Dalam semua perkara cabang, Islam membuka lebar ruang bagi dilakukannya ijtihad. Memilih sistem politik dan ekonomi diperbolehkan dengan pertimbangan kemaslahatan. Tidak ada bentuk baku yang harus diikuti karena Rasulullah SAW tidak pernah bersabda: “Berpolitiklah kalian seperti kalian melihatku berpolitik” atau “Berekonomilah kalian seperti kalian melihatku berniaga.”
Rasulullah memberikan panduan moral, bentuknya boleh kita improvisasi. Mau khilâfah atau negara-bangsa, yang terpenting menghasilkan kemaslahatan. Mau kapitalisme atau sosialisme atau jalan ketiga, yang penting melahirkan kesejahteraan rakyat. Ruang untuk dilakukannya perbaikan terus menerus terhadap sistem yang tidak baku itu terbuka lebar.
Sebagai khalifatullah, manusia dibekali akal sehingga bisa menghasilkan respons ilmiah terhadap fenemena alam. Akal dibimbing agama, ilmu dilambari iman. Dalam hikayat kejatuhan Nabi Adam as, kelebihan Adam terhadap Malaikat karena ilmu tidak menyelamatkannya dari gangguan iblis sehingga tergelincir dari surga. Adam melakukan dosa yang bersumber dari kejahatan perut, yaitu makan buah dari pohon terlarang.
Pelanggaran yang dilakukan Adam dan Hawa membuat keduanya telanjang dan kemudian berusaha menutupi ketelanjangannya dengan dedaunan surga. Tetapi, Allah mengingatkan bahwa busana terbaik adalah takwa (QS. al-A’râf/7: 26). Dari hikayat kejatuhan Adam ini, anak cucunya disyariatkan berpuasa, agar terhindar dari kejahatan perut dan kejahatan bawah perut.
Alhasil, puasa adalah metode yang disiapkan Allah agar manusia dapat sepenuhnya menjalankan peran sebagai abdullâh maupun khalifatullâh yaitu hamba yang patuh dan loyal sekaligus kreatif dan inovatif.
Oleh M Kholid Syeirazi
Sekretaris Umum PP ISNU
(Muhammad Saifullah )