Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Khutbah Jumat: Bulan Safar dan Momentum Menghargai Waktu

Rahman Asmardika , Jurnalis-Jum'at, 31 Juli 2026 |09:15 WIB
Khutbah Jumat: Bulan Safar dan Momentum Menghargai Waktu
Ilustrasi.
A
A
A

Nabi Muhammad SAW bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وَفِرَّ مِنْ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنْ الْأَسَدِ

Artinya: “Tidak ada penularan penyakit dengan sendirinya, tidak ada kesialan, tidak ada anggapan sial dengan burung hantu, tidak ada anggapan sial bulan Safar, dan menjauhlah dari orang yang kena penyakit kusta sebagaimana kamu menjauh dari singa.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa Safar adalah bulan biasa sebagaimana bulan-bulan lainnya. Sehingga tidak dibenarkan jika ada yang mempercayai adanya kesialan di dalam bulan Safar. Dan karena itu, sepatutnya seorang muslim mengisi bulan ini dengan berbagai amal kebaikan. Tidak perlu khawatir hal buruk menimpa kita, jika kita senantiasa bersandar kepada Allah SWT.

Jika kita membuka lembaran sejarah, kita akan menemukan bagaimana Nabi menganggap bulan Safar sama dengan bulan-bulan lainnya. Itulah mengapa kita ketahui dalam sejarah, bahwa pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Sayyidah Khadijah terjadi di bulan Safar. Selain itu, Nabi juga menggelar pernikahan putrinya, Sayyidah Fatimah, yang dinikahkan dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib di bulan Safar.

Tidak hanya soal pernikahan, Nabi SAW juga memulai perjalanan hijrahnya di bulan Safar. Begitu juga, beberapa peperangan terjadi di bulan Safar, seperti penaklukan Khaibar dan Perang Abwa.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat At-Taubah ayat 36—yang membicarakan tentang bilangan bulan dalam satu tahun, menjelaskan bahwa nama Safar terkait dengan aktivitas masyarakat Arab terdahulu. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa penamaan ini diambil dari kata “shafara” yang berarti kosong.

صَفَرْ: سُمِيَ بِذَلِكَ لِخُلُوِّ بُيُوْتِهِمْ مِنْهُمْ، حِيْنَ يَخْرُجُوْنَ لِلْقِتَالِ وَالْأَسْفَارِ

 Artinya: “Safar dinamakan dengan nama tersebut, karena sepinya rumah-rumah mereka dari mereka, ketika mereka keluar untuk perang dan bepergian.”

Pada bulan Safar ini, perkampungan Arab dan kota Makkah biasa ditinggalkan penduduknya untuk  bepergian dan berperang. Masyarakat Arab keluar meninggalkan rumah mereka dalam keadaan kosong untuk melakukan perjalanan jauh, berdagang, atau berperang karena bulan-bulan sebelumnya (terutama Muharram) termasuk bulan suci yang melarang peperangan.

 

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement