Ummu Jamil, Hammalat al-Hathab, adalah wanita yang berada di balik pemulangan para putri Rasulullah ini. Tidak hanya sampai di sini, ia juga terus bekerja menemanisuaminya, Abu Lahab, untuk menyakiti Rasulullah dengan berbagai cara yang bisa ditempuh demi memadamkan cahaya agama Islam. Hal itu terus berlangsung sampai akhirnya Allah SWT menurunkan surat yang berkaitan dengan ummu Jamil dan suaminya. Allah menurunkan sebuah surat dalam Alquran:
"Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak ia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut." (QS. Al-Lahab: 1-5)
Ibnu Ishaq mengatakan, "Aku mendengar bahwa Ummu Jamil, si wanita pembawa kayu bakar itu, saat mendengar ayat Alquran yang turun tentang dirinya dan suaminya, ia datangi Rasulullah yang sedang duduk di Masjidil Haram di dekat Kakbah, bersama Abu Bakar ash-Shiddiq. Ummu Jamil datang dengan membawa segenggam batu. Ketika ia berdiri di dekat Rasulullah dan Abu Bakar, Allah membuatnya tidak bisa melihat Rasulullah hingga ia hanya melihat Abu Bakar. Ia berkata: 'Wahai Abu Bakar, di manakah temanmu? Aku mendengar bahwa ia telah menghardikku. Demi Allah, jika menjumpainya, aku akan menyumpal mulutnya dengan batu ini. Demi Allah, aku adalah seorang penyair.' Setelah itu, Ummu Jamil melantunkan syair:
"Sejak kapan kami durhaka
Kami menolak perintahnya
Terhadap agamanya kami membenci."
Setelah itu, ia pun pergi dan Abu Bakar bertanya kepada Rasulullah: 'Wahai Rasulullah, apakah ia tidak melihatmu?' Rasulullah menjawab: 'Allah telah membuatnya sama sekali tidak bisa melihatku'."
Bagi keluarga Rasulullah yang jujur dan beriman, ujian dan cobaan di jalan Allah itu hanya semakin meningkatkan ketabahan dan keteguhan mereka.
Sejak masa-masa awal bi'tsah (pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai rasul), Rasulullah telah mengatakan kepada Khadijah, istrinya, "Waktu istirahat telah lewat wahai Khadijah."
Sayyidah Khadijah pun mengerti yang dimaksud oleh kalimat Rasulullah ini. la pun meneguhkan hati untuk selalu berdiri di samping sang suami, Nabi yang mulia.
Khadijah selalu menguatkan Rasulullah dan meringankan beban yang beliau hadapi hingga hilanglah duka yang beliau rasakan.
Kedua putri Khadijah, Ruqayyah dan Ummu Kultsum, juga mengerti apa yang sedang dikerjakan oleh kedua orangtua mereka. Mereka tahu sejauh mana penderitaan yang dihadapi oleh keluarga Muhammad akibat berbagai bentuk penindasan, gangguan, dan siksaan yang diperbuat oleh kaum dan sanak keluarganya.
Si wanita pembawa kayu bakar dan suaminya, Abu Lahab telah salah mengira, demikian pula dengan seluruh kaum Quraisy.
Rasulullah tidaklah menderita karena dipulangkannya kedua putri beliau. Perceraian mereka tidaklah menyusahkan bagi beliau karena Allah justru telah menyelamatkan mereka dari ujian untuk hidup bersama dua putra Abu Lahab dan istrinya, si wanita pembawa kayu bakar yang jahat.