Share

Hukum Menukar Uang untuk Idul Fitri 2022

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Senin 25 April 2022 12:41 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 25 330 2584792 hukum-menukar-uang-untuk-idul-fitri-2022-CWKWUBk9eC.jpg Ilustrasi hukum menukar uang untuk Idul Fitri 2022. (Foto: Dede Kurniawan/Okezone)

HUKUM menukar uang untuk Idul Fitri 2022 menurut agama Islam wajib diketahui setiap Muslim. Diketahui bahwa pada akhir bulan Ramadan atau menjelang Lebaran biasanya banyak orang menawarkan jasa penukaran uang di tepi jalan maupun tempat-tempat tertentu.

Bagi mereka yang membutuhkan, penyedia jasa penukaran uang ini dianggap sangat membantu sehingga pelanggan tidak perlu lagi repot-repot mengantri di bank. Namun dalam perkembangannya, praktik penukaran uang ini ternyata menimbulkan polemik di tengah masyarakat.

Baca juga: Hal-Hal Makruh dalam Berpuasa, Nomor 10 Harus Dihindari agar Pahala Tidak Berkurangย 

Menurut dai muda Ustadz Najmi Fathoni, praktik jasa penukuran uang sangat erat kaitannya dengan hukum riba. Terlebih lagi jika sang penyedia jasa sengaja melebihkan uang yang ditukarkan oleh konsumen.

"Melebihkan tarif uang yang ditukar itu jelas tidak boleh. Misalnya ada yang tukar uang Rp1 juta tapi sang penyedia jasa meminta bayaran Rp1,1 juta. Ini jelas hukumnya riba karena bentuk bendanya sama. Sama-sama uang," tegas Ustadz Najmi Fathoni saat dihubungi Okezone beberapa waktu lalu.

Lain halnya bila seseorang meminta tolong kepada penyedia jasa untuk menukarkan uang mereka, dan setelah selesai ia memberikan sejumlah uang sebagai bentuk rasa terima kasih. Hal tersebut justru lebih baik karena uang "tambahannya" dipisahkan dari akadnya.

Sebagaimana dijelaskan dalam keterangan dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu โ€˜anhu, Nabi Muhammad Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda:

ุงู„ุฐู‘ูŽู‡ูŽุจู ุจูุงู„ุฐู‘ูŽู‡ูŽุจู ูˆูŽุงู„ู’ููุถู‘ูŽุฉู ุจูุงู„ู’ููุถู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุจูุฑู‘ู ุจูุงู„ู’ุจูุฑู‘ู ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽุนููŠุฑู ุจูุงู„ุดู‘ูŽุนููŠุฑู ูˆูŽุงู„ุชู‘ูŽู…ู’ุฑู ุจูุงู„ุชู‘ูŽู…ู’ุฑู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูู„ู’ุญู ุจูุงู„ู’ู…ูู„ู’ุญู ู…ูุซู’ู„ุงู‹ ุจูู…ูุซู’ู„ู ูŠูŽุฏู‹ุง ุจููŠูŽุฏู ููŽู…ูŽู†ู’ ุฒูŽุงุฏูŽ ุฃูŽูˆู ุงุณู’ุชูŽุฒูŽุงุฏูŽ ููŽู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุฑู’ุจูŽู‰ ุงู„ุขุฎูุฐู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุนู’ุทูู‰ ูููŠู‡ู ุณูŽูˆูŽุงุกูŒ

"Jika emas ditukar dengan emas, perak ditukar dengan perak, gandum ditukar dengan gandum, syaโ€™ir (gandum kasar) ditukar dengan syaโ€™ir, kurma ditukar dengan kurma, dan garam ditukar dengan garam, takaran atau timbangan harus sama dan dibayar tunai. Siapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah melakukan transaksi riba. Baik yang mengambil maupun yang memberinya sama-sama berada dalam dosa." (HR Ahmad nomor 11466 dan Muslim 4148)

Baca juga: 7 Fakta Felixia Yeap Mantan Bintang Playboy Masuk Islam, Nomor 5 Keputusan Sangat Beratย 

Sementara dikutip dari nu.or.id, praktik penukaran uang dapat dilihat dari dua sudut. Kalau yang dilihat dari praktik penukaran uang itu (ma'qud 'alaih) adalah uangnya, maka penukaran uang dengan kelebihan jumlah tertentu jelas haram karena praktik ini terbilang kategori riba.

Tetapi kalau yang dilihat dari praktik penukaran uang ini (ma'qud 'alaih) adalah jasa orang yang menyediakan jasa, maka praktik penukaran uang dengan kelebihan tertentu mubah menurut syariat karena praktik ini terbilang kategori ijarah.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Ijarah sebenarnya adalah sejenis jual-beli juga, hanya saja produknya adalah berupa jasa, bukan barang. Karena ijarah adalah sejenis jual beli, maka ia bukan termasuk kategori riba sebagai keterangan kitab Fathul Mujibil Qarib berikut ini:

ูˆุงู„ุฅุฌุงุฑุฉ ููŠ ุงู„ุญู‚ูŠู‚ุฉ ุจูŠุน ุฅู„ุง ุฃู†ู‡ุง ู‚ุงุจู„ุฉ ู„ู„ุชุฃู‚ูŠุช ูˆุฃู† ุงู„ู…ุจูŠุน ููŠู‡ุง ู„ูŠุณุช ุนูŠู†ุง ู…ู† ุงู„ุฃุนูŠุงู† ุจู„ ู…ู†ูุนุฉ ู…ู† ุงู„ู…ู†ุงูุน ุฅู…ุง ู…ู†ูุนุฉ ุนูŠู† ูˆุฅู…ุง ู…ู†ูุนุฉ ุนู…ู„

"Ijarah (sewa) sebenarnya adalah jual-beli, hanya bedanya ijarah menerima pembatasan tempo. Produk pada ijarah bukan pada barang, tetapi manfaat (jasa) dari sebuah barang atau jasa dari sebuah tenaga (aktivitas)." (Lihat KH Afifuddin Muhajir, Fathul Mujibil Qarib, [Situbondo, Maktabatul Asโ€˜adiyyah: 2014 M/1434 H], cetakan pertama, halaman 123)

Baca juga: Humor Abu Nawas: Kejar Maling yang Lari ke Arah Barat, Cegat dari Timur Saja!ย 

Perbedaan orang dalam memandang masalah ini muncul karena perbedaan mereka dalam memandang titik akad penukaran uang itu sendiri (ma'qud 'alaih). Sebagian orang memandang uang sebagai barang yang dipertukarkan. Sementara sebagian orang memandang jasa orang yang menyediakan jasa penukaran.

Tetapi terkadang barang itu sendiri mengikut sebagai konsekuensi atas akad jasa tersebut sebagai keterangan Nihayatuz Zein berikut ini:

ูˆู‚ุฏ ุชู‚ุน ุงู„ุนูŠู† ุชุจุนุง ูƒู…ุง ุฅุฐุง ุงุณุชุฃุฌุฑ ุงู…ุฑุฃุฉ ู„ู„ุฅุฑุถุงุน ูุฅู†ู‡ ุฌุงุฆุฒ ู„ูˆุฑูˆุฏ ุงู„ู†ุต ูˆุงู„ุฃุตุญ ุฃู† ุงู„ู…ุนู‚ูˆุฏ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู‚ูŠุงู… ุจุฃู…ุฑ ุงู„ุตุจูŠ ู…ู† ูˆุถุนู‡ ููŠ ุญุฌุฑ ุงู„ุฑุถูŠุน ูˆุชู„ู‚ูŠู…ู‡ ุงู„ุซุฏูŠ ูˆุนุตุฑู‡ ุจู‚ุฏุฑ ุงู„ุญุงุฌุฉ ูˆุฐู„ูƒ ู‡ูˆ ุงู„ูุนู„ ูˆุงู„ู„ุจู† ูŠุณุชุญู‚ ุชุจุนุง

"Barang terkadang mengikut sebagaimana bila seseorang menyewa seorang perempuan untuk menyusui anaknya, maka itu boleh berdasarkan nash Alquran. Yang paling shahih, titik akadnya terletak pada aktivitas mengasuh balita tersebut oleh seorang perempuan yang meletakannya di pangkuannya, menyuapinya dengan susu, dan memerahnya sesuai kebutuhan. Titik akadnya (ma'qud 'alaih) terletak pada aktivitas si perempuan. Sementara asi menjadi hak balita sebagai konsekuensi dari aktivitas pengasuhan." (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zein, [Bandung, PT Al-Maarif: tanpa catatan tahun], halaman 259)

Baca juga: Hukum Mimpi Basah saat Puasa Ramadan, Bikin Batal atau Tidak?ย 

Tarif yang harus dibayarkan pada penukaran uang di pinggir jalan adalah jasanya, bukan pada barangnya, yaitu uang. Pembayaran tarif pada jasa itu sendiri disebutkan dalam Alquran perihal perempuan sebagai penyedia jasa asi, bukan jual-beli asi seperti keterangan berikut ini:

ู‚ุงู„ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: ููŽุฅูู†ู’ ุฃูŽุฑู’ุถูŽุนู’ู†ูŽ ู„ูŽูƒูู…ู’ ููŽุขุชููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ุฃูุฌููˆุฑูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ุนู„ู‚ ุงู„ุฃุฌุฑุฉ ุจูุนู„ ุงู„ุฅุฑุถุงุน ู„ุง ุจุงู„ู„ุจู†

"Allah berfirman, โ€˜Bila mereka telah menyusui anakmu, maka berikan upah kepada mereka,' (QS At-Thalaq: 6). Allah mengaitkan upah di situ dengan aktivitas menyusui, bukan pada asinya.โ€ (Lihat Abu Bakar Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, [Beirut, Darul Fikr: 1994 M/1414 H], juz I, halaman 249)

Wallahu a'lam bishawab.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini