Lebaran menjadi momen di mana umat Islam kembali suci. Terlebih ketika di Idulfitri, semua orang menghaturkan permintaan maaf sebagai upaya kembali fitrah.
Tradisi ini menjadi keharusan di Idulfitri. Anda akan dihadapkan pada momen memberi dan meminta maaf sekali pun pada orang yang kurang Anda kenal. Tentunya pada orangtua dan sanak saudara.
Tapi, apakah Anda tahu itu permintaan maaf yang tulus atau bukan?
Mengenai hal tersebut, Okezone coba menanyakannya pada Psikolog Meity Arianty. Dalam penjelasannya, maaf adalah kata sederhana yang memiliki makna dalam buat yang meminta pun penerimanya dan kata itu seharusnya diucapkan saat melakukan kesalahan.
Namun, untuk momen Lebaran kata memohon maaf identik dengan membersihkan diri di hari yang fitri di mana kita merasa kemarin-kemarin mungkin atau benar-benar sadar melakukan kesalahan dan lupa atau belum sempat minta maaf.
"Nah, ajang Idulfitri dijadikan momen untuk meminta maaf pada orang-orang yang kita kenal," paparnya melalui pesan singkat, Rabu (29/5/2019).
Meity melanjutkan, kenapa pada orang terdekat? Karena biasanya kita melakukan kesalahan baik disengaja atau tidak kepada orang-orang yang kita kenal atau pernah berinteraksi dengan kita.
Lalu, bagaimana membedakan orang tulus meminta maaf dengan mereka yang tidak? Psikolog yang biasa disapa Mei itu menjawab, sebenarnya ini bisa panjang penjabarannya, karena banyak hal yang dapat dilihat dan rasakan.
"Namun, menurut hemat saya, kita nggak perlu fokus pada apakah orang tersebut itu tulus meminta maaf atau tidak, karena seharusnya kita fokus pada diri kita sendiri, apakah kita benar-benar tulus memaafkan? Karena yang sulit itu bukan meminta maaf tapi memaafkan," ungkapnya.
Dia coba menganalogikan kasus ini dengan contoh sebagai berikut:
Bayangkan Anda harus menerima maaf seseorang yang telah menyakiti Anda, membuat Anda sedih, menghancurkan Anda, atau karena hal lain. Dengan mengingat momen tersebut saja tentu membuat Anda sedih atau kesal, dan ini tidak mudah. Sebab, ada ego yang ikut campur di sana.
Pertanyaan lanjutannya ialah apakah orang tersebut layak dimaafkan? Mempertanyakan hal seperti ini adalah gangguan emosi negatif dan perlu dibenahi.
Ketika Anda mempertanyakan hal tersebut, maka Anda mesti masuk ke dalam diri dan sampaikan ke diri Anda kalau Anda layak bahagia dengan melepaskan beban kemarahan dan kebencian.
"Anda harus sadar, saat Anda menyimpan kemarahan dan kebencian atau rasa sakit hati, itu diibaratkan Anda membawa pisau kemana-mana yang setiap saat dapat menyakiti diri Anda," tegas Mei.
Jadi, kembali kepada kata maaf, Mei percaya apa yang Anda berikan, maka akan berbalik ke diri Anda sendiri. Konsep karma itu benar ada di kehidupan ini. Sehingga saat Anda menerima maaf seseorang, maka di saat yang bersamaan, Anda membuat diri Anda bahagia.
"Karena ada keikhlasan di dalamnya dan rasa ikhlas itulah yang membuat diri Anda bahagia. Saya juga percaya, ketika keikhlasan hati untuk memaafkan itu ada, maka Anda membuang energi negatif dan ini yang membuat Anda lebih positif dari sebelumnya," tambah Mei.
(Utami Evi Riyani)