Suatu ketika, Rasulullah mendengar berita bahwa al-Hârits ibn Dharar pimpinan Bani Mushtaliq, menghimpun siapa saja yang kuat di antara kaumnya maupun seluruh bangsa Arab untuk menyerang Rasulullah SAW. Karena itu, Nabi Muhammad mengirim Buraidah ibn Khashib untuk mencari tahu hal itu dan mengintai sejauh mana persiapan mereka untuk berperang.
Buraidah segera meninggalkan Madinah menuju Bani Mushtaliq. Mereka adalah bagian dari Bani Khuza'ah yang memiliki suatu mata air dikenal dengan nama al-muraisi. Mata air itu terletak di sudut Qadid, tempat berdirinya berhala Manat, Tuhan suku Aus dan Khazraj, sebelum Allah melimpahkan cahaya iman ke dalam hati mereka dan Tuhan suku Khuzaah yang bertahan dengan agama mereka.
Buraidah bisa melihat situasi Bani Mushtaliq dan seberapa besar pasukan vang telah berkumpul untuk menyerang Rasulullah SAW. Mereka dipimpin oleh Panglima al-Hârits ibn Abi Dharar.
Buraidah segera menghadap Rasulullah SAW untuk memberitahukan tentang persiapan Bani Mushtaliq yang hendak menyerang. Karena itu, Rasulullah memerintahkan agar menyiapkan pasukan dan persenjataan. Setelah itu, Rasulullah SAW keluar untuk menyambut Bani Mushtaliq dengan didampingi oleh salah satu istrinya: Aisyah binti Abu Bakar.
Rasulullah bertemu dengan Bani Mushtaliq di al-Muraisi' lalu terjadilah peperangan yang berakhir dengan kekalahan Bani Mushtaliq.
Unta dan domba-domba mereka digiring. Para wanita mereka tertawan, dan salah satu wanita yang menjadi tawanan adalah Barrah binti Harits ibn Abi Dharar, pimpinan dan junjungan kaum Bani Mushtaliq.