4. Menyeru jamaah dengan panggilan "Ash-sholatu jaamiah" dan tidak ada azan maupun iqamah
Dari Aisyah Radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan:
أنَّ الشَّمس خَسَفَتْ عَلَى عَهْدِ رَسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَبَعَثَ مُنَادياً يُنَادِي: الصلاَةَ جَامِعَة، فَاجتَمَعُوا. وَتَقَدَّمَ فَكَبرَّ وَصلَّى أربَعَ رَكَعَاتٍ في ركعَتَين وَأربعَ سَجَدَاتٍ.
"Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk memanggil jamaah dengan: 'ASH-SHOLATU JAAMIAH' (mari kita lakukan sholat berjamaah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali rukuk dan empat kali sujud dalam dua rakaat." (HR Muslim nomor 901).
Dalam hadits ini tidak diperintahkan mengumandangkan azan dan iqamah. Jadi, azan dan iqamah tidak ada dalam sholat gerhana.
5. Berkhotbah setelah sholat gerhana
Disunnahkah setelah sholat gerhana untuk berkhotbah, sebagaimana yang dipilih oleh Imam Asy Syafii, Ishaq, dan banyak sahabat (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1/435).
Khotbah yang dilakukan adalah sekali sebagaimana sholat id, bukan dua kali khotbah. Inilah pendapat yang benar sebagaimana dipilih oleh Imam Asy Syafii. (Lihat Syarhul Mumthi’, 2/433)
Demikian pembahasan mengenai 5 amalan yang bisa dilakukan ketika gerhana bulan penumbra pada 5–6 Mei 2023 di Indonesia. Wallahu a'lam bisshawab.
(Hantoro)