Puasa Jalan Takwa

, Jurnalis
Rabu 08 Mei 2019 04:01 WIB
Share :

AYAT yang paling sering dikutip dalam mimbar-mimbar Ramadan adalah QS al-Baqarah/2: 83; “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” Ada empat saripati ayat yang ingin disampaikan dalam tulisan pendek ini.

Pertama, Allah menyeru/mengundang orang yang beriman untuk puasa Ramadan dengan kata kerja aktif amanu. Ini menunjukkan bahwa iman, sebagai kata kerja, bersifat aktif dan dinamis, kadang naik kadang turun sebagaimana diungkapkan Nabi saw “al-imanu yazidu wa yanqushu.”

Dengan redaksi ini, seolah Allah ingin mengundang semua orang yang dihatinya ada iman, baik yang sudah kuat atau yang masih lemah, yang teguh atau rapuh, yang tebal atau tipis, dengan seruan yang mengandung unsur kemesraan (ya ayyuha).

Kedua, jika terhadap objek yang diseru/diperintah Allah menggunakan kata kerja aktif, isi perintah itu sendiri dinyatakan dengan kata kerja pasif yaitu kutiba alaikum (dituliskan, ditetapkan, dan diwajibkan atas kamu).

Kenapa dalam perintah puasa Allah tidak menggunakan amar yang lugas dan tegas seperti dalam perintah shalat (aqimis shalata li dzkri), zakat (khudz min amwalihim shadaqatan tuthahhiruhum), dan haji (wa atimmul hajja wal’umrata lillah)?

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya