Puasa Jalan Takwa

, Jurnalis
Rabu 08 Mei 2019 04:01 WIB
Share :

Nabi Musa kemudian diperintahkan berpuasa selama 40 hari dalam setahun, tetapi kelak orang Yahudi hanya puasa dua hari, yang dikenal sebagai ‘Asyura (tanggal 9-10 Muharram), yaitu puasa untuk memperingati dan mensyukuri penyelamatan Tuhan atas bangsa Israel.

Sebelum kewajiban puasa Ramadan ditetapkan Allah pada tahun ke-2 hijriyah, Nabi Muhammad melakukan puasa ayyamil bidz dan puasa ‘Asyura. Menurut Imam Hanafi, puasa Asyura hukumnya wajib sebelum di-nasakh (dibatalkan) oleh kewajiban puasa Ramadhan.

Kedua, ajaran Islam adalah kelanjutan dan penyempurnaan dari ajaran-ajaran Nabi sebelumnya. Allah mewajibkan puasa pada umat Muhammad sebagaimana Allah mewajibkan puasa pada umat sebelumnya. Seolah Allah menyeru, kamu pasti sanggup karena umat-umat terdahulu juga melakukannya.

Keempat, Allah memerintahkan puasa sebagai jalan/metode agar manusia bertakwa (la’allakum tattaqun). Takwa berasal dari kata waqa yaqi wiqayatan yang berarti menjaga atau melindungi. Dari kata ini para ulama mendefinisikan takwa sebagai menjaga diri dari murka Allah dan api neraka dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan (imtisalul awamir wajtinabun nawahi). Dengan puasa, manusia akan lebih terjaga dan terlindungi dari jalan setan yang selalu berusaha menyesatkan manusia dari jalan Tuhan.

Dalam kitab ihya ‘ulumiddin, pada bab Kasrus Syahawat, Imam Ghazali menyebut bahwa kejahatan yang dilakukan pertama kali oleh manusia bersumber dari syahwatul bathn (syahwat perut). Syahwat ini mendorong Adam dan Hawa memakan buah khuldi. Dari syahwat perut kemudian turun ke syahwat farji (kemaluan) yang membuat aurat Adam dan Hawa kemudian tersingkap dan akhirnya diusir dari surga.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya