Waktu yang kita miliki adalah amanah dari Allah yang harus dipertanggungjawabkan.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَ أَبْلَاهُ
Artinya: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya apa yang telah diamalkan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta tentang masa mudanya untuk apa digunakan.” (HR Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa umur dan waktu adalah hal yang akan dihisab di akhirat. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan setiap detik yang Allah berikan dengan sebaik-baiknya.
Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Mengapa waktu begitu penting?
Jawabannya sudah jelas, bahwa waktu tidak dapat dikembalikan. Waktu adalah sumber daya yang tidak bisa diulang atau dikembalikan. Ketika waktu berlalu, ia tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu, setiap momen harus dimanfaatkan dengan bijak.
Sahabat Nabi, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:
إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ المَسَاءَ. وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
Artinya: “Jika kamu memasuki sore hari, maka jangan menunggu pagi hari. Jika kamu memasuki pagi hari, maka jangan menunggu sore hari. Manfaatkanlah sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu.”
Dalam sebuah hadis shahih riwayat Imam Al-Bukhari, Rasulullah SAW memberikan sebuah peringatan yang sangat menampar kesadaran kita. Beliau bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Artinya: “Ada dua kenikmatan yang membuat banyak manusia tertipu (merugi) di dalamnya, yaitu: kesehatan dan waktu luang.” (HR Bukhari)
Kata maghbun dalam hadis ini merujuk pada kerugian dalam sebuah transaksi perdagangan. Mengapa diibaratkan demikian? Karena sejatinya, setiap hari kita sedang “berdagang” dengan Allah. Dan modal utama kita dalam perdagangan ini bukanlah uang, bukanlah emas, melainkan waktu dan usia kita.