Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Khutbah Jumat: Bulan Safar dan Momentum Menghargai Waktu

Rahman Asmardika , Jurnalis-Jum'at, 31 Juli 2026 |09:15 WIB
Khutbah Jumat: Bulan Safar dan Momentum Menghargai Waktu
Ilustrasi.
A
A
A

Sayangnya, betapa sering kita tertipu. Saat sehat dan punya waktu luang, kita merasa hidup masih sangat panjang. Kita menghabiskannya untuk hal-hal yang sia-sia, menunda-nunda ketaatan, dan asyik terbuai dengan dunia. Padahal, waktu adalah satu-satunya modal yang jika sudah berlalu, tidak akan pernah bisa ditarik kembali, walau ditebus dengan harta sepenuh bumi.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Di era modern ini, ujian menyia-nyiakan waktu menjadi sangat luar biasa. Kemajuan teknologi sering kali melenakan kita. Berapa banyak waktu yang kita buang sekadar untuk berselancar di media sosial, melihat kehidupan orang lain yang tidak ada manfaatnya bagi akhirat kita?

Berapa banyak waktu luang di malam hari yang dihabiskan untuk nongkrong, berdebat kusir, atau membicarakan aib orang lain, sementara mushaf Alquran di rumah kita berdebu karena tak pernah disentuh?

Kita sering beralasan “tidak ada waktu” untuk shalat berjamaah ke masjid, tidak ada waktu untuk ikut majelis ta’lim, tidak ada waktu untuk membaca satu lembar Alquran sehari. Padahal bukan waktunya yang tidak ada, melainkan hati kita yang terlalu sibuk mencintai dunia sehingga ketaatan kepada Allah tidak lagi menjadi prioritas.

Para sahabat pernah mendapati Nabi Muhammad SAW tidur di atas tikar, kemudian beliau bangun dan tikar itu membekas di rusuk Beliau. Lalu mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami membuat kasur yang lembut?” Menanggapi tawaran tersebut, lantas beliau bersabda:

مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Artinya: “Apa urusanku dengan dunia. Aku di dunia ini tidak lain seperti seorang penunggang kendaraan yang berteduh di bawah sebuah pohon, lalu pergi meningalkannya.” (HR Tirmidzi)

Lihatlah, Nabi mengibaratkan hidup di dunia sekedar sebagai orang yang melintas di jalan, berhenti sejenak untuk istirahat, lalu melanjutkan perjalanan. Maka, mestinya seorang musafir tahu dia tidak akan tinggal lama, dia hanya membawa bekal secukupnya dan fokusnya adalah tujuan akhir, bukan tempat singgah.

 

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement