Share

Kisah Masyitah Tukang Sisir Anak Firaun Rela Mati demi Pertahankan Keimanan sebagai Muslim

Novie Fauziah, Jurnalis · Sabtu 10 September 2022 07:27 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 10 614 2664653 kisah-masyitah-tukang-sisir-anak-firaun-rela-mati-demi-pertahankan-keimanan-sebagai-muslim-yXGrIQ8mXM.jpg Ilustrasi kisah keimanan Masyitah tukang sisir anak Firaun. (Foto: Istimewa/Muslim.or.id)

SEJARAH mencatat Firaun dikenal sebagai raja atau penguasa yang kejam. Ia semena-mena terhadap orang lain, bahkan sampai menganggap dirinya Tuhan. Masyitah, tukang sisir anak-anak Firaun ini juga kena getahnya. Ia dipanggang hidup-hidup setelah gigih mempertahankan keimanannya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

Dikutip dari nu.or.id, kisah Masyitah sangatlah terkenal dan tertuang dalam salah satu riwayat hadis. Di dalamnya menceritakan keteguhan seorang wanita yang bertugas menjadi pelayan Firaun. Tapi pada akhirnya harus tewas di tangan tuannya sendiri akibat keangkuhan sang raja zalim tersebut.

Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam bersabda:

โ€ุนูŽู†ู โ€โ€ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง โ€โ€ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู โ€โ€ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ: (โ€ โ€ู„ูŽู…ู‘ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ู‘ูŽุชููŠ โ€โ€ุฃูุณู’ุฑููŠูŽ โ€โ€ุจููŠ ูููŠู‡ูŽุง ุฃูŽุชูŽุชู’ ุนูŽู„ูŽูŠู‘ูŽ ุฑูŽุงุฆูุญูŽุฉูŒ ุทูŽูŠู‘ูุจูŽุฉูŒ ููŽู‚ูู„ู’ุชู: ูŠูŽุง โ€ุฌูุจู’ุฑููŠู„ูโ€ ู…ูŽุง ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ุฑู‘ูŽุงุฆูุญูŽุฉู ุงู„ุทู‘ูŽูŠู‘ูุจูŽุฉูุŸ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ู‡ูŽุฐูู‡ู ุฑูŽุงุฆูุญูŽุฉู โ€โ€ู…ูŽุงุดูุทูŽุฉู ุงุจู’ู†ูŽุฉู ููุฑู’ุนูŽูˆู’ู†ูŽ โ€โ€ูˆูŽุฃูŽูˆู’ู„ุงุฏูู‡ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู‚ูู„ู’ุชู: ูˆูŽู…ูŽุง ุดูŽุฃู’ู†ูู‡ูŽุง ุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุจูŽูŠู’ู†ูŽุง ู‡ููŠูŽ ุชูู…ูŽุดู‘ูุทู ุงุจู’ู†ูŽุฉูŽ โ€โ€ููุฑู’ุนูŽูˆู’ู†ูŽ โ€โ€ุฐูŽุงุชูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู ุฅูุฐู’ ุณูŽู‚ูŽุทูŽุชู’ โ€โ€ุงู„ู’ู…ูุฏู’ุฑูŽู‰ โ€โ€ู…ูู†ู’ ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู‡ูŽุง ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ : ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ู„ูŽู‡ูŽุง ุงุจู’ู†ูŽุฉู โ€ โ€ููุฑู’ุนูŽูˆู’ู†ูŽโ€ โ€ุฃูŽุจููŠุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: ู„ุง ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ุฑูŽุจู‘ููŠ ูˆูŽุฑูŽุจู‘ู ุฃูŽุจููŠูƒู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: ุฃูุฎู’ุจูุฑูู‡ู โ€โ€ุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ! ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ : ู†ูŽุนูŽู…ู’ ููŽุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽุชู’ู‡ู ููŽุฏูŽุนูŽุงู‡ูŽุง ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ูŠูŽุง ููู„ุงู†ูŽุฉู ุ› ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ู„ูŽูƒู ุฑูŽุจู‘ู‹ุง ุบูŽูŠู’ุฑููŠ ุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: ู†ูŽุนูŽู…ู’ ุ› ุฑูŽุจู‘ููŠ ูˆูŽุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽุฃูŽู…ูŽุฑูŽ ุจูุจูŽู‚ูŽุฑูŽุฉู ู…ูู†ู’ ู†ูุญูŽุงุณู ููŽุฃูุญู’ู…ููŠูŽุชู’ ุซูู…ู‘ูŽ ุฃูŽู…ูŽุฑูŽ ุจูู‡ูŽุง ุฃูŽู†ู’โ€ โ€ุชูู„ู’ู‚ูŽู‰ ู‡ููŠูŽ ูˆูŽุฃูŽูˆู’ู„ุงุฏูู‡ูŽุง ูููŠู‡ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ู„ูŽู‡ู : ุฅูู†ู‘ูŽ ู„ููŠ ุฅูู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุญูŽุงุฌูŽุฉู‹ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ูˆูŽู…ูŽุง ุญูŽุงุฌูŽุชููƒูุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: ุฃูุญูุจู‘ู ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุฌู’ู…ูŽุนูŽ ุนูุธูŽุงู…ููŠ ูˆูŽุนูุธูŽุงู…ูŽ ูˆูŽู„ูŽุฏููŠ ูููŠ ุซูŽูˆู’ุจู ูˆูŽุงุญูุฏู ูˆูŽุชูŽุฏู’ููู†ูŽู†ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ : ุฐูŽู„ููƒูŽ ู„ูŽูƒู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุญูŽู‚ู‘ู ู‚ูŽุงู„ูŽ: ููŽุฃูŽู…ูŽุฑูŽ ุจูุฃูŽูˆู’ู„ุงุฏูู‡ูŽุง ููŽุฃูู„ู’ู‚ููˆุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูˆูŽุงุญูุฏู‹ุง ูˆูŽุงุญูุฏู‹ุง ุฅูู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ุงู†ู’ุชูŽู‡ูŽู‰ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุตูŽุจููŠู‘ู ู„ูŽู‡ูŽุง ู…ูุฑู’ุถูŽุนู ูˆูŽูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ุชูŽู‚ูŽุงุนูŽุณูŽุชู’ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุฌู’ู„ูู‡ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ูŠูŽุง โ€โ€ุฃูู…ู‘ูŽู‡ู’ุ›โ€ โ€ุงู‚ู’ุชูŽุญูู…ููŠ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุนูŽุฐูŽุงุจูŽ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ุฃูŽู‡ู’ูˆูŽู†ู ู…ูู†ู’ ุนูŽุฐูŽุงุจู ุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽุฉู ููŽุงู‚ู’ุชูŽุญูŽู…ูŽุชู’). โ€โ€ู‚ูŽุงู„ูŽ โ€โ€ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง: โ€ุชูŽูƒูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนูŽุฉู ุตูุบูŽุงุฑู: โ€โ€ุนููŠุณูŽู‰ ุงุจู’ู†ู ู…ูŽุฑู’ูŠูŽู…ูŽ โ€โ€ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงู…โ€ โ€ูˆูŽุตูŽุงุญูุจู โ€ุฌูุฑูŽูŠู’ุฌูโ€ โ€ูˆูŽุดูŽุงู‡ูุฏู โ€โ€ูŠููˆุณูููŽ โ€ูˆูŽุงุจู’ู†ู โ€ู…ูŽุงุดูุทูŽุฉู ุงุจู’ู†ูŽุฉู ููุฑู’ุนูŽูˆู’ู†ูŽ . ุฃุฎุฑุฌู‡ ุงู„ุฅู…ุงู… ุฃุญู…ุฏ ููŠ โ€ ุงู„ู…ุณู†ุฏ โ€ (1/309) ุŒ ูˆุงู„ุทุจุฑุงู†ูŠ (12280) ุŒ ูˆุงุจู† ุญุจุงู† (2903) ุŒ ูˆุงู„ุญุงูƒู… (2/496) .

Artinya: "Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam bersabda, 'Ketika malam diisrakannya aku (tiba-tiba) ada aroma wangi yang mendatangiku.' Lalu aku bertanya, 'Wahai Jibril, aroma wangi apa ini?' Ia pun menjawab, 'Ini adalah aroma (wangi) wanita tukang sisir putrinya Firaun dan anak-anaknya.' Aku bertanya, 'Apa kelakuannya?' Jibril menjawab, 'Ketika suatu hari ia sedang menyisir rambut putrinya Firaun, tiba-tiba sisirnya jatuh dari tangannya. Lalu ia berkata Bismillah (dengan nama Allah).' Lalu putri Firaun (dengan terheran-heran yang baru pertama kali mendengar kata Allah) berkata kepadanya, '(Apakah Allah itu) ayahku?' 'Tidak, tetapi Tuhanku dan Tuhan ayahmu adalah Allah.' (mendengar jawaban itu) putri Firaun pun berkata, 'Aku akan memberitahukannya kepada ayahku.' 'Silahkan,' jawabnya tenang. Lalu setelah dikabarkan kepada Firaun, dipanggil wanita tukang sisir tersebut. 'Wahai fulana/wanita, apakah engkau memiliki Tuhan selain Aku?' 'Iya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.' Lalu ia memerintahkan dibawakan sebuah patung sapi yang terbuat dari tembaga, lalu dipanaskan. Lalu Firaun memerintahkannya beserta anak-anaknya agar melompat ke dalamnya.' Wanita tukang sisir itu pun berkata, 'Aku punya satu keperluan kepadamu.' Firaun berkata, 'Apa keperluanmu?' 'Aku ingin agar engkau mengumpulkan tulang-tulangku dan tulang anakku ke dalam satu kain, lalu engkau mengubur kami.' 'Itu hakmu atas kami.' Lalu Firaun memerintahkan untuk melemparkan anak-anaknya di hadapan wanita tukang sisir itu satu per satu hingga tinggal anaknya yang masih menyusu. Ia amat terpukul dengan keadaan anaknya tersebut (yang harus ikut dipanggang hidup-hidup). (Tiba-tiba) anak kecil itu berkata, 'Wahai ibuku tabahlah, sesungguhnya azab dunia lebih ringan daripada azab akhirat.' Maka ia pun tabah. Ibnu Abbas berkata, 'Ada empat anak kecil yang bisa berbicara: Isa bin Maryam, temannya Juraij, saksinya Yusuf, dan putra tukang sisir putrinya Firaun." (HR Ahmad, At-Thabrani, Ibnu Hibban, dan Al Hakim)ย 

Lantas mengapa Firaun begitu marah kepada Masyitah? Ternyata secara diam-diam Masyitah mengikuti ajaran Nabi Musa Alaihissallam. Dia memilih beriman kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dan menyangkal Firaun adalah Tuhan.

Suatu hari Masyitah akan menyisir rambut putri Firaun. Namun sebelum ia melakukannya, secara spontan dirinya mengucapkan kata Bismillah. Lalu sang putri pun mendengarnya dan heran, mengapa pelayannya itu menyebut nama Allah Subhanahu wa ta'ala ketika akan merapikan rambutnya.ย 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Tidak tinggal diam, sang putri pun langsung mengadukan hal tersebut kepada ayahnya. Mendengar penjelasan sang putri, Firaun kemudian marah besar dan langsung memanggil Masyitah datang ke hadapannya.

Ketika Masyitah hadir, Firaun langsung menginterogasinya dan dipaksa mengaku kalau sudah mengikuti ajaran Nabi Musa dan Harun Alaihissallam.

"Hai Masyitah, kudengar dari putriku, kau dan seluruh keluargamu telah mengikuti ajaran Musa dan Harun! Benarkah berita itu?" tanya Firaun.

"Benar! Aku dan seluruh keluargaku telah menjadi pengikut Musa. Ketahuilah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah! Termasuk dirimu!" terang Masyitah.

Mendengar hal itu, Firaun menjadi murka. "Baiklah, kalau kau tetap pada pendirianmu. Kamu dan keluargamu akan dimasukkan ke kuali itu," kata Firaun sambil menunjuk ke sebuah kuali besar berisi air mendidih.

"Azab Allah di akhirat lebih aku takutkan, daripada hukumanmu," jawab Masyitah.

Ternyata ancaman Firaun tidak bukanlah omong kosong. Satu per satu keluarga Masyitah mulai dimasukkan ke kuali. Sampai akhirnya giliran anaknya yang masih bayi. Kala itu iman Masyitah mulai diuji dengan rasa sayang seorang ibu.

Akan tetapi keajaiban terjadi, bayi Masyitah tiba-tiba dapat berbicara. "Wahai Ibu! Janganlah engkau ragu. Sesungguhnya engkau di jalan yang benar. kelak kita akan berkumpul lagi di dalam surga Allah yang penuh kenikmatan."ย 

Mendengar perkataan tersebut, tanpa ragu lagi Masyitah pun terjun bersama bayinya. Ia pasrah dan percaya bahwa semua ini adalah ketetapan Allah Subhanahu wa ta'ala, kemudian dia dan seluruh keluarganya mati syahid.

Keshalihahan Masyitah pun sampai tercium aromanya oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam. Ketika beliau melakukan Isra Miraj ditemani oleh Malaikat Jibril.

Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bertanya, "Wahai Jibril , aroma wangi apa ini?"

Jibril menjawab, "Ini adalah aroma Masyithah, penyisir rambut keluarga Firaun beserta anak-anaknya."

Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bertanya, "Bagaimana ceritanya?"

Kemudian Jibril mengisahkan kepada Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam sebagaimana cerita tersebut.

Wallahu a'lam bisshawab.ย 

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini