Mengenal Ruqayyah, Putri Rasulullah yang Melakukan Dua Kali Hijrah

Suherni, Jurnalis
Selasa 10 Desember 2019 11:59 WIB
Menyeberangi padang pasir (Foto: Okezone)
Share :

Tidak lama kemudian, datanglah orang untuk melamar putri Rasulullah SAW, Ruqayyah. Orang yang lebih baik dan lebih mulia daripada kedua putra si musuh Allah dan musuh Islam, Abu Lahab.

Ia adalah seorang laki-laki saleh dan mulia. Salah satu pemuda Quraisy dari keturunan yang paling terhormat. Salah satu dari delapan orang yang paling awal masuk Islam dan salah satu dari sepuluh orang yang diberi kabar gembira akan masuk surga.

Ia adalah Utsman ibn Affan ibn Abi al-'Ash ibn Umayah ibn Abdi al-'Ash ibn Umayah ibn Abdi Syams. Dari jalur ayah, Utsman ibn Affan bertemu nasab dengan Rasulullah s.a.w pada Abdi Manaf ibn Qushay. Adapun dari jalur ibu, ia bertemu nasab dengan Rasulullah pada Abdul Muththalib ibn Hasyim karena neneknya dari pihak ibu adalah al-Baidha' Ummu Hakim binti Abdul Muththalib, kakek Rasulullah.

Tentang Utsman, Abdullah ibn Mas'ud mengatakan, "Utsman adalah orang yang paling rajin menyambung tali silaturahmi di antara kami. Ia adalah salah seorang yang beriman, bertakwa, dan selalu mengerjakan kebaikan. Sesungguhnya, Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."

Di samping memiliki nasab yang terhormat dan memiliki sifat-sifat yang baik sebagaimana dikatakan orang tentang dirinya, Utsman adalah orang yang berwajah cerah, berbudi pekerti mulia, hartawan, dan sempurna secara fisik.

Ketika Utsman ibn Affan mendatangi kediaman Rasulullah untuk menjadi menantu beliau dengan menikahi putri Ruqayyah binti Rasulullah, beliau pun menerima dan menikahkan Utsman dengan putrinya.

Beliau memberkahi mereka dalam pernikahan yang berbahagia itu. Ada yang mengatakan bahwa tidak pernah ada pasangan suami istri yang lebih sempurna dan lebih menyenangkan dibandingkan dengan mereka. Dalam pernikahan itu pun, para wanita melantunkan bait-bait syair yang paling indah:

"Pasangan terbaik yang pernah dilihat manusia adalah Ruqayyah dan suaminya, Utsman."

Reaksi kaum musyrikin terhadap pernikahan ini adalah dengan semakin keras dalam menindas dan menyiksa setiap orang yang memeluk Islam, bahkan termasuk kepada Rasulullah.

Namun, semua cara yang digunakan oleh kaum Quraisy itu sama sekali tidak menggoyahkan kesabaran kaum muslimin yang beriman kepada agama kebenaran dan agama hidayah itu. Tidak ada sesuatu pun yang mampu membuat mereka meninggalkan agama ini.

Bahkan, sampai-sampai setiap kabilah berusaha. menerkam setiap kaum muslimin yang ada di tengah mereka.

Para kafir itu menawan dan menyiksa kaum muslimin dengan memukul, membuat mereka kelaparan dan kehausan, serta dengan menjemur mereka di bawah terik matahari Makkah yang sangat panas saat itu.

Semua itu mereka lakukan agar kaum muslimin mau meninggalkan agama mereka. Namun mereka lebih memilih mati daripada murtad.

Ketika Rasulullah melihat siksaan yang diderita oleh para sahabat semakin berat, beliau bersabda, "Jika kalian pergi ke tanah Habasyah, kalian akan bertemu dengan seorang raja yang di sisinya tidak seorang pun mendapat kezaliman. Negeri itu adalah tanah persahabatan hingga Allah memberikan jalan keluar dari apa yang kalian alami."

Utsman ibn Affan adalah orang pertama melakukan hijrah menuju Habasyah ditemani sang istri, Ruqayyah, yang baru beberapa saat ia nikahi.

Hijrah ke negeri Habasyah itu diikuti oleh beberapa orang Quraisy yang telah mendapat cahaya dengan agama lslam. Beberapa waktu kemudian, Rasulullah berusaha mencari tahu tentang kabar putri beliau Ruqayyah dan suaminya Utsman ibn Affan di negeri hijrah pertama ini.

Akhirnya, datanglah seorang wanita yang mengabarkan kepada beliau bahwa dirinya pernah melihat Ruqayyah dan suaminya, Utsman ibn Affan, di negeri Habasyah.

Rasulullah pun berdoa, "Semoga Allah menganugerahi mereka berdua. Sesungguhnya, Utsman adalah orang pertama yang hijrah bersama istrinya."

Di negeri Habasyah, Ruqayyah dan Utsman dikarunia seorang putra yang diberi nama Abdullah ibn Utsman. Bagi keduanya, kehadiran seorang putra yang saleh di tengah keluarga kecil nan bahagia itu merupakan hadiah dan anugerah terbesar dari Allah SWT. Sang putra itu pun ikut bersama mereka saat kembali ke tanah air, Makkah al-Mukarramah.

Kini Ruqayyah dan suaminya beserta orang-orang yang ikut bersama mereka dalam hijrah itu sedang dalam perjalanan kembali kepada Rasulullah. Hal itu terjadi setelah mereka mendengar kabar tentang warga Quraisy dan para tokohnya yang pergi menyusul mereka, serta kabar berkurangnya siksaan terhadap mereka yang memeluk Islam.

Saat menggambarkan situasi kepulangan Ruqayyah ke tempat tinggal Doktor Aisyah Abdurrahman mengatakan, "Ruqayyah telah kembali ke rumah ayahnya dengan penuh kerinduan dan susah payah. Kedua saudarinya, Ummu Kultsum dan Fathimah, sangat gembira bertemu denganya. Mereka merangkul dan mendekap Ruqayyah dengan air mata yang mengalir meski telah berusaha untuk menahan diri. Ruqayyah melepaskan diri dari rangkulan mereka dan bertanya dengan penuh rasa penasaran: "Di manakah ayahku, di manakah ibuku?"

Mereka pun menjawab: Ayahmu baik-baik saja. Beliau sedang keluar untuk menemui mereka yang baru saja pulang bersamamu dari tanah hijrah di Habasyah.' Namun, bibir mereka bergetar dan menyembunyikan ratapan.

Ruqayyah kembali bertanya dengan hati yang mulai khawatir: 'Ibuku, di manakah ibuku?'

Ummu Kultsum menunduk dan diam tanpa menjawab sepatah kata pun. Adapun Fathimah meninggalkan ruangan sambil menangis. Saat itulah, Ruqayyah berhenti bertanya. la berjalan gontai menuju kamar almarhumah ibunya. la pun terbaring di atas ranjang dengan pandangan kosong dan hampa.

Sampai akhirnya, datanglah sang ayah, Rasulullah SAW, yang segera mencairkan kebekuan jiwa Ruqayyah dengan pertemuan yang hangat. Dengan sangat simpatik, Rasulullah menyingkirkan batu-batu kepedihan yang menyesakkan dada putrinya itu.

Air mata kesedihan dan duka mengalir deras dari kedua matanya lalu ia mendekap dada yang mulia dan lapang itu. Ruqayyah kembali menjadi tenang dan sabar.

Datanglah sang suami, Utsman ibn Affan, mengusap air mata Ruqayyah saat air mata itu membasahi jiwanya yang mengalir dalam hati karena kepergian sang ibu, Khadijah junjungan seluruh wanita Quraisy.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya