyuk.

Baca juga: Alami Kejenuhan saat Berhubungan Suami Istri? Ustadz Khalid Basalamah Beri Solusinya 

2. Debat kepiting dan rajungan

Pada suatu hari, para ulama Makkah berkumpul di Masjidil Haram untuk berdiskusi membahas masalah dan hukum Islam yang sedang terjadi. Semua persoalan didiskusikan tanpa hambatan dan selalu mendapat solusi serta kesepakatan semua ulama.

Namun pada masalah mengenai halal atau haramnya kepiting dan rajungan, terjadi banyak pendapat dan tidak menemukan solusi. Pada waktu itu Syekh Kholil berada di antara peserta diskusi. Melihat jalan buntu, ia lalu minta izin menawarkan solusi untuk masalah tersebut.

Akhirnya, Syekh Kholil dipersilakan naik ke mimbar oleh pimpinan diskusi. Setelah tiba di atas mimbar, Syekh Kholil berkata, "Saudara sekalian ketidaksepakatan kita dalam menentukan hukum kepiting dan rajungan ini menurut saya disebabkan saudara sekalian belum melihat secara pasti wujud kepiting dan rajungan." Semua ulama yang hadir dalam diskusi tersebut menyetujui keterangan Syekh Kholil.

Dia lalu berkata lagi, "Saudara sekalian adapun wujud kepiting seperti ini." Katanya sambil memegang kepiting yang masih basah. "Sedangkan yang rajungan seperti ini," sambungnya lagi sambil memegang rajungan yang masih basah.

Melihat itu, peserta yang hadir merasa terpana, suasana menjadi gaduh karena keanehan tersebut. Mereka heran dan bingung dari mana Syekh Kholil mendapatkan kepiting dan rajungan dengan sekejap mata. Alhasil setelah kejadian tersebut, Syekh Kholil menjadi ulama yang disegani di antara ulama Masjidil Haram.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

3. Ke Makkah naik kerocok

Pada suatu sore di pinggir pantai daerah Bangkalan, Syekh Kholil ditemani oleh Kiai Syamsul Arifin, salah seorang murid dan sahabatnya. Mereka membicarakan urusan pesantren dan persoalan umat. Tanpa terasa, waktu sudah berlangsung lama dan matahari hampir terbenam. Tiba-tiba Kiai Syamsul berkata, "Kita belum Sholat Ashar, kiai." Syekh Kholil pun langsung beristigfar menyadari kekhilafannya.

Kiai Syamsul berkata lagi, "Waktu Ashar hampir habis, kita tidak mungkin sholat secara sempurna." Akhirnya Syekh Kholil meminta Kiai Syamsul mengambil kerocok, sejenis daun aren yang bisa mengapung di atas air, untuk dipakai ke Makkah. Setelah mendapatkan kerocok, Syekh Kholil menatap ke Makkah dan tiba-tiba kerocok yang ditumpanginya melesat dengan cepat ke arah Makkah. Sesampainya di Makkah, azan Sholat Ashar baru saja dikumandangkan dan mereka mendapatkan shaf pertama Sholat Ashar berjamaah di Masjidil haram.

Baca juga: Jadi Mualaf, Influencer Sheikha Golani Sembuh dari Sakit saat Pertama Kali Sholat 

Baca juga: Bupati Langkat Ditangkap KPK, Ini Pandangan Islam terkait Korupsi 

4. Membelah diri

Kisah karomah lain dari Syekh Kholil adalah kemampuannya membelah diri. Artinya, Syekh Kholil dikenal dengan kemampuannya bisa berada di beberapa tempat dalam waktu bersamaan. Suatu waktu pernah ada peristiwa aneh saat dia mengajar di pesantren. Ketika sedang mengajar, Syekh Kholil melakukan sesuatu yang tidak terpantau mata dan tiba-tiba baju dan sarung beliau basah kuyup.

Kejadian ini pun sontak membuat para santri heran. Keheranan dan teka-teki itu akhirnya baru terjawab setengah bulan kemudian ketika ada seorang nelayan mengunjungi Syekh Kholil. Nelayan itu mengucapkan terima kasih karena saat perahunya pecah di tengah laut, Syekh Kholil langsung datang dan menolongnya.

Wallahu a'lam bishawab.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini