Rasulullah mengizinkan keluarga dan para sahabatnya untuk hijrah ke Madinah al-Munawwarah. Salah satu Muhajirin yang paling awal melakukan hijrah adalah Utsman ibn Affan dan istrinya Ruqayyah binti Rasulullah.
Mereka berharap mendapat kehidupan yang lebih baik, bahagia, dan tenang hingga hari-harinya mampu diisi dengan ibadah, baik untuk dunia maupun akhirat.
Hari-hari pertama saat mereka berada di Madinah al-Munawwarah merupakan hari yang penuh kebahagiaan dan ketenangan. Mereka hidup bersama putra tercinta, Abdullah ibn Utsman. Keluarga mereka diselimuti oleh cinta dan kebahagiaan ketika Rasulullah datang sambil menggendong putra mereka dengan penuh kelembutan dan kasih sayang disertai untaian senyum yang menenteramkan hati. Kebahagiaan beliau menimbulkan kebahagiaan bagi seluruh kaum Muhajirin maupun Anshar.
Namur kebahagiaan itu segera sirna saat sang anak tercinta Abdullah ibn Utsman jatuh sakit hingga kemudian meninggal dunia dalam usia enam tahun. Ruqayyah kembali mengalami sedihnya perpisahan sesudah kepergian sang ibu.
la pun menyirami bumi dengan air mata karena merasakan pahitnya duka atas kematian yang begitu menekan jiwanya. Kondisinya itu pada akhirnya menyebabkan Ruqayyah jatuh sakit dan menderita demam yang cukup tinggi.
Pada saat yang sama Rasulullah menyeru kaum Mukminin untuk berjihad di jalan Allah dalam Perang Badar. Orang Pertama yang memenuhi seruan itu adalah Utsman ibn Affan, tetapi Rasulullah menunjuknya menggantikan beliau di Madinah al-Munawwarah, mendampingi sang istri, Ruqayyah, agar bisa merawatnya selama sakit.
Utsman ibn Affan tetap berada di samping istrnya tercinta yang sakitnya semakin parah dan mulai dibayang-bayangi oleh kematian. Utsman memandangi wajah Ruqayyah yang layu dan pucat.
Ketenangan pun hilang dari hatinya, berganti dengan kesedihan yang menyelimuti segenap jiwanya. Napas terengah yang dihirup oleh Ruqayyah dengan susah payah, meski samar-samar, menunjukkan dengan gamblang akan tanda-tanda kematiannya.
la telah menapaki jalan yang sama dengan jalan yang dilewati oleh sang ibu, Ummul Mukminin Khadijah ra, sebelumnya. Jalan menuju keabadian di dalam kerajaan Allah, Tuhan seluruh alam.
Sang suami tercinta yang setia mendampinginya tidak bisa melihat dengan jelas sang istri karena terhalang oleh air mata. Saat itu Ruqayyah sedang menghadapi sakratulmaul untuk menghadap Tuhan Yang Maha Mulia. Begitu suara kaum Muslimin yang pulang dari Perang Badar terdengar menggema di angkasa mengumandangkan kalimat, "Allahu Akbar", pertanda bahwa kemenangan telah berhasil diraih, nyawa Ruqayyah binti Rasulullah itu telah sampai waktunya untuk mengucapkan salam perpisahan pada dunia yang fana ini, berjalan menuju alam akhirat yang penuh keabadian.
Semoga Allah SWT merahmati Ruqayyah nan suci dan diridhai. Wanita yang mengalami dua kali hijrah, putri Rasulullah. Semoga Allah tinggikan kedudukannya dalam naungan rahmat-Nya.
Kisah ini diambil dari Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam, karya Dr. Bassam Muhammad Hamami.
(Dyah Ratna Meta Novia)