Share

Pakai Tumpukan Batu, Abu Nawas Ambil Balik Kebunnya yang Dicuri Abu Jahal

Fini Nola Rachmawati, Jurnalis · Sabtu 15 Oktober 2022 06:35 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 14 614 2687263 pakai-tumpukan-batu-abu-nawas-ambil-balik-kebunnya-yang-dicuri-abu-jahal-oDTSjYV9Va.jpg Ilustrasi cerita lucu Abu Nawas dan Abu Jahal rebutan kebun. (Foto: YouTube Juha Official)

DIKISAHKAN Abu Nawas mempunyai tetangga yang licik yang bernama Abu Jahal. Abu Jahal mempunyai kebun yang ditanami berbagai macam buah-buahan.

Kebun Abu Jahal ini berdekatan dengan kebun milik Abu Nawas. Kebun milik Abu Nawas hanya dibatasi tumpukan batu, sedangkan Abu Jahal berkeinginan menambah luas area kebunnya.

Abu Jahal berpikir keras agar keinginannya terwujud. Hal ini sampai membuat dia susah tidur. Kemudian terlintas jahatnya di benaknya.

"Aku harus melakukannya sekarang, mumpung waktunya sudah malam," pikir Abu Jahal, dikutip dari kanal YouTube Juha Official, Sabtu (15/10/2022).

BACA JUGA:Cerita Lucu Abu Nawas Bikin Hujan Turun Pakai Bajunya yang Bau 

Di tengah malam gelap gulita, Abu Jahal langsung pergi menuju kebun miliknya. Ia mencari pembatas tumpukan batu yang menjadi pemisah antara kebunnya dan kebun milik Abu Nawas.

Setelah menemukannya, Abu Jahal mulai mengangkat satu per satu batunya lalu memindahkan ke area kebun milik Abu Nawas. Dengan begitu luas kebun milik Abu Jahal menjadi bertambah luas. 

Ilustrasi cerita lucu Abu Nawas dan Abu Jahal rebutan kebun. (Foto: YouTube Juha Official)

Setelah selesai, dia kembali pulang ke rumahnya dengan sembunyi-sembunyi. Dia senang dengan apa yang dilakukannya.

Selama beberapa hari Abu Nawas tidak menyadari dengan perbuatan Abu Jahal. Abu Nawas masih santai menanam buah-buahan di area yang telah dicuri Abu Jahal.

BACA JUGA:Cerita Lucu Abu Nawas Santap Makanan Lezat Sampai Cuekin Cerita Raja 

Seiring berjalannya waktu, buah yang ditanami Abu Nawas kini berbuah. Buahnya besar-besar dan segar. Melihat hal itu, Abu Jahal merasa senang. Ia pun segera memanen tanaman buah tersebut.

Berapa lama kemudian datanglah Abu Nawas. Dia sangat terkejut melihat Abu Jahal memanen tanaman buah miliknya.

"Apa yang kamu lakukan?" tanya Abu Nawas heran.

"Aku sedang memanen buah yang ada di kebunku," jawab Abu Jahal dengan sangat enteng. 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Follow Berita Okezone di Google News

"Apa kau bilang? Ini masih area kebunku, Abu Jahal," balas Abu Nawas.

"Hei, Abu Nawas, kamu mengigau ya? Coba kau lihat batu pembatasnya," jawab Abu Jahal.

Abu Nawas terdiam. "Kenapa tumpukan batunya bisa pindah ya atau aku yang kurang teliti?" pikirnya.

"Tapi kan buah itu aku yang menanamnya, Abu Jahal," ucap Abu Nawas.

"Itu sih salahmu sendiri kenapa menanam buah di area kebunku, berarti ini adalah milikku," sahut Abu Jahal.

"Kurang ajar, ini pasti ada yang tidak beres," kata Abu Nawas dalam hati.

"Hey, Abu Jahal, kamu pasti memindahkan tumpukan batu itu kan?" tanya Abu Nawas geram.

"Jangan fitnah kamu! Aku bisa mengadukannya kepada Tuan Hakim," balas Abu Jahal.

"Ayo kita selesaikan masalah ini di depan Tuan Hakim," timpal Abu Nawas.

Mereka pun menghadap Tuan Hakim. Di hadapan Tuan Hakim, Abu Nawas dan Abu Jahal saling mengadukan masalahnya.

"Jujur saja aku sangat bingung siapa di antara kalian yang benar, tapi sepertinya aku lebih memercayai Abu Jahal," kata Tuan Hakim.

"Kenapa Tuan Hakim begitu mudah memutuskan hal ini? Anda kan Hakim yang terkenal bijak, harusnya lebih berhati-hati dalam memutuskan," balas Abu Nawas.

"Sudahlah, Abu Nawas, terima saja keputusan hakim. Toh area kebunmu masih juga luas," ucap Abu Jahal.

"Enak saja kamu bicara. Kamu telah mencuri lahanku. Kamu sengaja memindahkan tumpukan batu yang menjadi pembatas," bentak Abu Nawas.

"Aku harap kalian berdua diam. Apa yang akan aku putuskan tidak bisa diganggu gugat dan keputusanku adalah tanah yang kamu tanami buah adalah milik Abu Jahal," kata Tuan hakim.

Mendengar hal itu, Abu Jahal merasa sangat senang. "Terima kasih Tuan Hakim. Anda adalah hakim yang paling bijak yang pernah saya kenal," ucapnya.

Sementara Abu Nawas hanya bisa pasrah menerima keputusan tersebut.

"Asyik sekarang aku punya kebun lebih luas dari Abu Nawas," ungkap Abu Jahal dalam hati kegirangan.

"Oh iya, Abu Jahal, berapa luas kebunmu?" tanya Tuan Hakim.

"Luasnya 1,5 hektare Tuan Hakim," jawab Abu Jahal.

"Kalau kamu Abu Nawas, berapa luas kebunmu?" tanya Tuan Hakim kembali.

"Sebenarnya luas kebunku 1,5 hektare, tapi karena setengahnya dicuri sama Abu Jahal, luasnya jadi tinggal 1 hektare," jawab Abu Nawas. 

"Kalian tahu tidak kenapa aku tanya luas kebun kalian, karena kemarin aku dapat surat langsung dari Baginda Raja, beliau memerintahkan kepadaku: Barang siapa mempunyai kebun yang luasnya lebih dari 1 hektar maka akan disita negara beserta isi-isinya, dan bagi siapa saja yang menentang peraturan ini akan dihukum mati. Hal ini Baginda Raja terpaksa lakukan karena kondisi keuangan negara sedang krisis," jelas Hakim.

Raut wajah Abu Jahal yang tadinya ceria mendadak berubah menjadi terkejut. "Waduh celaka, aku akan kehilangan kebunku," pikir dia ketakutan.

"Maaf Tuan Hakim, sebenarnya luas kebunku hanya 1 hektare," tutur Abu Jahal.

"Tadi kamu bilang katanya luas kebunmu 1,5 hektare, sekarang bilangnya 1 hektare, kamu jangan main-main Abu Jahal," bentak Tuan Hakim.

"Aku berani bersumpah Tuan Hakim, kebunku memang luasnya hanya 1 hektare, tumpukan batu yang jadi pembatas antara kebunku dan kebun milik Abu Nawas telah aku pindah dari tempatnya," ujar Abu Jahal.

"Oh begitu, jadi tanah yang ditanami buah oleh Abu Nawas sebenarnya masih area kebun dia?" tanya Tuan Hakim memastikan.

"Benar Tuan Hakim," jawab Abu Jahal.

"Bagaimana denganmu Abu Nawas, apakah benar luas kebunmu 1,5 hektare?" tanya Tuan Hakim kepada Abu Nawas.

"Benar Tuan Hakim," jawab Abu Nawas pasrah.

"Nah kalau begini kan jelas siapa yang sebenarnya berbohong. Pengawal, tangkap Abu Jahal dan masukkan ke penjara, karena telah mencuri kebun milik Abu Nawas," perintah Tuan Hakim.

"Tapi Tuan Hakim, kebunku tidak diciptakan?" tanya Abu Jahal khawatir.

"Tidak ada yang namanya penyitaan. Itu hanya trik saja supaya bisa menyelesaikan perkara kalian berdua dengan adil," balas Tuan Hakim.

Mendengar hal itu, Abu Jahal langsung terkulai lemas. Sementara Abu Nawas tersenyum bahagia karena bisa mendapat kembali luas kebunnya.

Wallahu a'lam bisshawab

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini